Minggu, 08 Februari 2009

JABATAN TINGGI EQ RENDAH


JABATAN TINGGI EQ RENDAH

TIDAK semua mereka yang memiliki jabatan dan titel kesarjanaan tinggi memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Istilah kecerdasan emosional adakalanya disebut EI (emotional intelligence), EQ (emotional quotient), dan kecerdasan sosial.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengendalikan emosinya saat
menghadapi situasi yang menyenangkan maupun menyakitkan. Mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tandjung adalah contoh orang yang memiliki kecerdasan emosionaltinggi, mampu mengendalikan emosinya dalam berkomunikasi.

Ketika membaca berita mengenai kekisruhan dalam rapat antara DPR dan Kejaksaan
Agung belum lama ini, pikiran saya terdorong mengingat kembali teori Daniel Goleman
seputar EQ untuk menganalisa perilaku pejabat tinggi dan politisi di pentas publik.
Berdasar riset panjang, Goleman menyimpulkan, kecerdasan intelektual bukan faktor
dominan dalam keberhasilan seseorang, terutama dalam dunia bisnis maupun sosial.
Menurut Goleman, banyak sarjana yang cerdas dan saat kuliah selalu menjadi bintang
kelas, namun ketika masuk dunia kerja menjadi anak buah teman sekelasnya yang
prestasi akademiknya pas-pasan.

Lalu, apa kunci keberhasilan hidup?

Menurut dia, lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional, yaitu aspek-aspek yang berkait dengan kepribadian, yang di dalamnya setidaknya ada empat unsur pokok.

Pertama, kemampuan seseorang memahami dan memotivasi potensi dirinya. Kedua, memiliki rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Ketiga, senang bahkan mendorong melihat anak buah sukses, tanpa dirinya merasa terancam. Keempat, asertif, yaitu terampil menyampaikan pikiran dan perasaan dengan baik, lugas, dan jelas tanpa harus membuat orang lain tersinggung.

Untuk mengukur apakah seorang pimpinan memiliki kecerdasan emosional tinggi, jangan
diukur dengan titel kesarjanaan dan kepangkatannya, tetapi tanyakan pada mereka yang
selalu berhubungan dengannya, entah itu sopir, satpam, pembantu rumah tangga, anak
buah, keluarga, maupun teman. Dari merekalah akan terpantul citra kepribadian seorang
pemimpin, terutama di saat-saat seseorang terkondisikan untuk marah.

Seberapa tinggi EQ seseorang mudah terlihat saat kritis, ketika suasananya tidak menguntungkan, bahkan dalam posisi terancam. Dengan tolok ukur ini kita mendapat
kesan banyak pejabat tinggi yang EQ-nya rendah meski titel akademisnya tinggi,
termasuk dalam penguasaan ilmu agama. Cirinya, pertama, jika bicara cenderung
menyakiti dan menyalahkan pihak lain sehingga persoalan pokok tergeser oleh
pertengkaran ego pribadi. Yang terjadi kemudian persoalan tidak selesai, bahkan
bertambah.

Kedua, rendahnya motivasi kinerja anak buah untuk meraih prestasi karena tida mendapat dorongan dan apresiasi dari atasan. Pimpinan dengan EQ tinggi akan mampu memotivasi diri, lalu beresonansi pada orang-orang di sekelilingnya, terutama anak buahnya. Berdasarkan pengalaman memberi pelatihan di lingkungan birokrasi pemerintahan maupun BUMN, ditemukan indikator kuat, hanya sedikit pemimpin yang mampu memberi motivasi kerja pada anak buahnya. Banyak pemimpin menjadi sasaran caci maki anak buah sehingga potensi dan dedikasi anak buah tidak optimal untuk memajukan perusahaan.

BEGITU rendahnya EQ sebagian pejabat tinggi kita, tidak mengherankan jika
produktivitas rendah, bahkan banyak terjadi kebocoran anggaran. Menjelang akhir tahun,yang menjadi agenda utama adalah bagaimana menghabiskan anggaran dan membuat
laporan keuangan agar tampak mulus meski hasil kinerjanya minus. Situasi ini dipertegashasil penelitian TII yang menyatakan perilaku korupsi birokrasi dan bisnis di Jakartasudah amat parah. Orang bukannya dipacu untuk meraih prestasi kerja, tetapi dibuatpusing dan sibuk mengenal serta memberi servis pada orang-orang yang dekat denganpengambil keputusan.

