Kemana Menghilangnya Likwiditas (Uang Kertas)?
Bank-bank dan lembaga keuangan besar berjatuhan. Rata-rata karena kesulitan likwiditas. Kemana hilangnya uang kertas?
Oleh: Muhaimin Iqbal *
Ini adalah pertanyaan awam yang muncul hampir di seluruh dunia sekarang menyangkut banyaknya bank-bank dan lembaga keuangan besar yang berjatuhan. Bank-bank dan lembaga keuangan tersebut berjatuhan rata-rata adalah karena kesulitan likwiditas.
Mengapa kesulitan likwiditas ini berlaku serentak ? bukankah namanya likwiditas seharusnya menyerupi sifat air (liquid = cairan ) yaitu kalau tidak ada di suatu tempat (bank) mestinya mengalir ketempat (bank) lain ?, kenapa krisis likwiditas selalu serentak/bersamaan...?.
Logika awamnya memang demikian, tetapi bukan logika awam ini yang berlaku di dunia perbankan dan keuangan global.
Mayoritas likwiditas dunia perbankan adalah bukan dari uang seperti yang kita kenal uang kertas dan uang logam , tetapi dari uang bank yang dihasilkan melalui suatu proses penciptaan uang (money creation) nan canggih dalam sebuah system perbankan yang disebut Fractional Reserve Banking.
Berikut illustrasinya :
Asumsikan Anda punya uang Rp 1 Milyar dan Anda taruh di Bank A, maka sebagai contoh di Indonesia Bank A hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 50 juta. Selebihnya Rp 950 juta oleh Bank A dapat dipinjamkan ke Bank B. Karena bank B juga hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 47.5 juta, maka dari uang pinjaman tersebut bank B dapat meminjamkan lagi ke Bank C sebesar 95%nya tau Rp 902.5 juta. Bank C kemudian meminjamkannya lagi ke Bank D, D ke E dst-dst.
Secara teoritis uang yang tadinya hanya Rp 1 Milyar melalui Fractional Reserve Banking dengan minimum reserve 5 % berpotensi menghasilkan likwiditas berupa uang bank yang besarnya 20 kali lipat atau Rp 20 Milyar.
Dampak sebaliknya juga terjadi, bila Rp 1 Milyar uang Anda tersebut Anda tarik dari Bank A – maka seluruh system perbankan berpotensi kehilangan likwiditas bukan hanya Rp 1 Milyar melainkan Rp 20 Milyar uang bank yang tercipta melalui system perbankan yang ‘brilliant’ yang disebut Fractional Reserve Banking tersebut !.
Bayangkan kalau banyak orang yang mempunyai uang seperti Anda menarik uangnya rame-rame dari perbankan, pastilah bank yang sekuat apapun akan collapse.
Jadi yang terjadi dalam krisis likwiditas global sekarang bukan karena likwiditas mengalir dari satu tempat ke tempat lain – seperti mengalirnya air, melainkan likwiditas yang tadinya memang tidak ada atau hanya ‘semu’ kembali menjadi tidak ada.
Selama system perbankan mengadopsi system Fractional Reserve Banking maka kebangkrutan satu bank akan selalu menyeret seluruh industri perbankan. Atas alasan ini negara-negara di dunia selalu mati-matian menyelamatkan Bank yang lagi bermasalah, karena kalau tidak diselamatkan dampak yang lebih buruk akan terjadi.
Inilah bedanya system keuangan perbankan ribawi dengan system Dinar. Dalam system keuangan ribawi – perbankan selalu menjadi awal musibah atau penyebab dalam setiap krisis; ingat krisis di Indonesia 97/98 dan juga krisis di Amerika saat ini.
Sebaliknya dalam sejarah keuangan berbasis Dinar, Sharf (tempat penukaran uang Dinar di zaman kekhalifahan) sering bertindak menyelamatkan negara dengan memberi pinjaman pada negara pada saat negara mengalami krisis keuangan karena perang dlsb.
Kalau sekarang saya tawarkan system Dinar untuk mengatasi krisis keuangan global yang sedang terjadi....maka para ekonom yang canggih-canggih akan mentertawakan saya; tetapi karena solusi ribawi yang mereka cari just not exist ... maka hanya waktu-lah yang akan membuktikan bahwa ketika kepepet tidak ada solusi lain – manusia akan selalu kembali ke solusi yang fitrah.
Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (QS 31:32).
Penulis Direktur Gerai Dinar. Tulisan ini adalah hasil kerjasama www.geraidinar.com dan www.hidayatullah.com
Selasa, 23 Desember 2008
Kemana Menghilangnya Likwiditas (Uang Kertas)?
Bank-bank dan lembaga keuangan besar berjatuhan. Rata-rata karena kesulitan likwiditas. Kemana hilangnya uang kertas?
Oleh: Muhaimin Iqbal *
Ini adalah pertanyaan awam yang muncul hampir di seluruh dunia sekarang menyangkut banyaknya bank-bank dan lembaga keuangan besar yang berjatuhan. Bank-bank dan lembaga keuangan tersebut berjatuhan rata-rata adalah karena kesulitan likwiditas.
Mengapa kesulitan likwiditas ini berlaku serentak ? bukankah namanya likwiditas seharusnya menyerupi sifat air (liquid = cairan ) yaitu kalau tidak ada di suatu tempat (bank) mestinya mengalir ketempat (bank) lain ?, kenapa krisis likwiditas selalu serentak/bersamaan...?.
Logika awamnya memang demikian, tetapi bukan logika awam ini yang berlaku di dunia perbankan dan keuangan global.
