Sabtu, 23 Mei 2009

Gumun- Bangsa Pemalas


gumun in Kolom Budaya Emha Ainun Najib / Suara Merdeka
December 14, 2006 · 9 Comments


Kita Bukan Bangsa Pemalas

source: suara merdeka, Kamis, 16 Oktober 2003

ORANG yang gumunan sering mengatakan, satu orang Jepang kualitas dan tenaganya sama dengan 5 orang Indonesia. Sementara satu orang Korea sama dengan 3 orang Jepang. Jadi 15 orang Indonesia baru bisa menandingi satu orang Korea. Yang dibandingkan adalah stamina dan etos kerjanya, keuletan dan kerajinannya, kadar profesionalitas dan manajerialnya.

Tentu itu berangkat dari kenyataan industri dan perekonomian Korea yang semakin menguasai dunia. Padahal negaranya kecil, tak punya kekayaan alam, laki-lakinya jarang yang ganteng dan perempuannya tak ada yang mampu menandingi kecantikan artis-artis kita.

Memang sesudah sampai awal tahun 80-an Korsel kacau kepribadian kebangsaannya, sesudah ditandangi oleh pemerintahan militer yang bersikap sangat memacu kerja keras rakyatnya, yang menempelengi koruptor dan para pemalas. Akhirnya bangkitlah bangsa Korea, dan sekarang langit bumi mengaguminya.

Tetapi kalau kesimpulan itu mengandung tuduhan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pemalas, sangat suka mencuri, tak mau jalan kecuali jalan pintas, main bola sambil duduk tapi ingin menang 5-0 dan kalau kemasukan gol marah-marah – itu salah besar!

Bangsa Indonesia bukan bangsa pemalas. Kita adalah bangsa yang memang tidak perlu rajin, tidak membutuhkan keuletan, tidak mau ngoyo, cukup ikut sidang-sidang kemudian bisa bikin supermarket, dll. Kita bangsa yang kaya raya sejak dari sononya, sehingga cukup mengisi kehidupan dengan joget dan tidur saja, tidak perlu repot-repot seperti bangsa-bangsa lain. Sedemikian adil makmur aman sejahteranya negara kita, sehingga kita tidak membutuhkan pemerintahan yang baik.

Demi membantah pendapat di atas, saya nekat terbang ke Korea. Mohon maaf minggu kemarin saya absen menulis karena itu. Tapi karena di negeri ginseng itu saya tidak tahu jalan, maka 12 hari baru bisa pulang kembali ke tanah air. Apalagi orang Korea sangat benci kepada Amerika Serikat, sehingga mereka sangat gengsi untuk memakai bahasa Inggris. Jadi semua informasi, petunjuk-petunjuk di jalan dan di mana saja hampir 99% memakai bahasa dan tulisan Korea.

Dulu mereka benci Jepang karena sebagaimana kita Indonesia, mereka juga dijajah Jepang, rakyatnya diperbudak, kerajaannya dibakar habis – sampai akhirnya di kemudian hari mereka mengimpor kayu dari Kalimantan untuk bikin bangunan kraton yang dimirip-miripkan dengan aslinya.

Korea merdeka dari Jepang dua hari sebelum kita, yakni 15 Agustus 1945. Sekarang di zaman modern mereka punya sasaran kebencian yang lebih besar, yaitu Amerika Serikat – meskipun tentu saja hati rakyat mereka tidak tercermin oleh sikap pemerintah mereka. Namanya juga pemerintah, tentu agak aneh kalau sepak terjangnya mirip dengan kelakuan rakyatnya.

Saya jadi enthung thilang-thileng di Encheon, Seoul, Busan, sampai ke pinggiran Suwon, Ansan dll. Mana gedung-gedungnya tinggi-tinggi amat. Belum lagi kereta bawah tanahnya silang sengkarut berlapis-lapis mengiris-iris bertingkat-tingkat ke bawah permukaan bumi. Keluar dari subway saja saya pasti bingung, apalagi setiap subway di bawah tanah itu ada lapisan-lapisan pasar yang masing-masing se-kecamatan luasnya. Huruf latin tak ada 5% jumlahnya.

Lebih celaka lagi karena kebanyakan orang Korea tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara kemampuan bahasa saya juga sangat awam. Kalau ke Mesir, Arab, Jordan, Syria atau Israel, saya selalu mengaku kepada orang-orang di sana bahwa saya lebih mampu berbahasa Inggris dibanding bahasa Arab.

Sementara kalau saya ke London, Ann Arbor, atau ke Perth, saya selalu memamerkan bahwa memang bahasa Inggris saya sangat buruk – tapi kan bahasa Arab saya sangat OK.

Padahal orang Korea sangat jarang tidur. Jam 11 malam saya ketemu anak-anak SMP pulang sekolah. Jam 1 dinihari mahasiswa-mahasiswi pulang kuliah. Mulai jam 2 pagi Pasar Dong Daimun, Nam Daimun atau mall Doota justru sedang ramai-ramainya. Karena kita negara sejahtera maka Jakarta macet sore-sore kita sudah cemas, padahal di Seoul jam 3 pagi di sana – sini traffic jam.

Begitu banyak orang, tapi saya tak bisa omong apa-apa. Ada satu dua kata Korea saya tahu, tapi hilang maknanya karena setiap kata ditambah “see” atau “ee”. Sampai akhirnya saya ngedumel sendiri dan menyanyikan lagu Indonesia berjudul “Asek”. Bunyinya: “Asekuntum mawar meraaah, o o o….”

Alhasil saya kebingungan. Tak tahu utara selatan. Karena di luar Indonesia orang ngertinya kanan kiri depan belakang atas bawah. Barat timur sudah lenyap. Karena Tuhan sendiri berfirman bahwa la syarqiyyah wa la ghorbiyyah.. Tak timur, tak barat.

Untung saya ditolong oleh seorang direktur utama sebuah perusahaan pembuat alat-alat Security System dan software komputer, terutama Internet Multimedia Phone.

Sebagai orang udik saya terbengong-bengong di tepi jalan, sampai akhirnya dihampiri oleh beliaunya itu. Seorang Sajang, alias juragan perusahaan besar – meskipun tak sebesar Samsung, SK, LG atau Honde (Hyundai) – yang barusan pimpinannya bunuh diri terjun dari gedung tinggi gara-gara rahasia keuangan ekstra perusahaannya yang terkait dengan Korea Utara.

Tapi Pak Sajang ini kelakuannya sungguh aneh. Saya didatangi, dikasih rokok, diajak makan, bahkan dia membawa wajan sendiri untuk keperluan penggorengan makan kami. Saya dikursus bagaimana menggunakan sumpit. Kemudian beliau mengajak saya keliling melihat-lihat kantor-kantor dan pabriknya. Saya dibikin terkagum-kagum dipameri kunci atau gembok pintu yang detektor pembukanya menggunakan sidik jari. Kalau sidik jari kita belum terdaftar, nggak bisa buka pintu. Kemudian bahkan ada gembok yang berdasarkan sinar mata kita. Meskipun nama saya Ainun, artinya mata – tetap saja pintu itu tak bergeming meskipun saya pelototi habis-habisan sampai mengerahkan ilmu kebatinan Kaliwungu, Banten, Tulungagung dll.

Rabu, 20 Mei 2009

Kluster Baru Mulai Tumbuh


Kluster Baru Mulai Tumbuh
Wednesday, 20 May 2009
Sumber: koran Seputar Indonesia (SINDO)

APARTEMEN, Empat gedung menara menara apartemen berdiri megah di tepi pantai utara Jakarta. Para pengembang properti hunian optimistis permintaan terus meningkat. Permintaan hunian diyakini tidak akan melemah karena tempat tinggal menjadi kebutuhan dasar manusia.