Banyak mahasiswa dan sarjana terkesan idealis saat di kampus, tetapi terhanyut begitu
menjadi birokrat. Rasanya perlu dipikirkan adanya pekan orientasi sarjana sebelum
wisuda. Isinya, memberi peringatan disertai data akurat bahwa setelah wisuda mereka
akan memasuki dunia baru yang penuh ranjau dan lingkungan kerja serta sosial yang
telah terkontaminasi virus korupsi dan manipulasi. Ini merupakan tugas akhir almamater,memberi peringatan dan tanggung jawab moral pada putra-putrinya agar memilikikomitmen untuk hidup terhormat, mengejar karier dengan panduan skill dan
suara hati.PARA psikolog mengatakan, rasa sukses dan bahagia akan diraih jika seseorang bisamenggabungkan setidaknya tiga kecerdasan, yaitu intelektual, emosional, dan spiritual.

1. IQ - KECERDASAN INTELEKTUAL.
Kecerdasan intelektual (IQ) berkait dengan keterampilan seseorang menghadapi
persoalan teknikal dan intelektual. Jika pendidikan kita mengabaikan aspek keunggulan
IQ, sulit bagi Indonesia untuk bersaing dalam bidang sains dan teknologi pada persaingan
global. Kini kita sudah merasakan betapa tertinggalnya kita dalam pendidikan sains.
Pemerintah pun kurang melakukan penjaringan siswa berbakat untuk difasilitasi agar
3. SQ - KECERDASAN SPIRITUAL.
Tidak kalah penting, kecerdasan spiritual (SQ) yang berkait dengan masalah makna,
motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual-teknikal,
EQ meratakan jalan membangun relasi sosial, SQ mempertanyakan apakah makna, tujuan,
dan filsafat hidup seseorang.

Menurut Ian Marshall dan Danah Zohar, penulis buku SQ, The Ultimate Intelligence,
tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberi ketenangan dan kebahagiaan hidup.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, berbagai pakar psikologi dan manajemen di
Barat mulai menyadari betapa vitalnya aspek spiritualitas dalam karier seseorang, meski dalam menyampaikannya terkesan hati-hati. Yang fenomenal, tak kurang dari Stephen R Covey meluncurkan buku The 7th Habit (2004), padahal selama ini dia sudah menjadi ikon dari teori manajemen kelas dunia The Seven Habits. Rupanya Covey sampai pada kesimpulan, kecerdasan intelektualitas dan emosionalitas tanpa bersumber spiritualitas akan kehabisan energi dan berbelok arah.

Di Indonesia, krisis kepercayaan terhadap intelektualitas kian menguat saat bangsa yang secara ekonomi amat kaya ini dikenal sebagai sarang koruptor dan miskin, padahal
hampir semua yang menjadi menteri maupun birokrat memiliki latar belakang pendidikan
tinggi. Asumsi bahwa kesarjanaan dan intelektualitas akan mengantar masyarakat yang
damai dan bermoral digugat Donald B Caine dalam buku: Batas Nalar, Rasionalitas dan
Perilaku Manusia yang sedang dibicarakan banyak orang. Mengapa bangsa Jerman yang
dikenal paling maju pendidikannya dan melahirkan banyak pemikir kelas dunia pernah
dan bisa berbuat amat kejam? Pertanyaan serupa bisa dialamatkan kepada Inggris,
Amerika Serikat, dan Israel.