Mayoritas likwiditas dunia perbankan adalah bukan dari uang seperti yang kita kenal uang kertas dan uang logam , tetapi dari uang bank yang dihasilkan melalui suatu proses penciptaan uang (money creation) nan canggih dalam sebuah system perbankan yang disebut Fractional Reserve Banking.
Berikut illustrasinya :
Asumsikan Anda punya uang Rp 1 Milyar dan Anda taruh di Bank A, maka sebagai contoh di Indonesia Bank A hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 50 juta. Selebihnya Rp 950 juta oleh Bank A dapat dipinjamkan ke Bank B. Karena bank B juga hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 47.5 juta, maka dari uang pinjaman tersebut bank B dapat meminjamkan lagi ke Bank C sebesar 95%nya tau Rp 902.5 juta. Bank C kemudian meminjamkannya lagi ke Bank D, D ke E dst-dst.
Secara teoritis uang yang tadinya hanya Rp 1 Milyar melalui Fractional Reserve Banking dengan minimum reserve 5 % berpotensi menghasilkan likwiditas berupa uang bank yang besarnya 20 kali lipat atau Rp 20 Milyar.
Dampak sebaliknya juga terjadi, bila Rp 1 Milyar uang Anda tersebut Anda tarik dari Bank A – maka seluruh system perbankan berpotensi kehilangan likwiditas bukan hanya Rp 1 Milyar melainkan Rp 20 Milyar uang bank yang tercipta melalui system perbankan yang ‘brilliant’ yang disebut Fractional Reserve Banking tersebut !.
Bayangkan kalau banyak orang yang mempunyai uang seperti Anda menarik uangnya rame-rame dari perbankan, pastilah bank yang sekuat apapun akan collapse.
Jadi yang terjadi dalam krisis likwiditas global sekarang bukan karena likwiditas mengalir dari satu tempat ke tempat lain – seperti mengalirnya air, melainkan likwiditas yang tadinya memang tidak ada atau hanya ‘semu’ kembali menjadi tidak ada.
Selama system perbankan mengadopsi system Fractional Reserve Banking maka kebangkrutan satu bank akan selalu menyeret seluruh industri perbankan. Atas alasan ini negara-negara di dunia selalu mati-matian menyelamatkan Bank yang lagi bermasalah, karena kalau tidak diselamatkan dampak yang lebih buruk akan terjadi.
Inilah bedanya system keuangan perbankan ribawi dengan system Dinar. Dalam system keuangan ribawi – perbankan selalu menjadi awal musibah atau penyebab dalam setiap krisis; ingat krisis di Indonesia 97/98 dan juga krisis di Amerika saat ini.
Sebaliknya dalam sejarah keuangan berbasis Dinar, Sharf (tempat penukaran uang Dinar di zaman kekhalifahan) sering bertindak menyelamatkan negara dengan memberi pinjaman pada negara pada saat negara mengalami krisis keuangan karena perang dlsb.
Kalau sekarang saya tawarkan system Dinar untuk mengatasi krisis keuangan global yang sedang terjadi....maka para ekonom yang canggih-canggih akan mentertawakan saya; tetapi karena solusi ribawi yang mereka cari just not exist ... maka hanya waktu-lah yang akan membuktikan bahwa ketika kepepet tidak ada solusi lain – manusia akan selalu kembali ke solusi yang fitrah.
Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (QS 31:32).
Penulis Direktur Gerai Dinar. Tulisan ini adalah hasil kerjasama www.geraidinar.com dan www.hidayatullah.com
Bank-bank dan lembaga keuangan besar berjatuhan. Rata-rata karena kesulitan likwiditas. Kemana hilangnya uang kertas?
Oleh: Muhaimin Iqbal *
Ini adalah pertanyaan awam yang muncul hampir di seluruh dunia sekarang menyangkut banyaknya bank-bank dan lembaga keuangan besar yang berjatuhan. Bank-bank dan lembaga keuangan tersebut berjatuhan rata-rata adalah karena kesulitan likwiditas.
Mengapa kesulitan likwiditas ini berlaku serentak ? bukankah namanya likwiditas seharusnya menyerupi sifat air (liquid = cairan ) yaitu kalau tidak ada di suatu tempat (bank) mestinya mengalir ketempat (bank) lain ?, kenapa krisis likwiditas selalu serentak/bersamaan...?.
Logika awamnya memang demikian, tetapi bukan logika awam ini yang berlaku di dunia perbankan dan keuangan global.
Mayoritas likwiditas dunia perbankan adalah bukan dari uang seperti yang kita kenal uang kertas dan uang logam , tetapi dari uang bank yang dihasilkan melalui suatu proses penciptaan uang (money creation) nan canggih dalam sebuah system perbankan yang disebut Fractional Reserve Banking.
Berikut illustrasinya :
Asumsikan Anda punya uang Rp 1 Milyar dan Anda taruh di Bank A, maka sebagai contoh di Indonesia Bank A hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 50 juta. Selebihnya Rp 950 juta oleh Bank A dapat dipinjamkan ke Bank B. Karena bank B juga hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 47.5 juta, maka dari uang pinjaman tersebut bank B dapat meminjamkan lagi ke Bank C sebesar 95%nya tau Rp 902.5 juta. Bank C kemudian meminjamkannya lagi ke Bank D, D ke E dst-dst.
Secara teoritis uang yang tadinya hanya Rp 1 Milyar melalui Fractional Reserve Banking dengan minimum reserve 5 % berpotensi menghasilkan likwiditas berupa uang bank yang besarnya 20 kali lipat atau Rp 20 Milyar.