TURUNNYA tingkat suku bunga acuan menjadi sinyal bagi pengembang untuk kembali memasarkan kluster atau hunian baru.Pengembang berkeyakinan keinginan masyarakat untuk membeli rumah akan tinggi kembali. Kendati begitu, pengembang masih berharap agar perbankan segera mengikuti langkah yang ditempuh Bank Indonesia.

Pada awal Mei lalu, PT Cowell Development Tbk meluncurkan rumah tipe baru yang eksklusif di perumahan Melati Mas Residence (dahulu bernama Villa Melati Mas) yang lokasinya di Jalan Raya Serpong,Tangerang. Rumah tipe baru itu bernama Modern Grande yang terletak di Jalan Bulevard kluster Viesta.

Jumlah unit yang dibangun sangat terbatas, yakni hanya 20 unit. Rumah berdimensi luas bangunan 350 meter persegi dan luas tanah 250 meter persegi dipasarkan dengan harga sekitar Rp1,5 miliar per unit. ”Saat ini sudah terjual 60% dan kami targetkan pada semester tiga tahun ini sudah habis terjual,” ujar Director Marketing & Business Development PT Cowell Development Tbk Novi Imelly.

Melati Mas Residence dikembangkan PT Cowell Development Tbk sejak tahun 1987. Dari total lahan 200 hektare, kini sudah terbangun 88%. Jumlah rumah yang sudah terbangun sebanyak 5.000 unit dan saat ini sudah dihuni 4.000 kepala keluarga (KK).

Melati Mas Residence dilengkapi berbagai fasilitas penunjang untuk memanjakan penghuninya seperti Klub Melati Mas yang berisi sarana olahraga kolam renang ukuran olympic, tenis dan fitnes, kawasan komersial Giant Hypermarket, sekolah, dan Melati Mas Square (kompleks komersial).

Di tengah kondisi krisis keuangan global,PT Cowell Development Tbk optimistis dapat menaikkan nilai penjualan pada tahun 2009 ini. ”Permintaan rumah saat ini masih bagus karena rumah adalah kebutuhan dasar manusia sehingga masyarakat dalam kondisi apa pun akan membeli rumah. Selain itu, investasi dengan membeli rumah lebih aman dibandingkan instrumen investasi lain seperti saham atau dana reksa,” ujar Novi.

Untuk meraih target tersebut dan menghadapi krisis keuangan global, PT Cowell Development Tbk melakukan berbagai strategi. Antara lain, membuat varian produk yang lebih banyak dan menyediakan produk yang lebih terjangkau.

Selain itu juga memberi keringanan dan kemudahan cara pembayaran seperti down payment (DP) dapat dicicil 12 kali, pembayaran dapat dicicil 24 kali, dan memberikan subsidi bunga KPR sebesar 5% dari bunga yang berlaku pada bank pemberi KPR.

”Karena 70% penjualan kami memakai KPR, penurunan suku bunga KPR saat ini sangat memengaruhi penjualan menjadi lebih baik,”kata Novi. Pada minggu kedua bulan ini, PT Sentul City Tbk juga meluncurkan kluster baru yang eksklusif di perumahan Sentul City, Bogor. Kluster baru itu bernama Pine Forest yang dibangun di atas lahan seluas 20 hektare.

Pada tahap pertama, akan dibangun 150 unit rumah dan 36 unit ruko. Dipasarkannya kluster yang menelan investasi sebesar Rp50 miliar ini antara lain untuk memenuhi kebutuhan hunian yang modern dan ramah lingkungan.

Menurut Business Development Directur PT Sentul City Tbk, Andrian Budi Utama, pihaknya juga tengah mengaplikasi kan konsep green property sesuai dengan salah satu konsep pengembangan Sentul City-The City of Innovation, yaitu Eco City. Di mana aspek eksplorasi green property diterapkan pada kawasan dan pada bangunan dengan penerapan green wall.

Untuk bangunan rumah, kluster Pine Forest yang berdesain modern tropis itu,memperhatikan pemanfaatan ruang di bawah atap sebagai zine pengembangan mezzanine. Dengan demikian, pemanfaatan ruang menjadi lebih maksimal. Sementara untuk ruko diterapkan pada aspek hijau di muka ruko sebagai bagian dari keunikan desainnya.

Target pasar kluster Pine Forest adalah pasangan muda dan pengusaha. Selain menerapkan konsep green property, kelebihan yang dimiliki kluster Pine Forest adalah berada di dalam perumahan Sentul City yang sarat fasilitas dan lokasinya sangat strategis dengan beberapa alternatif pencapaian.

Ada dua tipe rumah yang ditawarkan di kluster Pine Forest yakni tipe Pinus Patula berdimensi luas bangunan (LB) 75 meter persegi dan luas tanah (LT) 135 meter persegi dan tipe Pinus Ponderosa berdimensi LB 53 meter persegi dan LT 90/120 meter persegi. Harga jual mulai Rp270 jutaan.Sementara ruko berdimensi LB 100 meter persegi dan LT 67, meter persegi dijual dengan harga Rp400 jutaan.

Penjualan didukung perusahaan asuransi Allianz yang memungkinkan pengembalian uang tunai membeli rumah sebesar 100% dalam waktu 10 sampai 13 tahun ke depan. Polanya seperti unit link, akan tetapi yang dipakai rumah, yang dipungut 15% dari harga rumah. Kalau tidak ingin ikut asuransi, tinggal dipotong 15 persen dari harga rumah.

Pemasaran kluster baru ini juga didukung dengan program cash back, yakni membeli rumah uang kembali. Melalui program cash back ini, pembeli yang membeli produk properti di kluster Pine Forest mendapatkan polis asuransi dari perusahaan asuransi terkemuka yang telah bekerja sama dengan PT Sentul City.

Rencananya, kluster Pine Forest mulai dibangun pada Juni dan serah terima paling lambat 18 bulan ke depan. Sukses dengan empat proyek apartemen sebelumnya,Kemang Village milik pengembang Lippo Karawaci kembali meluncurkan hunian bertingkat (apartemen) the Infinity.

Menurut Direktur Kemang Village Jessica Quantero, The Infinity dilepas dengan harga mulai Rp1,36 miliar per unit. Jika dihitung per meter persegi, harganya Rp 13 juta- Rp 19 juta per meter persegi, dengan luas unit 105 meter persegi hingga 305 meter persegi. The Infinity merupakan menara apartemen kelima dalam megaproyek terkini Lippo Karawaci di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, yang diberi nama Kemang Village.

Total nilai investasi megaproyek dengan tujuh menara ini mencapai Rp12 triliun. Pihaknya menargetkan pembangunan menara kelima dimulai pada tahun ini dan selesai pada 2011. The Infinity merupakan apartemen mewah yang memiliki banyak keunikan. Di antaranya terletak pada konsep bangunan yang memanfaatkan banyak jendela kaca agar pencahayaan alami makin kentara.

Sementara, jendelajendela itu akan dibuat menghadap dua sisi. Di lokasi tersebut, nantinya akan ada 20 kolam renang dan 50 resor air. ”Setiap lantai terdiri atas empat unit saja,” ucap Jessica. (hermansah)

Sabtu, 09 Mei 2009

EVOLUSI - dan BUKTI SCIENCE

Menyebarluaskan liputan berjudul “Tutup pameran-pameran ini!” atau “Larang buku ini!” dan menggunakannya untuk ditanamkan ke dalam pikiran masyarakat umum, padahal bumi yang mereka injak dipenuhi fosil yang membuktikan fakta Penciptaan, menunjukkan kesulitan mengenaskan yang kini dialami sendiri oleh kaum Darwinis.....