KEMBALI pada soal EQ. Teori ini valid untuk melihat perilaku dan gaya kepemimpinan
seseorang dalam kelompok terbatas. Dalam wilayah sosial dan politik, terlalu banyak
variabel yang tidak cukup dianalisis dengan teori EQ.
Namun satu hal pasti, kita mengharapkan negeri ini diurus oleh mereka yang cerdas
secara intelektual, emosional, dan spiritual. Yaitu mereka yang kualitas akademisnya baik, mampu berkomunikasi sosial secara simpatik, inspiring dan motivating, serta memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai spiritual sebagai panduan hidup. Jika ketiga kualitas ini tidak terpenuhi, sebaiknya minggir saja atau bangsa ini akan kian hancur oleh perilaku pemimpinnya sendiri.*
(Penulis: Komaruddin Hidayat Direktur Program Pascasarjana UIN Jakarta/Pembina

Rabu, 04 Februari 2009

Renovasi RUMAH


Biarkan Rumah Anda Membiayai Renovasi
Dari : www.housing-estate.com

Tak perlu menguras kocek untuk membiayai renovasi rumah. Biarkan rumah Anda menutup sebagian besar biayanya.

Kalau Anda punya simpanan memadai dan bukan pebisnis, merenovasi rumah dengan mengagunkan rumah itu sendiri mungkin tidak menarik. Mending pakai uang sendiri. Biayanya jelas jauh Iebih murah. Toh, ditaruh di bank uang itu juga tidak beranak karena bunga deposito begitu murah. Sementara kalau pinjam duit bank, spread bunganya begitu jauh.

Bayangkan, deposito hanya dihargai 5,5 persen. Sebaliknya kalau minta kredit dikenai bunga rata-rata 13,5 persen. Jadi, spread-nya 8 persen. Padahal, spread bunga simpanan dengan bunga kredit yang wajar untuk ukuran Indonesia tidak Iebih dari 5 persen. Itu pun sudah ketinggian. naiau oegitu KeenaKan uanKbanknya karena terus kita susui agar bisa hidup.

Lain cerita bila Anda berprofesi sebagai pebisnis atau memiliki usaha sampingan. Memakai duit sendiri untuk merenovasi rumah jelas sayang, karena kalau dipakai usaha mungkin bisa menghasilkan pengembalian atau yield di atas 20 persen. Bukankah tetap Iebih tinggi ketimbang bunga kredit? Jadi, kalau Anda termasuk kategori ini dan mau merenovasi rumah, pinjam duit bank.

Untuk itu jangan biarkan rumah Anda "tidur". Bukan zamannya lagi menjadikan rumah hanya sebagai hunian. Berdayakan rumah itu untuk memenuhi berbagai keperluan, termasuk merenovasi rumah. Di negaranegara maju sudah jamak orang meIakukannya. Yang bisa diagunkan bukan hanya rumah yang sudah bebas kredit, tapi juga rumah yang masih dalam masa KPR.

Selasa, 03 Februari 2009

MEMILIH KPR

Dari: www.housingestate.com
Sebelum memilih KPR ada baiknya Anda memahami sistem perhitungan bunganya.

Sekitar 80 persen pembelian rumah di Indonesia dilakukan dengan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR). Karena itu mekanisme penyaluran dan sistem perhitungan bunganya perlu dipahami agar Anda bisa memilih KPR yang aman sesuai kebutuhan. Terlebih di zaman bunga tinggi seperti sekarang. Paling tidak Anda tidak kaget bila cicilan naik karena sejak awal sudah memahami perhitungannya.

Pada dasarnya bank baru mau memberikan KPR bila rumah sudah jadi 100 persen karena agunannya jelas dan aman. Konsumen juga diuntungkan karena membeli barang yang sudah riil. Bayangkan kalau yang dibeli baru gambar dan developer ingkar janji membangunnya! Tapi, itu bukan berarti bank tidak bersedia membiayai pembelian rumah yang belum jadi.

Menurut Maret DS Santoso, Kabag Pengelola Kredit Perorangan BTN, sejauh proyeknya jelas dan developernya kredibel, bank mau memberikan KPR. "Inilah yang dinamakan KPR inden. Rumah belum ada tapi sudah dikasi KPR," katanya. Biasanya bank berani bila developernya bekerja sama atau kredit konstruksinya dari bank tersebut. "Karena itu biar masih berupa gambar atau contoh maket, bank tidak khawatir," ujar Ibnutomo H Kartiko, Managing Director PT Metro Capital, | perusahaan konsultan KPR.