Dampak sebaliknya juga terjadi, bila Rp 1 Milyar uang Anda tersebut Anda tarik dari Bank A – maka seluruh system perbankan berpotensi kehilangan likwiditas bukan hanya Rp 1 Milyar melainkan Rp 20 Milyar uang bank yang tercipta melalui system perbankan yang ‘brilliant’ yang disebut Fractional Reserve Banking tersebut !.
Bayangkan kalau banyak orang yang mempunyai uang seperti Anda menarik uangnya rame-rame dari perbankan, pastilah bank yang sekuat apapun akan collapse.
Jadi yang terjadi dalam krisis likwiditas global sekarang bukan karena likwiditas mengalir dari satu tempat ke tempat lain – seperti mengalirnya air, melainkan likwiditas yang tadinya memang tidak ada atau hanya ‘semu’ kembali menjadi tidak ada.
Selama system perbankan mengadopsi system Fractional Reserve Banking maka kebangkrutan satu bank akan selalu menyeret seluruh industri perbankan. Atas alasan ini negara-negara di dunia selalu mati-matian menyelamatkan Bank yang lagi bermasalah, karena kalau tidak diselamatkan dampak yang lebih buruk akan terjadi.
Inilah bedanya system keuangan perbankan ribawi dengan system Dinar. Dalam system keuangan ribawi – perbankan selalu menjadi awal musibah atau penyebab dalam setiap krisis; ingat krisis di Indonesia 97/98 dan juga krisis di Amerika saat ini.
Sebaliknya dalam sejarah keuangan berbasis Dinar, Sharf (tempat penukaran uang Dinar di zaman kekhalifahan) sering bertindak menyelamatkan negara dengan memberi pinjaman pada negara pada saat negara mengalami krisis keuangan karena perang dlsb.
Kalau sekarang saya tawarkan system Dinar untuk mengatasi krisis keuangan global yang sedang terjadi....maka para ekonom yang canggih-canggih akan mentertawakan saya; tetapi karena solusi ribawi yang mereka cari just not exist ... maka hanya waktu-lah yang akan membuktikan bahwa ketika kepepet tidak ada solusi lain – manusia akan selalu kembali ke solusi yang fitrah.
Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (QS 31:32).
Penulis Direktur Gerai Dinar. Tulisan ini adalah hasil kerjasama www.geraidinar.com dan www.hidayatullah.com
Kamis, 18 Desember 2008
BISNIS PROPERTY OPTIMIS

JAKARTA--Walaupun dunia masih menghadapi krisis finansial, namun kelompok pengembang dunia tetap optimistis bahwa penjualan apartemen dan hotel di seluruh dunia masih mempunyai prospek yang sangat cerah di masa mendatang. "Kami sangat menyadari bahwa walaupun suasana keuangan saat ini kurang ideal, kami percaya bahwa keunikan produk-produk kami yang cirinya adalah lokasi yang prima dan branding (merek-red) yang terkenal serta layanan Four Seasons, akan memberi insentif kepada pembeli premum yang selalu aktif di lingkungan pasar mana pun juga," kata CEO Las Vegas Sands Corporation Sheldon Adelson dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa.
Sheldon Adelson mengemukakan hal itu ketika menjelaskan keputusan pemerintah Makao yang menyetujui dipisahkannya Menara Four Seasons apartemen hotel dari komponen kelompok Four Seasons di Cotai Strip lainnya.
Ia mengatakan bahwa pemisahan itu secara hukum akan memungkinkan perusahaan tersebut memindahkan bangunan hotel apartemen menjadi "cooperative holding company" terpisah dan menjual bagian ini selayaknya unit apartemen dijual di kota New York maupun berbagai lokasi internasional lainnya.
Persetujuan pemerintah Makao ini akan melancarkan jalan bagi perusahaan untuk mengelola aliran dana tunai yang dihasilkan oleh "The Shoppes" di Four Seasons yang merupakan mal mewah seluas 200.000 meter persegi yang juga terletak di kelompok Four Seasons. "Rencana bisnis perusahaan adalah selalu mengantisipasi penjualan apartemen-apartemen di kondominium atau kepemilikan bersama, selain mengelola uang tunai dari mal ritel untuk 'deleverage balance sheet' atau memberikan dana tambahan yang dibutuhkan untuk pembangunan di masa mendatang," kata Adelson.
Las Vegas Sands Corporation adalah sebuah perusahaan pengembang tingkat internasional dan operator resor multiguna yang terintegrasi. The Las Vegas berpusat di Nevada, Las Vegas Amerika Serikat yang memiliki dan mengoperasikan berbagai bangunan terkenal seperti The Marina Bay sands di Singapura serta The Venetian Macao Resort-Hotel.
Ia menjelaskan pula bahwa sambil menunggu persetujuan resmi pemerintah Makao, pihaknya telah menerima berbagai pesanan selama beberapa minggu terakhir ini yang mencapai 22 persen atau 65 unit dari proyek tersebut dengan harga rata-rata lebih dari 1700 dolar AS setiap meter persegi. Pesanan ini justru datang dari orang-orang yang tinggal di luar daratan China, Hongkong serta Makao sendiri. Antara/Yto
EKONOMI MIKRO

Mikro tak Terpatahkan
By Republika Contributor
Jumat, 19 Desember 2008 pukul 10:15:00
Font Size A A A
Email EMAIL
Print PRINT
Mikro tak TerpatahkanREPUBLIKA
Sektor usaha mikro, kecil dan menengah mampu bertahan ditengah krisis global
Krisis keuangan global menumbangkan perusahaan-perusahaan raksasa di berbagai negara, dan mengancam perusahaan-perusahaan lainnya yang masih bertahan. Dampak krisis itu pun terasa di Indonesia. Berbagai perusahaan besar mengalami kesulitan likuiditas dan berada di bibir kebangkrutan, bahkan ada bank yang sudah dinyatakan bangkrut.