----------

Harun Yahya

Pameran fosil yang berlanjut dengan kecepatan penuh di seluruh wilayah Turki tampak menyebabkan kegelisahan mendalam dan kepanikan di kalangan lingkaran media tertentu. Tidak mampu menyodorkan bukti apa pun yang membantahnya dan dilanda kepanikan karena dihadapkan perkembangan ini, kalangan tersebut mengambil langkah pelarangan dan penghalangan. Namun, menerbitkan laporan yang ditujukan dalam rangka penghentian pameran fosil dan pelarangan buku Atlas Penciptaan tidak dapat menghentikan runtuhnya Darwinisme.

Yang seharusnya dilakukan media Darwinis adalah menampilkan fosil-fosil bentuk peralihan yang menunjukkan bukti evolusi, daripada mencoba menutupi temuan-temuan ilmiah tersebut. Namun tak satu fosil bentuk peralihan pun telah ditemukan hingga kini, dan tidaklah mungkin fosil itu akan ditemukan di masa mendatang. Sungguh, semua tantangan kami kepada para evolusionis agar mereka memamerkan bentuk-bentuk peralihan mana pun yang mungkin mereka miliki tidak pernah dipenuhi, dan kaum Darwinis menjadi bungkam di hadapan temuan-temuan fosil yang membuktikan fakta Penciptaan.

Mereka yang berusaha menghentikan pameran fosil tidak sadar bahwa terdapat jutaan fosil di bawah bangunan-bangunan tempat fosil-fosil ini dipamerkan dan di bawah jalan-jalan yang mereka lalui untuk meliput masalah ini, dan bahwa masing-masing dari fosil ini mengarahkan kepada Penciptaan. Di daerah mana pun di Anatolia dilakukan penggalian, atau di kota mana pun di Marmara, atau di distrik mana pun di Istanbul, tidak peduli jalan mana yang digali, jutaan fosil yang keberadaannya membuat orang-orang ini sedemikian ketakuan akan ditemukan. Hanya beberapa contoh, seperti fosil ikan berumur 15 juta tahun ditemukan selama penggalian sebuah sumur di Feke, Adana; fosil gajah, kambing dan kuda nil berumur 10-8 juta tahun, ditemukan di Nevshir; fosil ikan gurami berumur 15 juta tahun ditemukan di penambangan batu di Silifke, Mersin; atau fosil gajah, rusa, badak, jerapah, kambing dan beruang ditemukan di Kokluce, Sivas merupakan bukti berlimpahnya jumlah fosil yang membuktikan Penciptaan yang ada di perut bumi.

Menyebarluaskan liputan berjudul “Tutup pameran-pameran ini!” atau “Larang buku ini!” dan menggunakannya untuk ditanamkan ke dalam pikiran masyarakat umum, padahal bumi yang mereka injak dipenuhi fosil yang membuktikan fakta Penciptaan, menunjukkan kesulitan mengenaskan yang kini dialami sendiri oleh kaum Darwinis.

Hanya fosil-fosil yang benar-benar telah membatu yang ditampilkan pada pameran ini, dan di bawahnya ditulis kata-kata “fosil ini tetap tidak berubah selama ratusan juta tahun.” Fosil-fosil tersebut sama persis dengan spesimen masa kini, dan masyarakat umum dapat memahami hal ini dengan mudah tanpa perlu penjelasan lebih dalam. Jutaan fosil, seperti laba-laba berumur 125 juta tahun, buaya berumur 100 juta tahun, udang berumur 95 juta tahun, semut berumur 45 juta tahun, pakis berumur 300 juta tahun, daun tumbuhan Willow berumur 50 juta tahun atau tengkorak hyena berumur 80 juta tahun memberitahu kita “kami tidak pernah berevolusi, kami diciptakan.” Fosil-fosil ini menunjukkan bahwa teori evolusi adalah sebuah mitos, tanpa perlu penjabaran tambahan apa pun. Siapa pun yang berpikir lurus dengan daya pemahaman dapat dengan mudah memahami ini. Sekali mereka melihat bukti-bukti yang terlampau jelas dan nyata ini, masyarakat tidak akan tersesatkan lagi oleh penipuan Darwinisme.

Bertahun-tahun, Darwinisme benar-benar telah memiliki pengaruh hipnotis pada masyarakat dan menanamkan ke dalam pikiran mereka sebuah kebohongan besar. Namun sekarang tiada guna lagi bagi media evolusionis melanjutkan kebohongan ini dengan cara yang begitu menyedihkan. Sebagaimana ratusan ribu orang yang telah melihat dan menerima fakta-fakta yang sebenarnya, mereka juga wajib mengakui bahwa mereka telah “dibohongi” dan sadar bahwa tidaklah pernah terlambat untuk memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan.

Penelitian menunjukkan bahwa pengaruh Darwinisme di Turki terus berkurang setiap harinya. Pada awal 1980-an, jumlah orang yang tidak percaya pada evolusi sekitar 30 – 40%, namun sebuah jajak pendapat yang dilakukan pada 2006 menunjukkan bahwa 75% rakyat Turki tidak lagi percaya pada teori evolusi. Menurut jajak pendapat terakhir oleh Yayasan Pengkajian Ekonomi dan Sosial Turki (TESEV), 87,4% rakyat Turki percaya bahwa “Tuhan menciptakan manusia.”

Perkembangan serupa terjadi di Prancis, di mana orang-orang dikejutkan dengan fakta-fakta ilmiah yang mereka saksikan pada Atlas Penciptaan. Jika jajak pendapat dilakukan tahun depan, maka akan tampak perbedaan besar antara jumlah orang di Prancis yang mempercayai teori evolusi tahun lalu dan tahun depan. Jika ditanyai tahun depan, sejumlah besar masyarakat Prancis akan mengatakan bahwa mereka tidak percaya pada Darwinisme. Dan tidak hanya di Prancis; orang-orang di Italia, Inggris, Jerman, Swis, Denmark dan Belgia, singkatnya, orang-orang di seluruh dunia, akan menyaksikan fakta-fakta tersebut dan dengan segera terbebaskan dari sihir Darwinisme. Matahari yang akan menerangi seluruh dunia telah lahir.

Formula Darwinisme yang Tidak Rasional, Tidak Logis dan Tidak Ilmiah

Pada kenyataannya, pernyataan mendasar Darwinisme sepenuhnya tidaklah ilmiah, dan ketiadaan nalarnya sedemikian jelas sehingga anak usia sekolah dasar pun dapat melihatnya. Menurut Darwinisme, dengan cara yang tidak dapat dijelaskan, sel pertama diduga terbentuk di lingkungan zaman purba bumi, dalam sebuah genangan air berlumpur. Dan dari sel tunggal itu, serangkaian kejadian kebetulan tanpa akhir benar-benar memunculkan hewan, tumbuhan, manusia dan peradaban. Dengan kata lain, seluruh umat manusia, dan juga seluruh kerajaan tumbuhan dan hewan, diyakini sebagai hasil karya lumpur berkadar tepat, waktu yang lama dan berlimpah kejadian kebetulan.

Menurut kaum Darwinis, yang menderita kekurangan nalar yang jelas, bahan-bahan tadi, yang masing-masingnya tidak berkesadaran, memunculkan manusia yang memiliki akal dan kesadaran, yang berpikir, mencintai, merasa kasihan, memiliki penilaian bijaksana, menghasilkan lukisan dan patung, menggubah simponi, menulis buku cerita, membangun pencakar langit, membangun reaktor nuklir, menemukan penyebab penyakit dan meramu obat untuk mengobatinya, atau berpolitik. Mereka menyatakan bahwa ketika waktu yang cukup telah terlewati, singa, harimau, kelinci, rusa, gajah, kucing, anjing, ngengat, lalat, buaya dan burung semuanya berevolusi secara kebetulan dari air berlumpur. Semua jenis buah-buahan dan sayur-mayur, dengan rasa dan aromanya yang khas – jeruk, strawberi, pisang, apel, anggur, tomat, lada – bunga dengan bentuk yang tiada bandingannya dan tetumbuhan lain kesemuanya muncul dari lumpur yang sama.