FLAT

KPR di setiap bank memiliki tingkat bunga dan sistem perhitungan bunga berbeda: flat, anuitas, dan efektif. Dalam sistem flat, nominal cicilan serta porsi angsuran pokok + bunga dalam cicilan, flat selama periode KPR tanpa terpengaruh fluktuasi bunga pasar. Misalnya KPR RplOO juta, periode 3 tahun (36 bulan), bunga 8,5 persen, maka angsuran pokoknya = Rp100 juta: 36 = Rp2.777.780,- angsuran bunga (Rp100 juta x 8,5%) : 12 = Rp708.334, sehingga cicilan menjadi Rp3.486.114/bulan.

Total bunga yang harus dibayar nasabah selama 36 bulan adalah Rp25.500.024. Cicilan harus dituntaskan hingga habis masa KPR. Percepatan pelunasan dikenai penalti. Dalam praktik bunga flat lebih rendah ketimbang bunga anuitas dan efektif. Kalau bunga efektif dan anuitas 15-17 persen, bunga flat hanya 8 - 9 persen.

Bunga flat banyak diterapkan dalam penyaluran kredit kendaraan bermotor. Untuk KPR sudah jarang dipakai, kecuali oleh bank-bank syariah yang membiayai kredit rumah dengan pola jual beli. Mengambil KPR dengan bunga flat sebaiknya dilakukan saat bunga pasar bergejolak dan periodenya dibatasi 3-5 tahun.

HUMOR


Ijazah 'Palsu tapi Asli'
02/01/2009
darihttp://www.nu.or.id/page.php
Pada zaman reformasi ini banyak kesempatan untuk menjadi pejabat, sehingga kadang-kadang para calon pejabat kurang persiapan. Termasuk menyiapkan ijazah yang asli.

Di salah satu kabupaten di Jawa, saat menjabat, seorang bupati kedapatan berijazah palsu. Ia pun disidang di pengadilan.

“Anda dituntut hukuman penjara karena ijazah anda ini palsu,” kata hakim kepada bupati sambil mengangkat ijazah yang dibawakan penuntut umum.

Tapi sang bupati menolak ijazahnya dikatakan palsu. ”Enggak bapak hakim. Sungguh, saya ndak bohong. Kata yang njual, ijazah itu katanya asli pak”. (nam)

Senin, 02 Februari 2009

Menjaga Motivasi Karyawan


http://leadership-id.blogspot.com/2006/05
Oleh Mohamad Yunus

Salah satu kunci penting memotivasi karyawan adalah menghindari tindakan-tindakan yang membunuh motivasi karyawan. Ini berarti, memotivasi karyawan tidak cukup hanya dengan mendorong karyawan berperilaku motivatif, tetapi juga menjaga diri anda, sebagai seorang manajer, untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat mematahkan semangat karyawan. Sikap negatif anda dapat menghalangi sesuatu positif dari orang lain.

Ada banyak hal yang dapat mengendurkan motivasi karyawan. Yang terpenting berasal dari anda sendiri. Berikut beberapa tips beberapa tindakan yang perlu anda ingat-ingat, karena bila tidak, anda dapat menjatuhkan motivasi karyawan.

1. Jangan mengkritik karyawan di hadapan orang lain.

Ini adalah pembunuh motivasi nomor satu. Jangan permalukan karyawan di hadapan orang lain. Meski anda mengatakan sesuatu yang menurut anda benar, namun mengkritiknya di depan umum, dapat melukai perasaannya. Kritik anda dapat meninggalkan bekas luka dalam yang mengubah motivasi menjadi sakit hati dan dendam berkepanjangan.

2. Jangan menghina/merendahkan karyawan.

Melontarkan kata-kata seperti, "bodoh", "goblok", atau kata-kata penuh hinaan lain adalah tindakan yang harus dihindari jauh-jauh. Berhati-hatilah dengan perkataan anda. Jangan sepelekan orang lain. Mereka takkan melakukan sesuatu yang anda inginkan dengan baik jika anda sendiri menganggap mereka tidak becus.