Kebangkrutan perusahaan-perusahaan besar mengakibatkan terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). ''Di Amerika pada bulan November saja, sudah ada lebih 500 ribu orang yang di-PHK. Bank Dunia malah memperkirakan, di awal tahun depan, ada 20 juta pengangguran,'' ungkap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Palembang, Ahad (14/12.
Namun, di tengah meredupnya bisnis perusahaan-perusahaan besar akibat dampak krisis keuangan global, sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) banyak yang tetap mampu bertahan, bahkan terus berkembang. ''Sektor UMKM tak terpatahkan oleh krisis keuangan global,'' tegas pemilik jaringan bisnis Ayam Bakar Wong Solo (ABWS) Group, Puspo Wardoyo.
Dia menyebukan, ketika banyak bisnis besar berguguran, justru banyak usaha mikro, kecil dan menengah yang malah terus tumbuh dan berkembang. Salah satunya adalah ABWS Group, yang mencakup Ayam Bakar Wong Solo, Mie Jogja Pak Karso, Mie Kocok Bandung, Ayam Penyet Surabaya, Nasi Timbel Mang Uha, Sate Kambing Solo, Mie Ayam Kq 5 dan Steak Kq 5. ''Rata-rata setiap dua sampai tiga minggu sekali kami membuka cabang baru Mie Jogja Pak Karso, Mie Kocok Bandung maupun Ayam Penyet Surabaya,'' tuturnya.
Ia mengatakan, hingga awal Desember 2008, outlet Mie Jogja Pak Karso sudah mencapai 26 cabang, tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. ''Dalam satu tahun ini kami membuka 20 cabang Mie Jogja Pak Karso, dan kami akan terus ekspansi pada tahun depan,'' ujarnya.
Sementara itu, Mie Kocok Bandung yang baru dikembangkan dalam waktu satu tahun saat ini sudah mencapai 18 cabang, tersebar di Jawa dan Sumatera. ''Ayam Penyet Surabaya juga baru kami rintis selama satu tahun dan telah berkembang menjadi 16 cabang, baik di Jawa, Sumatera, maupun Kalimantan,'' paparnya.
Puspo mengemukakan, di era krisis seperti ini bisnis restoran besar dengan investasi miliaran rupiah kurang menjanjikan. ''Peluang terbesar ada di restoran kecil yang investasinya antara Rp 100 juta sampai Rp 150 juta,'' tandasnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, bisnis makanan (restoran) yang punya peluang besar untuk dikembangkan adalah yang mengincar segmen menengah ke bawah; kapasitas usahanya kecil sehingga investasinya juga kecil; dan dekorasinya pun sederhana, sehingga kelas menengah bawah tidak sungkan datang ke sana. ''Saat ini pembeli terbesar, khususnya restoran, adalah masyarakat menengah ke bawah. Mereka kemampuan finansialnya tidak terlalu besar, tapi jumlahnya sangat banyak, puluhan juta orang. Sedangkan masyarakat menengah ke atas, kemampuan finansialnya tinggi, namun jumlahnya relatif sedikit. Selain itu, mereka itu menuntut penyajian tempat maupun standar pelayanan yang tinggi,'' ujarnya.
Daya tahan tinggi
Pemilik Country Donuts, Khoerussalim mengemukakan, UMKM mampu bertahan dalam situasi dan kondisi krisis karena semuanya serba simpel (sederhana). ''Dari dulu, UMKM itu menjadi penyelamat bangsa dan mempunyai daya tahan yang sangat kuat, karena simpel. Produksinya simpel, tenaganya simpel, bisnisnya juga simpel. Dalam bisnis UMKM, yang memproduksi saya, yang memasarkan saya, yang mendistribusikan saya, yang makan hasilnya juga saya,'' paparnya.
Namun, di balik alasan simpel tadi, ada hal substansial yang membuat UMKM mampu terus bertahan, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. ''Karena mereka harus makan. Para pelaku usaha kecil dan mikro itu berbisnis hari ini untuk makan hari ini. Kalau bisnisnya tidak berputar, mereka tidak bisa makan hari ini. Hal itulah yang membuat usaha kecil dan mikro mempunyai daya survive yang tinggi,'' tandasnya.
Khoerussalim menjelaskan, hal itu tidak hanya berlaku di Indonesia. ''Di mana-mana, usaha kecil dan mikro itu sama. Mereka harus bisa bertahan, karena mereka harus makan,'' katanya.
Berbeda halnya dengan perusahaan-perusahaan besar. Para pemiliknya mengembangkan usaha bisnis bukan untuk makan, melainkan untuk eksistensi. ''Karena itu mereka melakukan berbagai hal untuk meningkatkan eksistensi dirinya, antara lain melalui portofolio saham,'' jelasnya.
KEKUATAN EKONOMI BARU DUNIA
judul : CHINDIA: How China and India
Are Revolutionizing Global Business
Editor : Pete Engardio
Penerbit : McGraw Hill, April 2007
Tebal : 384 Halaman
Beberapa tahun terakhir, China dan India (Chindia) telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa sehingga menarik perhatian banyak pihak.
Dalam buku ini Anda akan mengerti model pertumbuhan yang digunakan masing-masing negara, prediksi ke masa yang akan datang, dan tantangan atau masalah yang masih harus dihadapi kedua negara dalam mengembangkan ekonominya.
Dibahas juga dampak pertumbuhan Chindia terhadap keunggulan bersaing negara maju, khususnya AS hingga strategi apa yang dapat dilakukan AS untuk mengatasi dampak akibat pertumbuhan kedua negara tersebut.