Singkatnya, sejak zaman Darwin, tak terhitung tulisan, karya tulis ilmiah, film, laporan surat kabar, artikel majalah dan acara televisi telah mengulang-ulang cerita evolusionis bahwa semua bentuk kehidupan muncul secara kebetulan dari lumpur. Dengan kata lain, jika Anda bertanya pada seorang Darwinis “Bagaimana peradaban kita muncul?” atau, “Bagaimana begitu banyak bentuk kehidupan muncul menjadi ada?” atau, “Bagaimana manusia menjadi ada?” Inti jawaban yang akan Anda terima adalah ini: Kejadian-kejadian kebetulan memunculkan semua hal tersebut dari lumpur, seiring berjalannya waktu.

Tak diragukan, seseorang mestilah tidak berakal atau tidak memiliki sarana pemahaman apa pun untuk mempercayai dongeng semacam itu. Namun anehnya, teori yang sangat tidak masuk akal dan bertentangan dengan nalar itu memiliki pengikut selama bertahun-tahun dan masih terus disebarluaskan dengan bungkus ilmiah.

Darwin Sendiri Menyatakan bahwa Tidak Ada Fosil Bentuk Peralihan

1. Dalam bab “Kesulitan Pada Teori” dari bukunya, Darwin menulis:

“… Mengapa, jika spesies-spesies telah diturunkan dari spesies lain melalui perubahan halus bertahap, tidak kita saksikan di mana pun bentuk-bentuk peralihan yang tak terhitung? Mengapa seluruh makhluk hidup tidaklah membingungkan tapi malah berwujud spesies, seperti yang kita lihat, yang terpisahkan dengan baik? … Tetapi, karena menurut teori ini bentuk peralihan yang tak terhitung haruslah pernah ada, mengapa kita tidak menemukannya terpendam dalam jumlah tak terhitung dalam kerak bumi? …Lalu kenapa tidak setiap bentukan geologis dan setiap lapisan dipenuhi rantai-rantai peralihan semacam itu? Geologi sudah pasti tidak menyingkap rantai kehidupan apa pun yang berubah secara halus bertahap semacam itu; dan ini, mungkin, adalah keberatan paling jelas dan berat yang dapat dikemukakan untuk melawan teori saya.” (Charles Darwin, The Origin of Species, hal. 172)

2. Walaupun seorang evolusionis, profesor Steven M. Stanley dari Universitas John Hopkins, mengakui fakta tentang catatan fosil, dengan mengatakan:

“Catatan fosil yang diketahui tidaklah, dan tidak pernah, sesuai dengan teori perubahan bertahap… sebagaimana ditulis baru-baru ini oleh sejarawan biologi William Coleman, ‘Sebagian besar pakar fosil merasa bukti-bukti mereka semata-mata bertentangan dengan penekanan Darwin pada perubahan-perubahan teramat kecil, lambat dan terkumpul yang mengarah pada perubahan spesies.’ …kisah mereka telah disembunyikan.” (S. M. Stanley, The New Evolutionary Timetable: Fossils, Genes, and the Origin of Species, Basic Books Inc. Publishers, N.Y., 1981, hal. 71)

3. Pakar fosil Niles Edredge dan antropolog Ian Tattersall, dari Museum Sejarah Alam Amerika, menyatakan bahwa catatan fosil sudah cukup memberikan pemahaman tentang sejarah kehidupan dan bahwa hal itu sama sekali tidak mendukung teori evolusi:

“Bahwa masing-masing jenis fosil diakui tetaplah sama di sepanjang masa keberadaan mereka dalam catatan fosil telah diketahui para ahli fosil jauh sebelum Darwin menerbitkan bukunya. Darwin sendiri, …meramalkan bahwa ilmuwan-fosil generasi mendatang akan mengisi celah ini dengan pencarian yang tekun… Penelitian tentang fosil seratus dua puluh tahun kemudian, telah terlampau jelas bahwa catatan fosil tidak akan membenarkan ramalan Darwin tentang masalah ini. Permasalahan ini bukan pula karena catatan yang sangat tidak lengkap. Catatan fosil sekedar menunjukkan bahwa ramalan ini salah.” (N. Eldredge and I. Tattersall, The Myths of Human Evolution, Columbia University Press, 1982, hal. 45-46)

4. Profesor paleontologi dari Universitas Glasgow, T. Neville George mengakui hal ini bertahun-tahun silam:

“Tidak perlu lagi meminta maaf atas miskinnya catatan fosil. Dalam beberapa hal [catatan fosil] sudah berlimpah hingga hampir susah disusun, dan penemuan melampaui penyusunan… Walaupun begitu, catatan fosil sebagian besarnya masih tersusun atas celah-celah. “(T. N. George, “Fossils in Evolutionary Perspective,” Science Progress, Vol. 48, Januari 1960, hal. 1)

5. Kapan pun catatan fosil disebutkan, sebagian besar orang membuat kesan bahwa terdapat kaitan positif antara catatan fosil dan teori Darwin. Kesalahan ini dibahas dalam sebuah tulisan dalam jurnal Science:

“Sejumlah besar ilmuwan yang terlatih-baik di luar bidang biologi evolusi dan paleontologi sayangnya telah berpikiran bahwa catatan fosil lebih bersifat Darwinis dari pada yang sebenarnya… Di tahun-tahun setelah Darwin, para pembelanya berharap menemukan perkembangan yang dapat diperkirakan. Secara umum, ini masih belum ditemukan namun harapan tersebut telah tetap bertahan, dan sejumlah khayalan murni telah merasuki buku-buku pelajaran.” (Science, 17Juli 1981, hal. 289)

6. Sebagaimana diamati oleh Edmund J. Ambrose, profesor emeritus biologi sel pada Universitas London:

“Pada tahap sekrang dari penelitian geologis, kita harus mengakui bahwa tidak ada sesuatu pun dalam catatan geologis yang bertentangan dengan pandangan para penganut penciptaan konservatif, bahwa Tuhan telah menciptakan tiap-tiap spesies secara terpisah…” (Edmund J. Ambrose, The Nature and Origin of the Biological World, John Wiley & Sons, 1982, hal. 164)


Komentar untuk artikel: Atlas Penciptaan dan Pameran Fosil Menyebabkan Kepanikan di Dunia

yanto_email, 29 Jan 2009

Orang yang sudah berfikiran modern mustinya mempunyai prinsip kebebasan berfikir.Bukannya memaksakan kehendak supaya orang berfikir dengan jalan berfikir yang sama dan serupa.Sebaab memaksakan homogenitas berfikir berarti sudah tidak berfikir ilmiah lagi.Bukankah sesuatu disebut ilmiah itu tidak memiliki tendensi lain kecuali konsep ilmiah itu sendiri.Orang boleh berfikir bebas,tetapi kebebasan berfikirnya itu tidak boleh membelenggu kebebasan berfikir orang lain.Kalau tidak ingin disebut si\"tuan\"picik,seperti katak mati dalam tempurung, hiodupnya saja dia tidak tahu cakrawala yang luas apalagi mati cape deh.


gelombangalfa, 03 Apr 2009

Setelah mencermati buku \'ATLAS PENCIPTAAN\' terbuka pikiran sy bahwa berbagai fosil yang telah ditemukan memang tidak menunjukkan adanya perubahan (evolusi).
Buku ini wajib dijadikan acuan bagi pendidikan di Indonesia, agar peserta didik tidak teracuni oleh adanya teori evolusi.