3. Jangan menganggap karyawan sebagai alat.

Sebagai manajer, anda memang menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan. Namun, jika anda bersikap seolah-olah memperalat karyawan demi tujuan anda sendiri, anda akan kehilangan simpati dan motivasi karyawan untuk mau bekerja pada anda. Libatkan karyawan pada tujuan bersama. Tunjukkan bahwa anda bersama mereka sedang mencapai tujuan demi keberhasilan bersama.

4. Jangan berlaku tidak adil.

Adalah wajar jika anda senang pada karyawan-karyawan terbaik anda. Namun itu bukan alasan untuk berlaku tidak adil. Perlakuan diskriminatif mudah sekali menjatuhkan semangat seluruh karyawan. Terlebih lagi bila anda tak sadar sedang "dijilat" oleh karyawan yang anda sukai.

5. Jangan hanya memikirkan diri sendiri.

Bagaimana perasaan anda saat mendengar atasan membanggakan dan memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Anda mungkin merasa direndahkan secara tak langsung. Atau anda mungkin merasa atasan anda sedang mengambil keuntungan dari anda. Maka, itu pulalah yang dirasakan oleh karyawan anda jika anda hanya berpusat pada diri sendiri dan tak memberikan perhatian pada mereka.

6. Jangan ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

Karyawan membutuhkan sebuah keputusan yang tegas, segera, namun bijaksana dari atasannya. Jika anda tampak bimbang dengan keputusan anda sendiri, karyawan akan merasa lebih bimbang lagi. Ini cepat sekali menjegal motivasi. Bukan hanya itu, mereka mungkin tak lagi mempercayai kemampuan diri mereka sendiri juga anda.

7. Jangan melemparkan tanggung jawab.

Tugas manajer adalah membimbing karyawan agar lebih baik dan berhasil. Salah satunya adalah dengan mendelegasikan wewenang. Tapi itu bukan berarti anda terlepas dari tanggung jawab atas tugas tersebut. Melemparkan tanggung jawab dapat meruntuhkan kepercayaan mereka pada anda sebagai seorang pemimpin. Di saat-saat sulit, tunjukkan tanggung jawab anda. Ini menumbuhkan hormat pada anda.

8. Jangan kaku, namun jangan turunkan standar kualitas anda.

Situasi tidak selalu berjalan sebagaimana diharapkan. Anda harus bersikap tegas, namun jangan diartikan sebagai sikap kaku. Terbuka dan terimalah masukan-masukan dari karyawan anda. Namun, anda tetap harus menjaga standar kualitas yang anda inginkan. Jika anda toleran terhadap sebuah kelemahan, anda menurunkan moral karyawan lain yang memiliki inisiatif tinggi.

9. Jangan menunjukkan ketidakpercayaan.

Kunci memotivasi orang adalah memberikan kepercayaan pada mereka. Sebaliknya, mematikan motivasi karyawan paling mudah dilakukan dengan mencabut kembali kepercayaan itu. Sepatah ucapan yang menunjukkan ketidakpercayaan sudah cukup untuk menyingkirkan motivasi mereka.

10. Jangan acuh tak acuh pada karyawan.

Jika anda ingin meruntuhkan motivasi karyawan, jangan berikan perhatian apa pun pada mereka. Jangan beri umpan balik. Jangan ingat kejadian-kejadian penting dalam hidup mereka. Jangan berikan waktu bagi mereka untuk berbincang-bincang. Jauh lebih mudah mematahkan semangat, ketimbang membangunnya. Untuk itu, hindari hal-hal yang bisa membunuh motivasi karyawan. Dan itu, berarti menjaga tindakan anda sendiri.

Semoga bermanfaat!!

Have a positive day!