China punya kemampuan memobilisasi modal dan tenaga kerjanya dan berhasil meningkatkan pendapatan per kapita sebesar tiga kali dalam satu generasi dan mengurangi kemiskinan bagi 300 juta orang.
Sedangkan India yang mewarisi budaya Inggris berhasil mendirikan pusat-pusat penelitian dan pengembangan yang berpengaruh besar dalam perkembangan inovasi global.
Perusahaan-perusahaan multinasional seperti Google, HP, GM, Boeing, dan lain-lain memiliki pusat riset mereka di India. Beberapa ilmuwan India bahkan menduduki posisi penting di perusahan-perusahaan tersebut.
Dampak pertumbuhan ekonomi kedua negara ini terhadap dunia menjadi signifikan karena terjadi bersamaan. Jika saja keduanya menyatu, Chindia bakal jadi satu kekuatan penting.
India dengan risetnya diprediksi akan menyusul Jerman menjadi negara dengan ekonomi ketiga terbesar di dunia dalam waktu 30 tahun mendatang.
Penulis buku ini mengawali buku ini dengan menjelaskan perbedaan fundamental kedua negara, dalam aspek investasi, kekuatan pasar, kekuatan industri, dan budaya bisnis.
China bertumpu pada investor asing, India swadaya. China membuka bagi investor asing, sedangkan India lebih terbatas karena lebih mengandalkan kekuatan domestik.
Investor asing menyebabkan China memiliki infrastruktur yang modern dan baik, sementara India sangat tertinggal dibandingkan China.
Peran Pemerintah sangat kuat di China, sedangkan India mengandalkan perusahaan swasta. Kuatnya kendali pemerintah terhadap bisnis menyebabkan bisnis di China memerlukan hubungan baik atau koneksi.
Kemampuan manajerial China terbatas, karena sebagian besar pejabat perusahaan negara merupakan birokrat, sedangkan perusahaan swasta dipimpin oleh entrepreneur dengan pengalaman bisnis terbatas.
Dengan membandingkan model yang digunakan kedua negara, penulis memperkirakan India akan memiliki keunggulan yang berkelanjutan dibandingkan China.
Walaupun saat ini kinerja China lebih maju dibandingkan India, tetapi dalam jangka panjang diperkirakan India akan menyusul prestasi China dalam lima tahun mendatang.
China diprediksi sudah akan mencapai puncak pertumbuhan ekonominya (8,8%) dan selanjutnya akan turun sampai 7% pada 2020, dan 4% (2040), sementara India akan meningkat menjadi 7,3% (2010) dan 7% sampai pertengahan 2030.
Jika AS saja begitu memantau Chindia, maka Indonesia tentu harus bersiap-siap jika tidak semua sektor yang terbiasa bermanja-manja bakal kelabakan digulung kekuatan baru ini. Siapkah kita?
Bisnis Indonesia
Are Revolutionizing Global Business
Editor : Pete Engardio
Penerbit : McGraw Hill, April 2007
Tebal : 384 Halaman
Beberapa tahun terakhir, China dan India (Chindia) telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa sehingga menarik perhatian banyak pihak.
Dalam buku ini Anda akan mengerti model pertumbuhan yang digunakan masing-masing negara, prediksi ke masa yang akan datang, dan tantangan atau masalah yang masih harus dihadapi kedua negara dalam mengembangkan ekonominya.
Dibahas juga dampak pertumbuhan Chindia terhadap keunggulan bersaing negara maju, khususnya AS hingga strategi apa yang dapat dilakukan AS untuk mengatasi dampak akibat pertumbuhan kedua negara tersebut.
China punya kemampuan memobilisasi modal dan tenaga kerjanya dan berhasil meningkatkan pendapatan per kapita sebesar tiga kali dalam satu generasi dan mengurangi kemiskinan bagi 300 juta orang.
Sedangkan India yang mewarisi budaya Inggris berhasil mendirikan pusat-pusat penelitian dan pengembangan yang berpengaruh besar dalam perkembangan inovasi global.
Perusahaan-perusahaan multinasional seperti Google, HP, GM, Boeing, dan lain-lain memiliki pusat riset mereka di India. Beberapa ilmuwan India bahkan menduduki posisi penting di perusahan-perusahaan tersebut.
Dampak pertumbuhan ekonomi kedua negara ini terhadap dunia menjadi signifikan karena terjadi bersamaan. Jika saja keduanya menyatu, Chindia bakal jadi satu kekuatan penting.
India dengan risetnya diprediksi akan menyusul Jerman menjadi negara dengan ekonomi ketiga terbesar di dunia dalam waktu 30 tahun mendatang.
Penulis buku ini mengawali buku ini dengan menjelaskan perbedaan fundamental kedua negara, dalam aspek investasi, kekuatan pasar, kekuatan industri, dan budaya bisnis.
China bertumpu pada investor asing, India swadaya. China membuka bagi investor asing, sedangkan India lebih terbatas karena lebih mengandalkan kekuatan domestik.
Investor asing menyebabkan China memiliki infrastruktur yang modern dan baik, sementara India sangat tertinggal dibandingkan China.
Peran Pemerintah sangat kuat di China, sedangkan India mengandalkan perusahaan swasta. Kuatnya kendali pemerintah terhadap bisnis menyebabkan bisnis di China memerlukan hubungan baik atau koneksi.
Kemampuan manajerial China terbatas, karena sebagian besar pejabat perusahaan negara merupakan birokrat, sedangkan perusahaan swasta dipimpin oleh entrepreneur dengan pengalaman bisnis terbatas.
Dengan membandingkan model yang digunakan kedua negara, penulis memperkirakan India akan memiliki keunggulan yang berkelanjutan dibandingkan China.