Jumat, 08 Mei 2009

KRISIS PEMAKAI KPR

MEMILIKI hunian nyaman tentu jadi idaman semua orang. Lebih lagi bagi keluarga muda yang ingin mandiri. Tapi, rasa bimbang kadang menghadang. Selain duit yang mepet, lokasi rumah baru di kompleks perumahan yang jauh dan masih sepi sering menjadi biang keraguan.

Itu sebabnya sebagian orang lebih suka membeli rumah seken. Maklum, pembeli bisa lebih leluasa memilih lingkungan yang dikehendakinya. Kita bisa memilih lokasi yang sudah matang, misalnya sudah ada tetangga, dekat pasar atau pusat perdagangan, serta lengkap segala macam infrastruktur.

Bandingkan dengan membeli rumah baru di kompleks baru. Kita tak tahu persis lingkungannya kelak akan menjadi seperti apa. Kalau pun nantinya lingkungan berkembang tak seperti harapan, kita tak bisa berkutik kecuali menjualnya.

Selain leluasa memilih lingkungan, ada kalanya pembeli rumah seken beruntung mendapatkan rumah dengan kualitas bagus, ukuran lebih luas, tetapi dengan harga relatif lebih miring ketimbang memesan rumah anyar di kompleks perumahan baru.

Menurut Darmadi Darmawangsa, Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI), harga rumah seken lebih murah 5%-10% ketimbang rumah baru. Sudah begitu, umumnya di kawasan sekitarnya sudah terbentuk harga wajar rumah dan tanah yang bisa kita jadikan acuan tawar menawar.

Tak selamanya kondisi rumah bekas lebih mengenaskan ketimbang rumah anyar. Kebanyakan penjual sudah memperbaiki rumahnya agar calon pembeli tak lari ketakutan membayangkan biaya renovasi.

Walau menggiurkan, tak mudah bagi kita untuk mendapatkan rumah seken yang setimpal dengan harganya. Ada patokan baku yang harus diperhatikan agar tak menyesal di belakang hari. Misalnya, jangan tergiur melihat penampilan luar rumah. Kita juga harus melihat kondisi dalam rumah. Dengan begitu, kita bisa menakar biaya perbaikan pascapembelian.

Kabar baiknya, krisis ekonomi saat ini memancing penambahan penawaran rumah seken. Alhasil, banyak pilihan rumah seken yang bisa kita comot. “Ketimbang properti jenis lain, pasar rumah bekas tetap ramai,” ujar Darmadi.

Ia yakin pasar properti rumah seken bisa lebih bertahan ketimbang rumah baru. Terutama di wilayah Bandung, Surabaya, dan Jakarta. Buktinya, selama Januari - Februari lalu, jumlah permintaan rumah bekas lebih baik dibanding periode November - Desember 2008.

Pasar rumah seken lebih hidup karena terjadi life cycle penghuninya. Hampir selalu sebuah keluarga membutuhkan rumah dengan ukuran yang lebih luas lagi, seiring bertambahnya usia dan jumlah anggota keluarga. Namun, setelah pensiun, rumah yang ditinggali terasa terlalu besar, akhirnya dijual. Begitu seterusnya.

Dari sisi harga, pilihan rumah seken juga melimpah. Menurut Evi Susanti, Manajer Pemasar-an Procon, harga pasaran rumah seken bervariasi dari Rp 100 juta sampai Rp 5 miliar.

Namun, Evi mengingatkan harga pasar rumah seken juga bergantung pada lokasi. Semakin ke tengah kota, harga makin melangit. Makin jauh dari pusat kota, harganya semakin melandai. Agar tak silap, dia menyarankan calon pembeli mempelajari karakteristik wilayah masing-masing.
Khusus bagi Anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, berikut ini karakter beberapa wilayah yang bisa menjadi bekal berburu rumah seken.

Pondok Indah, Jakarta Selatan

Wilayah ini merupakan salah satu kawasan favorit bagi pencari rumah seken, baik yang bertujuan sebagai investasi maupun sebagai hunian. Nilai rumah bekas di wilayah ini terus meningkat karena banyak pekerja asing yang menyewa. Tak usah heran, banyak pembeli memburu rumah bekas untuk disewakan.

Dari reportase KONTAN, harga pasaran rumah seken di kawasan Selatan Jakarta terbilang masih tinggi. Untuk kawasan Pondok Indah, misalnya, harga termurah rumah ukuran 200 m² adalah Rp 2 miliar. Lalu harga rumah dengan luas tanah 3.000 m² bisa mencapai Rp 15 miliar sampai Rp 20 miliar.

Menurut William Sutedja, Principal Manager Era Platinum daerah Jakarta Selatan dan Depok, penjualan rumah seken di daerah Jakarta Selatan tak terimbas krisis lantaran para pembeli berasal dari kalangan menengah ke atas. “Saat pasar keuangan hancur, membeli rumah menjadi salah satu pilihan,” ujar William.

Tomang, Jakarta Barat

Tak beda jauh dengan Selatan Jakarta, permintaan rumah seken di kawasan Tomang Jakarta Barat juga cenderung meningkat. Namun lonjakan permintaan tak terlalu tinggi. “Masih di bawah 5%,” ujar Yunior Liu, Principal Manager Ray White Jakarta Barat (Tomang).

Peningkatan ini lebih banyak terjadi pada rumah seken untuk kalangan menengah ke atas. Sementara penjualan rumah bekas yang menyasar pembeli menengah ke bawah dengan nilai penjualan kurang Rp 1 miliar menurun 10%. “Pasar menengah bawah kena imbas lantaran mereka membayar dengan cara KPR, sementara yang menengah ke atas membayar secara kontan,” kata Liu.

Pasokan rumah seken di sekitar Tomang bervariasi mulai luas 90 m², 200 m², hingga 600 m². Adapun harga tanah di kawasan itu berkisar di atas Rp 4 juta per m² serta harga bangunan antara Rp 2,5 juta hingga ?Rp 4 juta per m².

Kelapa Gading, Jakarta Utara

Pasar rumah seken di kawasan Jakarta Utara juga bergairah. Salah satu lokasi yang mengalami lonjakan paling tinggi ada di sekitar Kelapa Gading.
Penjualan rumah seken di kawasan itu meningkat tinggi, hingga kisaran 30%. “Dengan kisaran harga pilihan konsumen antara Rp 1 miliar sampai Rp 2 miliar,” ujar David Tjandra, Principal Manager Ray White Jakarta Utara.

Minat orang untuk berburu rumah seken di Kelapa Gading masih tinggi karena pasarnya sangat likuid. Pemilik rumah mudah menemukan pembeli jika ingin menjualnya kembali.

Harga di Kelapa Gading juga tak kalah bervariasi. Kisaran harga tanah di atas Rp 10 juta per m². Adapun harga bangunan di atas Rp 3 juta per m².

Bintaro, Jakarta Selatan

Tahun lalu pasar rumah seken di Bintaro Jakarta Selatan sempat lesu. Tapi, selama tiga bulan terakhir, permintaan kembali melonjak drastis. “Bisa naik sampai 80%,” ujar Chichi Pramudita, Associate Manager Era Radiant untuk daerah Tangerang dan Bintaro.

Chichi bahkan bilang, sejak awal tahun penjualan sudah normal. Buktinya, dia bisa melego 10 rumah hanya dalam dua bulan. Padahal pada akhir 2008 dia hanya mampu menjual 2 - 3 rumah setiap bulan. Makanya, dia optimistis target penjualan senilai Rp 6 miliar per bulan bisa dia penuhi.

Di Bintaro, kawasan favorit pencari rumah seken ada di Sektor 9. Daerah itu memang khusus menjadi wilayah permukiman. Di sana, Anda bisa menemukan berbagai tipe rumah, dari ukuran terkecil dengan luas tanah 96 m² hingga 600 m². Harga yang tersedia di sana pun bervariasi, dari Rp 250 juta hingga miliaran rupiah.