Salam Inspirasi,
Mohamad Yunus

Selasa, 27 Januari 2009

TRANSFER PRICING

Transfer Pricing dan Pemegang Saham Minoritas[1]
Oleh: Darussalam, SE, Ak, MSi, LLM Int.Tax dan Danny Septriadi, SE, MSi, LLM Int.Tax - Danny Darussalam Tax Cent
er
Ternyata, praktik abuse of transfer pricing tidak saja merugikan otoritas pajak suatu negara, tetapi juga merugikan para pemegang saham minoritas. Mau tahu argumentasinya? Silahkan ikuti tulisan dibawah ini yang penulis sarikan dari kasus abuse of transfer pricing yang disidangkan di Pengadilan Tinggi (The High Court of Sindh) di Karachi.

Kasus

A Ltd adalah sebuah anak perusahaan (subsidiary) yang berdomisili di Pakistan dan bergerak dalam bidang farmasi. Pemegang saham mayoritas adalah B Inc. yang berdomisili di Amerika Serikat. Sedangkan pemegang saham lainnya, yaitu pemegang saham minoritas (minority shareholder’s), hanya memiliki kurang dari 0,5% dari jumlah saham A Ltd. Dalam laporan keuangannya, A Ltd menunjukkan kinerja keuangan yang jelek, sehingga menderita kerugian yang mengakibatkan modal pemegang saham menjadi berkurang. Atas dasar hal tersebut, pemegang saham minoritas komplain ke Pengadilan Tinggi di Karachi dengan alasan bahwa kondisi kinerja keuangan yang jelek tersebut disebabkan karena A Ltd melakukan praktik transfer pricing dengan membebankan biaya pembelian bahan baku obat yang dibeli dari B Inc. dengan harga yang tinggi (artificially high price). Pemegang saham minoritas tersebut berpendapat bahwa mark-up harga beli bahan baku obat yang sangat tinggi tersebut menyebabkan A Ltd menderita kerugian.


Pihak Pengadilan juga berpendapat sama dengan pemegang saham minoritas. Pengadilan mengutip Laporan Audit (auditor’s report) tahun 2003 yang menyatakan bahwa:
” ..... Laporan Keuangan A Ltd adalah merupakan konsekuensi langsung dari keputusan manajemen..., dan keputusan manajemen tersebut adalah untuk kepentingan pemegang saham mayoritas, yang merupakan pemasok utama bahan baku obat.”
Laporan Audit juga memberikan catatan bahwa 60% dari bahan baku obat yang dibeli oleh A Ltd adalah berasal dari B Inc. Laporan tersebut juga menyajikan perbandingan harga yang dibebankan oleh B Inc dan pemasok lainnya yang independen. Salah satu bahan baku obat yang dibeli dari B Inc adalah USD 30.000/Kg, sedangkan harga dari pihak lain yang independen adalah USD 500/Kg. Bahan baku lainnya yang dibeli dari B Inc. adalah USD 8.750/Kg, sedangkan harga dari pihak lain yang independen adalah USD 125/Kg.


Pengadilan berkesimpulan bahwa meskipun akuntan publik ”telah bekerja dengan baik dan menghasilkan pendapat yang fair, akan tetapi akuntan publik tidak mempertimbangkan dampak dari praktik transfer pricing yang dilakukan oleh B Inc. terhadap laporan keuangan A Ltd dan nilai saham dari pemegang saham minoritas. Oleh karena itu, pemegang saham minoritas sudah sewajarnya mendapatkan kompensasi atas tindakan yang telah dilakukan B Inc yang tidak fair. Atas dasar argumentasi tersebut, pengadilan memerintahkan kepada akuntan publik untuk menghitung ulang nilai saham A Ltd dengan asumsi tidak ada manipulasi harga.

Kesimpulan

Dari paparan kasus tersebut di atas, pelajaran penting yang dapat kita petik adalah bahwa:
1.Ternyata tidak hanya otoritas pajak suatu negara saja yang dirugikan atas
praktik abuse of transfer pricing, pemegang saham minoritas juga sangat dirugikan
dengan adanya praktik ini.
2.Akuntan publik dituntut kemampuannya untuk dapat mendeteksi adanya abuse of
transfer pricing dalam laporan keuangan perusahaan publik untuk melindungi
kepentingan pemegang saham minoritas.