Walaupun saat ini kinerja China lebih maju dibandingkan India, tetapi dalam jangka panjang diperkirakan India akan menyusul prestasi China dalam lima tahun mendatang.
China diprediksi sudah akan mencapai puncak pertumbuhan ekonominya (8,8%) dan selanjutnya akan turun sampai 7% pada 2020, dan 4% (2040), sementara India akan meningkat menjadi 7,3% (2010) dan 7% sampai pertengahan 2030.
Jika AS saja begitu memantau Chindia, maka Indonesia tentu harus bersiap-siap jika tidak semua sektor yang terbiasa bermanja-manja bakal kelabakan digulung kekuatan baru ini. Siapkah kita?
Bisnis Indonesia
Rabu, 17 Desember 2008
KERUGIAN NEGARA DARI PAJAK
Penggelapan Pajak Rugikan Negara Hingga Rp 1,5 Triliun
[Koran Tempo - 29-Nov-2007]
JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan terus mengusut dugaan penggelapan pajak yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan. Hingga bulan ini, Direktorat Jenderal Pajak sedang menyelesaikan 46 kasus dengan potensi kerugian negara sekitar Rp 1,586 triliun.
Direktur Intelijen dan Penyelidikan Direktorat Jenderal Pajak M. Tjiptardjo mengatakan sekitar 25 orang sudah ditahan dan 8 kasus sudah divonis di pengadilan. Kasus ini di luar dugaan penggelapan pajak yang dilakukan oleh Asian Agri Grup.
Kepala Subdirektorat Penyidikan Direktorat Intelijen dan Penyidikan Pontas Pane mengatakan, jika dijumlahkan dengan kerugian sementara penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri, negara dirugikan hingga Rp 2,8 triliun.
Modus yang dilakukan sebagian besar dengan menerbitkan faktur pajak fiktif atau menggelapkan omzet. "Mereka mengecilkan omzet dan biaya sehingga neraca rugi labanya seperti normal," kata Pontas.
Untuk itu, Direktorat Jenderal Pajak akan mengenakan sanksi bagi pembeli faktur pajak fiktif. "Kami juga akan kejar sebagai tersangka," katanya. Selama ini pembeli faktur pajak fiktif jarang dikenai sanksi.
Dia juga menyesalkan vonis pengadilan yang sering kali tak sebanding dengan kerugian negara. Dia mencontohkan kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh Susanto Wijaya dengan kerugian Rp 76 miliar, sedangkan vonisnya hanya 1 tahun 7 bulan penjara dan denda Rp 10 juta. "Sebagai penyidik, kami tidak bisa intervensi dan menjunjung tinggi putusan pengadilan," katanya.
Tentang kasus penggelapan pajak Asian Agri, Pontas menyebutkan sudah ada kemajuan. Namun, dia enggan menjelaskannya. "Nanti saja kalau semuanya sudah selesai," katanya.
Saat ini Ditjen Pajak masih mengungkap kasus dugaan penggelapan pajak yang menimpa kelompok usaha Raja Garuda Mas itu. Nilai kerugian negara yang berhasil diungkap mencapai Rp 1,3 triliun. Sekitar 8 orang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Ditjen Pajak menyatakan angka kerugian dan jumlah tersangka masih bisa bertambah lagi karena penyidikan belum tuntas.
Gunanto ES
[Koran Tempo - 29-Nov-2007]
JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan terus mengusut dugaan penggelapan pajak yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan. Hingga bulan ini, Direktorat Jenderal Pajak sedang menyelesaikan 46 kasus dengan potensi kerugian negara sekitar Rp 1,586 triliun.
Direktur Intelijen dan Penyelidikan Direktorat Jenderal Pajak M. Tjiptardjo mengatakan sekitar 25 orang sudah ditahan dan 8 kasus sudah divonis di pengadilan. Kasus ini di luar dugaan penggelapan pajak yang dilakukan oleh Asian Agri Grup.
Kepala Subdirektorat Penyidikan Direktorat Intelijen dan Penyidikan Pontas Pane mengatakan, jika dijumlahkan dengan kerugian sementara penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri, negara dirugikan hingga Rp 2,8 triliun.
Modus yang dilakukan sebagian besar dengan menerbitkan faktur pajak fiktif atau menggelapkan omzet. "Mereka mengecilkan omzet dan biaya sehingga neraca rugi labanya seperti normal," kata Pontas.
Untuk itu, Direktorat Jenderal Pajak akan mengenakan sanksi bagi pembeli faktur pajak fiktif. "Kami juga akan kejar sebagai tersangka," katanya. Selama ini pembeli faktur pajak fiktif jarang dikenai sanksi.
Dia juga menyesalkan vonis pengadilan yang sering kali tak sebanding dengan kerugian negara. Dia mencontohkan kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh Susanto Wijaya dengan kerugian Rp 76 miliar, sedangkan vonisnya hanya 1 tahun 7 bulan penjara dan denda Rp 10 juta. "Sebagai penyidik, kami tidak bisa intervensi dan menjunjung tinggi putusan pengadilan," katanya.
Tentang kasus penggelapan pajak Asian Agri, Pontas menyebutkan sudah ada kemajuan. Namun, dia enggan menjelaskannya. "Nanti saja kalau semuanya sudah selesai," katanya.
Saat ini Ditjen Pajak masih mengungkap kasus dugaan penggelapan pajak yang menimpa kelompok usaha Raja Garuda Mas itu. Nilai kerugian negara yang berhasil diungkap mencapai Rp 1,3 triliun. Sekitar 8 orang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Ditjen Pajak menyatakan angka kerugian dan jumlah tersangka masih bisa bertambah lagi karena penyidikan belum tuntas.