Kelebihan sektor ini adalah akses yang singkat ke jalan tol, daerah perkantoran, pusat perbelanjaan, dan sekolah. Tak usah heran bila daerah ini cocok dijadikan sebagai ajang investasi lantaran harga rumah seken terus melambung.
Selamat berburu.

Minggu, 26 April 2009


BAGAIMANA MENGHINDARI KRISIS KEUANGAN INTERNASIONAL

oleh Leland B. Yeager

Diringkaskan dari:
"How to Avoid International Financial Crises"
CATO Journal, Winter 1998

Polarisasi kebijakan nilai tukar mata uang.

Pada satu sisi ialah unifikasi moneter, dan pada sisi yang lain ialah nilai tukar mengambang murni. Kedua sisi polarisasi maupun semua kebijakan diantara kedua polarisasi itu mengandung keuntungan dan kerugian masing-masing. Namun adanya suatu kerugian dalam suatu sistim bukanlah berarti sistim itu sama sekali tidak berguna. Pelajaran dasar ilmu ekonomi adalah memilih mana yang memberikan lebih banyak keuntungan dibandingkan beban yang harus dibayar untuk kerugian atau keburukan dari pilihan itu.

Diantara kedua polarisasi kebijakan nilai tukar itu ada kebijakan-kebijakan yang merupakan kompromi, yang masing-masing bisa mempunyai suatu keunggulan pada suatu saat, tapi dengan sistim yang sama situasi dapat berubah menjadi sangat memburuk pada saat yang lain.

Diantara negara-negara yang ada unifikasi mata uang, tidak pernah ada masalah mengenai lalu lintas modal spekulatif dari negara yang satu kenegara yang lain.
Floating murni, adalah kebijakan yang tidak pernah menimbulkan krisis bagi otoritas yang berkepentingan karena nilai tukar bebas untuk bergerak sesukanya. Krisis yang dimaksud disini bukan berarti tidak ada, tetapi yang mengalami krisis adalah sektor ekonomi yang lain.

Fixed rate atau "Bretton Woods System" bermaksud untuk mendapatkan yang terbaik dari kedua sifat polarisasi, tetapi dalam banyak hal justru mendapatkan bagian yang terburuk dari keduanya. Sistim ini sangat terancam oleh spekulasi satu arah. Jika ada indikasi nilai tukar fixed sedang tergoncang untuk berubah maka dipastikan spekulator akan menyerang, dengan perhitungan bila benar terjadi perubahan ia akan untung besar sedangkan bila ternyata tidak terjadi perubahan kurs maka ia tidak rugi seberapa. Itulah sebabnya spekulasi besar-besaran seringkali dialami dan dilain pihak intervensi besar-besaran pun diupayakan untuk mempertahankan nilai kurs tetap tidak berubah.

Belakangan ini sebagai alternatif terhadap sistim kurs tetap berpola Bretton Woods, direkomendasikan pilihan yang bernama Currency Boards atau dewan mata uang. Sistim kerja dewan mata uang beroperasi mendekati pola unifikasi moneter dengan menetapkan nilai tukar mata uang domestik secara pasti pada tingkat tertentu terhadap satu atau sejumlah matauang luarnegeri. Tingkat nilai tukar dipertahankan dengan memiliki cadangan valuta asing sekurang-kurangnya 100% dari uang domestik (dalam arti sempit). Dewan mata uang tidak dapat kekurangan cadangan untuk mempertahankan tingkat nilai tukar itu.

Dengan cukup memiliki cadangan 100% tidak dari seluruh uang yang beredar, melainkan hanya sejumlah uang kertas dan koin yang diterbitkan oleh dewan itu sendiri, dewan menjamin penukaran kedalam valuta asing sesuai nilai tukar yang ditentukan. Berbeda dengan pegging pola Bretton Woods, pola ini pasti mampu bertahan, sepanjang dewan tetap bebas dari kewajiban campur tangan terhadap lembaga keuangan lainnya. Dalam hal ini bank-bank komersial masing-masing harus bekerja dengan prudent dan selalu harus bisa mendukung deposito dan uang giral yang dipegangnya untuk ditukarkan kedalam uang dasar (base money).

Apa yang terjadi bila, ternyata, bank-bank tidak bekerja dengan baik atau karena sesuatu hal mengalami musibah sehingga kena rush ? Jika dewan mata uang harus menolong dengan memberikan bantuan likuiditas, maka disitulah bisa terjadi dewan kekurangan cadangan terhadap kewajibannya sendiri. Matauang domestik akan menjadi sasaran serangan spekulasi terhadap kemungkinan devaluasi. Peristiwa serupa ini terjadi di Argentina 1995 dan di Hongkong 1997.

Satu pola kebijakan nilai tukar lainnya yaitu Managed floating dimana intervensi pihak yang berwenang tidak dimaksudkan untuk bertahan terhadap perubahan yang fundamental, tetapi hanya untuk menghilangkan fluktuasi akibat perbedaan supply dan demand jangka pendek atau goncangan spekulatif sesaat. Pola solusi yang memerlukan intervensi selalu dihantui oleh kekuasaan 'big-player', seperti dijelaskan dibawah ini. Kata-kata pengantar bahwa nilai tukar dibiarkan mengambang selama masih dalam band tertentu, pada akhirnya tidak lebih dari kata-kata pemanis saja.

Pola-pola kebijakan yang mengandung unsur kompromi, selalu memperlihatkan adanya masalah intervensi, yang kemudian ternyata satu intervensi memerlukan adanya intervensi lain terus-menerus. Begitu juga sebaliknya, jika intervensi dihilangkan, pembebasan secara partial akan berakibat timbulnya konsekwensi yang mempertanyakan apakah pengendalian yang masih berlangsung harus dihentikan atau pembebasannya dibatalkan.

Perpindahan modal:

Ada macam-macam sifat dan pengaruh perpindahan modal dalam berbagai pola kebijakan nilai tukar. Pelarian modal spekulatif bisa berasal dari masuknya modal yang semula bukan bersifat spekulatif.

Dalam kebijakan nilai tukar tetap, termasuk sistim dewan mata uang, surplus neraca pembayaran yang diakibatkan pemasukan modal asing cenderung mengekspansi jumlah uang beredar domestik dan menimbulkan inflasi.
Pergerakan modal dinegara-negara dengan unifikasi moneter tidak menambahkan jumlah uang beredar dinegara tujuan.

Dinegara dengan nilai tukar mengambang, perpindahan modal cenderung terhambat oleh ketidak pastian nilai tukar, dan perubahan nilai tukar itu sendiri akan menurunkan hasrat penanaman modal. Nilai tukar yang fluktuatif terhadap aliran modal berpengaruh kepada semua transaksi dan bukan hanya terhadap perpindahan modal itu saja. Dan nilai tukar yang mengambang itu merugikan sektor-sektor ekonomi tertentu pada setiap kali terjadi perubahan.

Sekali lagi tidak ada sistim yang memiliki banyak kebaikan dan tidak ada keburukannya. Kebijakan nilai tukar tetap menghilangkan fluktuasi nilai tukar dengan jalan membebaskan naik atau turunnya jumlah uang beredar domestik, dan juga dengan berakibat timbulnya ketidak pastian pegging kurs akan bertahan sampai kapan.
Unifikasi moneter mengorbankan sifat quasi-fleksibilitas dalam harga-harga dan upah regional, serta juga menghilangkan kegunaan kebijakan moneter yang bisa disetel mengikuti kondisi lokal.