Rabu, 07 Januari 2009

Ciptakan Jejaring Sosial yang Lebih Kreatif

Kamis, 1 Januari 2009 - 10:36 wib.
WWW.OKEZONE.COM


Sebagai chief executive officer (CEO), Gina Bianchini, 36, optimistis Ning.com bisa bersaing dengan situs jejaring sosial lain.

Bianchini menyiapkan konsep baru demi mengangkat popularitas Ning. Pada awal Desember lalu Bianchini mulai memperbarui konsep situsnya, terutama bagi kalangan dewasa.

Sebelumnya, dalam jejaring tersebut, para anggota komunitas diperbolehkan memuat gambar-gambar yang berbau pornografi. Akibatnya, para pemasang iklan enggan memanfaatkan situs tersebut sebagai alat promosi.

"Para klien (pemasang iklan) kami bukan fans berat dari jejaring sosial untuk kalangan dewasa," ungkap Bianchini belum lama ini. Bianchini menuturkan, Ning hanya mempunyai partner kerja dengan Google. Perusahaan tersebut sejak awal telah bersikap tegas tidak akan memasang iklan di situs yang memuat pornografi.

Demi menghindari risiko lebih buruk, yakni dilarang Google, Bianchini akhirnya memutuskan untuk mengurangi porsi yang mengupas masalah-masalah orang dewasa. Bianchini mendirikan Ning pada Oktober 2004, bekerja sama dengan Marc Andreessen yang mempunyai latar belakang sebagai pengembang jaringan di internet. Bianchini menganggap situs jejaring sosial yang diciptakannya merupakan pengembangan situssitus yang telah ada. Bianchini memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para pengunjung di Ning untuk menuangkan segala kreativitasnya.

Dia mencoba menerapkan konsep WYSIWYG (What You See Is What You Get). Dengan sistem ini, para pengunjung ataupun anggota komunitas Ning leluasa untuk mengubah tampilan. "Dasar filosofis kami adalah orang-orang mempunyai pandangan berbeda-beda mengenai dirinya sendiri," ujar Bianchini.

"Kami optimistis model ini (Ning) merupakan cerminan dari apa yang orang lakukan di dunia nyata dan di kehidupan sehari-hari," imbuhnya.

Tidak mudah bagi Bianchini maupun Mark menggodok konsep Ning hingga benarbenar matang dan siap disebarluaskan ke publik.Pada 2007, Bianchini baru meluncurkan platform Ning kepada para komunitas di dunia maya. Menurut Bianchini, Ning menawarkan fitur jejaring sosial terbaru yang semuanya dapat diatur sesuai keinginan pengunjung. "Jika Anda mempunyai waktu lebih, Anda dapat membangunnya (fitur-fitur) sesuai dengan keinginan," ujarnya.

Selama setahun, Ning telah berkembang menjadi salah satu pemain utama di jejaring sosial. Pencapaian ini didukung pengalamannya di dunia internet selama bertahun-tahun. Bagi Bianchini, Ning bukan perusahaan pertama kali yang ditanganinya. Pada 2000, Bianchini meluncurkan Harmonic Communications yang merupakan agen iklan di dunia maya. Dia menjadi presiden dan kemudian merangkap sebagai kepala pemasaran perusahaan tersebut.

Tiga tahun kemudian, dia menjual Harmonic Communications kepada agen iklan dari Jepang, Dentsu. Bianchini dibesarkan di Cupertino, California, Amerika Serikat (AS) pada era 1970-an ketika wilayah tersebut mengalami transisi dari pusat pertanian menjadi teknologi. Ketika menginjak usia sembilan tahun, Bianchini mulai memperlihatkan jiwa kewirausahaannya.

Saat itu, dia mulai memperoleh penghasilan sendiri dengan mengembangbiakkan kelinci dan menjualnya melalui beriklan di koran setempat. Ketika bersekolah di Kota Stanford, dia bekerja sampingan di harian The Stanford Daily sebagai pegawai di bidang periklanan. Setelah lulus dari Stanford, dia menuju ke San Fransisco dan menjadi pegawai di Goldman Sachs sebagai analis teknologi. Bianchini hanya mampu bertahan selama 18 bulan di perusahaan itu.