Gunanto ES
Selasa, 02 Desember 2008
Raksasa Tidur Yang Malas Bangkit

12/05/2008 23:31:55 WIB
Oleh Hari Gunarto dari http://www.madani-ri.com
JAKARTA, Investor Daily
Memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional 20 Mei, Investor Daily mengulas kinerja berbagai sektor ekonomi, juga di bidang politik dan hukum. Tulisan disajikan berseri mulai 12 Mei hingga 18 Mei.
Masihkah relevan kah kita bermimpi bahwa Indonesia bakal menjadi kekuatan ekonomi terbesar keenam atau ketujuh di dunia dalam beberapa dekade ke depan, sebagaimana diramalkan sejumlah lembaga ternama? Di manakah posisi Indonesia ketika seluruh negara di dunia kini sibuk membangun fondasi dan pilar ekonomi domestiknya?
Selamat kah negeri ini dari arus pusaran krisis energi dan pangan global, ketika fundamental makro dan sektor finansial yang menjadi benteng terakhir mulai rapuh? Ke mana hiruk pikuk reformasi yang meletihkan ini bakal berujung?
Sederet pertanyaan itu layak kita renungkan saat bangsa Indonesia tengah memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Sebuah rentang usia yang mestinya membuat negeri ini memiliki performa jauh lebih spektakuler dari yang dicapai sekarang.
Nyatanya, Indonesia masih dibekap belenggu yang sama, berkubang dalam lumpur masalah klasik serupa. Bangsa ini masih digayuti tingginya angka kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi, ancaman krisis ekonomi kedua, iklim investasi yang kurang kondusif, merajalelanya pungutan liar yang memicu high cost economy, otonomi yang kontraproduktif, ketidakpastian hukum, budaya korupsi yang menggurita, reformasi birokrasi yang lamban, dan segunung persoalan kronis lain.
Masih Tertinggal
Bila memotret berbagai indikator ekonomi yang ada, Indonesia tampak semakin tertinggal dibanding bangsa lain. Sebut saja dalam indeks daya saing global, Indonesia berada di peringkat 54 dunia, kalah dari Filipina, India, dan Tiongkok. Dalam hal kemudahan berbisnis, Indonesia hanya menempati urutan 123, kalah dari negara ‘ecek-ecek’ macam Papua Nugini, Sri Lanka, Banglades, dan Pakistan.
Untuk indeks daya saing pariwisata, kita hanya mencapai peringkat ke-80, di bawah Sri Lanka, India, Malaysia, dan Thailand. Indonesia masih tak lepas dari cap negeri korup. Dari 179 negara yang disurvei Transparency International, RI terkorup nomor 10.
Dalam berbagai indikator ekonomi, prestasi Indonesia tergolong lamban, sementara banyak negara tetangga membuat lompatan mengagumkan. Termasuk negara-negara senasib yang dilanda krisis 1997/98, banyak yang performanya kini lebih impresif ketimbang Indonesia.
“Negara tetangga yang kena krisis cepat bangkit karena diobati dengan benar, sedangkan kita salah terapi,” ungkap Direktur Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa.
Bila kita tarik ke tahun 1990, PDB per kapita Indonesia mencapai US$ 699. Pada 2007, nilainya mencapai US$ 1.946 atau naik 178%. Tiongkok, yang PDB per kapitanya pada 1990 baru separuh Indonesia, yakni US$ 339, kini menembus US$ 2.460 atau melonjak 625%. Untuk periode yang sama, PDB per kapita Korea Selatan meningkat 219%, sedangkan Malaysia 185,5%. Dari sisi nominal, PDB negara-negara itu jauh di atas Indonesia.
Perkembangan ekspornya juga mengagumkan. Ekspor Malaysia melonjak 500% (dari US$ 29 miliar menjadi US$ 176,9 miliar). Nilai ekspor Tiongkok bahkan meroket hingga 1.861%, dari US$ 62 miliar menjadi US$ 1.218 miliar. Sedangkan Indonesia naik dari US$ 25,5 miliar menjadi US$ 114 miliar atau naik 347%.
Prestasi paling mencengangkan adalah cadangan devisa. Tiongkok per 2007 mengantungi devisa US$ 1.528 miliar (naik 5.062% dari tahun 1990). Malaysia naik 995% menjadi US$ 102 miliar. Sedangkan Indonesia baru memiliki cadangan devisa US$ 59 miliar.
Distorsi Politik-Ekonomi
Para ekonom, pengamat, dan pengusaha yang dihubungi Investor Daily membeberkan berbagai analisis kenapa geliat ekonomi Indonesia begitu lamban. Purbaya berpendapat, biang keladinya adalah kebijakan saat Indonesia diterpa krisis 1997. Dia menilai penanganan kebijakan fiskal dan moneternya keliru. Hal itu menyeret kurs, sektor perbankan, dan sektor riil hancur sekaligus.
Menurut Sekretaris Menteri Negara PPN/Sestama Bappenas Syahrial Loetan, Indonesia tengah mengalami perubahan besar di segala bidang yang disebut big bang. ”Tak ada negara di dunia yang mengalami reformasi sekaligus. Untung kita utuh tak tercerai berai,” tuturnya.
Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat menilai, pembangunan ekonomi pascareformasi tidak dilakukan secara konsisten. ”Ada distori-distorsi politik dan ekonomi yang membuat kebijakan ekonomi tidak jalan. Selama 10 tahun ini, ada pergantian empat presiden, tapi yang dikorbankan sektor ekonomi,” tutur Hidayat.
Hal senada diungkapkan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sandiaga Uno. Dia berharap para pemimpin menyepakati dulu gambaran besar kebijakan ekonomi. ”Ini PR besar bangsa ini. Ingat, sebelum krisis, negara kita adalah salah satu macan Asia,” tegasnya.