Pemain kelas berat (Big Players):

Pemain kelas berat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang bisa memainkan pengaruh terhadap pasar sementara ia sendiri kebal terhadap perubahan laba atau rugi. Dalam konteks ini mereka adalah pemerintah, bank sentral, dan organisasi internasional. Para pemain kelas berat ini yang menentukan tingkat nilai tukar dan kebijakan intervensi. Begitu pula perubahan kebijakan ekonomi yang banyak berpengaruh kepada berbagai pihak. Mereka menjadi titik pandang para rent-seeker.

IMF adalah juga 'Big player' dalam memutuskan apakah akan mendukung mata uang yang sedang diserang atau menyediakan dana pinjaman. Kebijakan IMF diingini atau tidak, menjadi panutan bagi penilaian terhadap suatu negara, dan kredit yang ia berikan menjadi "penglaris" yang akan diikuti pemberi pinjaman lainnya.

Krisis Keuangan dan Teori Moneter

Teori moneter atau 'ketidakseimbangan moneter' singkatnya menjelaskan bahwa peristiwa booming perekonomian yang menimbulkan inflasi atau kelesuan bisnis yang menjadikan resesi, adalah akibat dari keadaan jumlah uang beredar didalam suatu negara, yaitu masing-masing dalam keadaan berlebihan atau kekurangan, dibandingkan jumlah uang yang diinginkan masyarakat pada tingkat harga-harga dan upah yang berlaku. Teori moneter menggambarkan masalah kompleks yang tidak dapat dihindarkan dan ancaman perlunya dilakukan penyesuaian terhadap satuan nilai sebagai akibat ketidakseimbangan supply dan demand suatu matauang pada satuan nilai yang lama.

Krisis Asia menunjukkan analogi permasalahan perbankan dan perusahaan yang memiliki pinjaman sangat besar dalam valuta asing. Depresiasi matauang lokal berarti melonjaknya kewajiban pembayaran hutang. Permintaan valas untuk membayar hutang bersifat inelastis, dan dengan demikian suatu depresiasi akan membawa depresiasi lebih lanjut kedalam lingkaran setan. Baik debitur, kreditur maupun mitra dagangnya semua turut menderita.

Dalam konteks internasional persoalan menjadi semakin kompleks karena keterlibatan dua atau lebih mata uang. Perubahan nilai tukar mata uang yang dipegged secara kurang mantap, ataupun hanya prospek perubahan, mengacaukan fungsi uang sebagai alat pembayaran. Begitu pula fluktuasi nilai tukar mengambang yang dikaitkan dengan inflasi. Semua itu digambarkan dalam krisis keuangan internasional ini, bahwa seharusnya mata uang yang stabil adalah vital bagi koordinasi perekonomian, kalkulasi dan perencanaan bisnis.

Kesimpulan

Kesimpulan yang diambil oleh Yeager dalam artikel ini mengungkapkan suatu pemahaman yang menekankan bukan kepada bagaimana menyusun kebijakan nilai tukar tetapi kepada apa yang dinamakan matauang itu sendiri.

Pengaturan kebijakan nilai tukar menyebabkan sukar untuk memastikan nilai dari mata uang itu sendiri, karena hal ini banyak tergantung dari kebijaksanaan bank sentral, dimana bank sentral sendiri mendapat serangan bertubi-tubi dari dalam maupun luar negeri.

Reformasi mendasar disarankan untuk mengatasi ketergantungan itu. Bentuk reformasi ini adalah dengan melepaskan kebijakan menerbitkan uang dari tangan pemerintah (!)

Pihak yang menerbitkan uang ialah penerbit-penerbit mata uang dan deposito, yang masing-masing bertanggung jawab untuk mematuhi komitmen yang ia berikan.

Masing-masing penerbit dalam menerima deposito dan menerbitkan mata uang, wajib memperhitungkan kemungkinan terjadinya arus bolak-balik pemasukan dan pengeluaran dana, ia harus memperhatikan sepenuhnya bukan hanya portofolio aktiva tetapi juga bagaimana ia mengatur kelancaran kewajiban-kewajiban moneternya.

(Diskusi lebih detail, lihat: Yeager, L.B. (1997) The Fluttering Veil; Essays on Monetary Disequilibrium (337-425). Edited by G.Selgin. Indianapolis, Ind.; Liberty Fund.)

Minggu, 22 Maret 2009

Orang kaya Versi majalah Forbes



Yang tersungkur dan tertawa dari versi Forbes
oleh : Algooth


Majalah prestisius Forbes kembali merilis data para hartawan. Hasil survei dan pesan dari penerbitan yang didirikan Bertie Charles Forbes ini gamblang. Hampir semua hartawan bernasib serupa. Likuiditas mengering karena krisis global.

Secara keseluruhan, orang-orang terkaya di dunia mengalami pengurangan harta. Tahun ini, para taipan dunia itu memiliki tingkat rata-rata kekayaan bersih sekitar US$3 miliar, atau terjadi penurunan 23% dibandingkan dengan tahun lalu.

Sekarang dunia memiliki 793 miliarder, turun dari jumlah tahun lalu yang mencapai 1.125 orang. Forbers menghitung kekayaan orang-orang tersebut berdasarkan harga saham di bursa. Bagi miliarder yang perusahaannya tidak diperdagangkan di lantai bursa, kekayaan mereka dinilai dengan membandingkan dengan perusahaan publik serupa.

Penurunan jumlah kekayaan terbesar dialami dua hartawan yang berasal dari Asia.

Pengusaha realestat raksasa Ramesh Chandra asal India tidak lagi menyandang gelar miliarder. Keluarga Tsai dari Cathay Financial Holdings, Taiwan, yang memiliki kekayaan bersama keempat saudaranya senilai US$3,3 miliar juga tidak lagi masuk daftar.

Orang yang kini kembali berada di posisi puncak daftar orang terkaya di dunia, Bill Gates, kehilangan pundi-pundi US$18 miliar. Kekayaan bersihnya sekarang mencapai US$40 miliar.

Peringkat orang terkaya kedua dipegang oleh Warren Buffet yang tahun lalu bertengger di posisi puncak, dengan harta US$37 miliar.

Jumlah kekayaan Buffet berkurang sebesar US$25 miliar saat saham Berkshire Hathaway terjatuh hampir 50% dalam kurun 12 bulan terakhir.

Raksasa telekomunikasi Meksiko Carlos Slim Helu tergelincir satu peringkat dan sekarang berada pada peringkat ketiga dengan US$35 miliar alias US$25 miliar 'lebih miskin' dibandingkan dengan tahun lalu.

Asia Pasifik menyumbangkan 130 miliarder dalam daftar tersebut, jauh berkurang dibandingkan dengan jumlah tahun lalu sebanyak 211 orang.

Dari 130 nama tersebut, tujuh orang di antaranya adalah pendatang baru. Jumlah kekayaan bersih dari para miliarder Asia tersebut juga mengalami penurunan, bahkan mencapai 55%, menjadi US$357 miliar dari US$804 miliar.

Dari para miliarder dari Asia Pasifik tersebut, 28 orang berasal dari China, 24 orang dari India, 19 orang dari Hong Kong, 17 orang dari Jepang, 10 orang dari Australia, dan enam dari Malaysia.

Indonesia dan Taiwan menyumbangkan lima orang dalam daftar tersebut diikuti Korsel dengan empat miliarder, Selandia Baru dan Thailand masing-masing tiga orang. Selanjutnya Kazakhstan, Filipina dan Singapura masing-masing dua orang.

Sosok terkaya di Asia dan merupakan orang terkaya nomor 7 di dunia adalah miliarder asal India Mukesh Ambani, pemimpin Reliance Industries. Kekayaan bersihnya mengalami penurunan dari US$23,5 miliar menjadi US$19,5 miliar.

Meski merosot, kekayaan Ambani masih lebih tinggi dari harta sosok terkaya tahun lalu untuk Asia, Lakshmi Mittal, 58. Kekayaan Mittal, pengusaha baja yang menempati urutan 8, merosot dari US$25,7 miliar menjadi US$19,3 miliar.