Kini, saat dunia dilanda krisis energi dan pangan, Indonesia gagal memanfaatkan momentum. Potensi sumber alam di bidang energi dan pertanian yang berlimpah ruah tak tergarap maksimal. ”Padahal, kenaikan harga komoditas dan energi ini sebetulnya keuntungan bagi kita sebagai negara yang kaya SDA,” kata Sandiaga.
Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan menyebut booming harga minyak dan tambang hanya dinikmati pengusaha di sektor tersebut. ”Yang jelas, sejak reformasi, kualitas hidup masyarakat memburuk. Tingkat kesehatan buruk. Mutu pendidikan tak jauh berbeda dari 10 tahun lalu,” ungkapnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui, Indonesia masih harus membangun berbagai hal. “Itu misi kami sebagai pembuat keputusan, pelaku ekonomi, dan masyarakat untuk membangun Indonesia seperti yang dimaui,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rahasa mengatakan, pemerintah telah membuat banyak kemajuan dibandingkan dengan 10 tahun lalu. Indonesia telah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan per kapita, produksi domestik bruto serta devisa telah melampaui US$ 50 miliar.
Mensinergikan Kekuatan
Meski dicengkeram aneka persoalan pelik dan akut, Indonesia berpotensi menjadi kekuatan ekonomi tangguh dunia yang disegani. Berbagai kalangan meyakini bahwa Indonesia adalah raksasa tidur, namun tergolong lamban dan malas untuk bangkit dari keterpurukan.
Para ekonom sependapat, bahwa di atas kertas, mimpi Indonesia bakal menjadi kekuatan ekonomi dunia nomor enam atau tujuh sebagaimana diramalkan beberapa lembaga bisa menjadi realita. Goldman Sach, bank investasi papan atas AS, memprediksi Indonesia menjadi kekuatan nomor tujuh di dunia setelah Tiongkok, AS, India, Brasil, Meksiko, dan Rusia. Indonesia masuk dalam gerbong E-7 (The Emerging Seven), yang bakal mengungguli kekuatan ekonomi negara-negara maju G-7.
Bahkan, PricewaterhouseCoopers (PwC) menempatkan Indonesia peringkat keenam ekonomi dunia setelah AS, Tiongkok, India, Jepang, dan Brasil pada 2050. Menurut Yayasan Indonesia Forum — beranggotakan pengusaha dan ekonom ternama –Indonesia bakal masuk jajaran lima besar (the big five) ekonomi dunia pada 2030 dengan pendapatan per kapita US$ 18.000. Pada saat itu, sedikitnya 30 perusahaan Indonesia diharapkan masuk daftar Fortune 500 Companies.
Untuk menuju ke sana, ada berbagai prasyarat yang meski ditempuh. Agenda mendesak yang perlu dituntaskan adalah mengatasi kemiskinan dan pengangguran. Kalangan ekonom mendesak pemerintah memperbesar anggaran untuk infrastruktur dan proyek-proyek padat karya. Janji land reform dengan membagi 9,6 juta ha lahan harus segera direalisasikan. Pemberdayaan UMKM harus diakselerasi.
Purbaya Yudhi Sadewa minta pemerintah investasi besar-besaran di bidang sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan. ”Ini penting untuk persiapan 20-30 tahun ke depan,” kata dia.
Hal lain yang harus dilakukan adalah koordinasi antara pusat dan daerah. Pemerintah harus tegas memangkas perda bermasalah. Paket-paket kebijakan yang sudah diterbitkan harus diimplementasikan agar tercipta iklim investasi yang kondusif. Segala bentuk hambatan investasi mutlak harus dikikis. ”Kebijakan pemerintah sudah probisnis, cuma lemah di implementasi,” kata MS Hidayat.
Strategi dan pemetaan berbagai sektor unggulan harus dijalankan secara konsisten. Sebagai contoh, di sektor industri, Kadin Indonesia telah menetapkan sepuluh klaster industri unggulan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara industri maju dan bangsa niaga tangguh pada 2030. Sektor energi, tambang, dan agribisnis yang diprediksi tetap berjaya di masa depan, perlu digarap intensif dan didorong menjadi industri yang bernilai tambah tinggi.
Dekan Fakultas Ekonomi UI Bambang Brojonegoro menilai, perlu komitmen para pemimpin dan elite untuk mensinergikan berbagai kekuatan yang dimiliki Indonesia. “Penduduk kita besar. Demikian juga SDA dan keindahan alamnya. Potensi luar biasa itu harus dioptimalkan,” tuturnya.
Penegakan hukum juga menjadi pembuka jalan bagi kepesatan ekonomi. Pengalaman empiris banyak negara mengajarkan betapa menjadikan hukum sebagai panglima bakal menorehkan hasil luar biasa dalam kemajuan ekonomi. Singapura, Tiongkok, dan Finlandia adalah potret negara yang pesat perekonomiannya karena gigih memberangus korupsi. Paul Krugman, ekonom dunia dengan teori-terori hebat, pernah berpesan, jika Indonesia ingin segera recovery dari krisis, hal pertama yang harus dilakukan adalah penegakan hukum.
Para ekonom dan pengusaha sepakat bahwa Indonesia memiliki seperangkat modal dasar, yang bila kekuatannya diintegrasikan akan mampu membawa kemakmuran bangsa. Resultan elemen-elemen kekuatan yang kini terserak laksana mozaik akan menghasilkan sinergi, sehingga Indonesia mampu mengejar ketertinggalannya. (raj/nur/idi)
Langganan:
Postingan (Atom)