Anjloknya harta orang-orang terkaya tersebut tak lepas dari krisis global yang ikut menekan harga saham di lantai bursa hingga lebih dari separuh. Secara hiperbolis kini para hartawan itu makin miskin

Hal serupa dialami para hartawan Indonesia yang mesti mengetatkan ikat pinggang disebabkan oleh anjloknya harga komoditas dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

5 WNI yang masuk jajaran orang terkaya dunia versi Forbes
Peringkat 430 R Budi Hartono US$1,7 miliar
Peringkat 430 Michael Hartono US$1,7 miliar
Peringkat 450 Sukanto Tanoto US$1,6 miliar
Peringkat 522 Martua Sitorus US$1,4 miliar
Peringkat 701 Peter Sondakh US$1 miliar

Generasi Djarum

Indonesia jelas tak ada apa-apanya dengan para pebisnis Asia lainnya. Posisi hartawan Merah Putih bahkan terpuruk ke urutan 400-an. Generasi kedua Djarum, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono kini menempati peringkat ke-430, masing-masing memiliki harta US$1,7 miliar.

Padahal, 2 tahun lalu, Forbes mencatat Michael memiliki US$3,08 miliar, sedangkan Robert sebanyak US$3,14 miliar. Jelas ini tantangan besar bagi generasi ketiga Djarum yaitu Martin B Hartono.

Robert berusia 68 tahun dan memiliki tiga orang anak. Michael, kakak kandung Robert, kini berusia 69 tahun dengan empat orang anak. Kedua generasi orang kaya asal Kudus, Jawa Tengah, ini sangat low profile.

Mereka jarang muncul di depan publik, meski bisnis kelompok Djarum menggurita mulai dari bisnis inti rokok, bank, hingga properti. Kebesaran bisnis mereka juga terlihat dari dunia olahraga seperti bulu tangkis dan kompetisi sepak bola (Liga Djarum).

Kini dinasti Djarum punya peluang kembali melejit. Perkawinan Martin dengan Grace L Katuari, anak dari Eddy William Katuari dari kelompok usaha Wings Group. Tahun lalu, Eddy Katuari memiliki kekayaan senilai US$1,04 miliar.

Kejutan kurang menyenangkan juga dialami Sukanto Tanoto, bos Raja Garuda Mas International. Sukanto kini ada di peringkat ke-450 dengan harta US$1,6 miliar.

Menurut catatan Forbes, pendapatan pria dengan nama asli Tan Kang Hoo yang mengawali bisnisnya sebagai pengusaha onderdil mobil di Medan terus anjlok.

Bos April Pulp & Paper dan Asian Agri sempat memiliki kekayaan US$4,7 miliar pada 2007 dan terus turun hingga hanya US$2 miliar pada akhir 2008.

Nasib serupa dialami bos Rajawali Group yang eksis sejak 1984. Kekayaan Peter Sondakh juga tergerus cukup banyak. Hanya dalam tempo 2 tahun, hartanya yang semula mencapai US$1,45 miliar kini hanya US$1 miliar.

Ayah tiga orang anak itu bergerak dalam bisnis di bidang telekomunikasi, barang-barang konsumen, ritel, dan sektor transportasi setelah melepas sahamnya di Semen Gresik.

Namun, tak semua hartawan bersedih. Masih ada taipan dalam negeri yang berkipas-kipas sambil tersenyum karena pundi-pundinya makin mengembung. Salah satunya Martua Sitorus alias Thio Seng Hap.

Martua nangkring di peringkat 522 dengan kekayaan US$1,4 miliar. Akhir tahun lalu, harta bos Wilmar International Ltd, hasil kongsi dengan taipan Kuok Khoon Hong sejak 1991 itu, baru sekitar US$475 juta.

Berdasarkan riset yang dilakukan perusahaan konsultan Belanda Profundo, Wilmar International Ltd yang berkedudukan di Virgin Islands, Inggris, itu memiliki saham di Archer Daniels Midland Company.

Cakar bisnis Wilmar tertanam di perusahaan pengolah hasil pertanian terkemuka di China, bisnis alat-alat kesehatan milik Ezyhealth, bisnis minyak sawit di puluhan tempat di Tanah Air bahkan disebut sebagai produsen inti sawit terbesar di Indonesia. (algooth.putranto@bisnis.co.id)

Nilai sebuah Integritas


Nilai Sebuah Integritas
Oleh : USEP SAEFUROHMAN, S.Pd.
(Master Class SDIT Bina Muda)



Inti dari keinginan sebagian besar manusia lebih banyak ditunjukkan untuk memuaskan diri sendiri daripada menolong sesama manusia. Banyak hal, dalam kasus berbeda yang menunjukkan tingkat kejujuran yang rendah, seenaknya sendiri mengambil milik dan merampas hak orang lain, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, sikut kanan sikut kiri, tendang depan-tendang belakang, tidak peduli dengan kepentingan orang lain asalkan tujuan pribadinya tercapai.

Bahkan, dalam beberapa kasus, menggunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri adalah hal lazim yang dilakukan oleh banyak orang. Di beberapa surat kabar sering kita membaca berita tentang oknum penegak hukum yang memainkan “celah” hukum untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Pada kesempatan yang lain, sering juga kita baca kasus tentang aparat pemerintah yang berindak memeras rakyat jelata, para wakil rakyat bertindak asusila. Atau di tempat lain, di sebuah perusahaan Departemen milik pemerintah yang masih sepi pada saat jam kantor sudah mulai, dan sudah sepi kembali sebelum jam istirahat siang dimulai. Padahal, mereka digaji untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan taat pada peraturan.

Ironis memang. Namun, itulah realitas hidup. Bahwa sesungguhnya, nilai sebuah integritas sangatlah mahal, karena sesungguhnya ia adalah pancaran keagungan Tuhan yang keluar dari hati nurani terdalam manusia. Sebagai manusia, selayaknya kita mencari cara dan kesempatan agar pancaran itu dapat bersinar terang dalam hidup kita, sehingga nilai-nilai integritas dapat menjadi warna dalam perjalanan hidup kita menuju gerbang keberhasilan yang kita inginkan. Untaian kalimat yang diungkapkan Sayyid Qutub cukup mengingatkan kita, “Barangsiapa yang hidup untuk dirinya sendiri, maka ia hidup sebagai manusia kecil, dan akan matai sebagai manusia kecil. Barangsiapa yang hidupnya untuk orang lain, maka ia hidup sebagai manusia besar, dan tidak akan pernah mati selamanya”.

Integritas adalah nilai (value) dari kehidupan manusia sesungguhnya. Tanpa integritas, kesuksesan hidup hanyalah sebuah fatamorgana kepentingan pribadi yang tidak bernilai bagi lingkungan dan kemanusiaan. Orang-orang yang berjuang mewujudkan cita-cita hudup tanpa dikendalikan oleh nilai-nilai integritas akan menjadi para pemangsa yang rakus, curang, munafik, dan tidak mengenal belas kasihan. Pada akhirnya ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan hidupnya. Setiap saat, kita selalu berhadapan pada dua pilihan yang sulit dalam hidup, yaitu antara “apa yang ingin kita lakukan” dan “apa yang harus kita lakukan”. Integritaslah yang menjadi wasit untuk menetapkan norma-norma tentang siapa diri kita sebenarnya. Tepat sekali apa yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi, “Happiness is when what You think, what You say, and what You do are in harmony.” (Kebahagiaan adalah ketika apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan berada dalam satu jalan yang harmonis). Orang-orang yang memiliki integritas akan menjadi manusia yang “utuh”, sesuai antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Integritas akan menjadi sistem norma dalam hidup kita dan integritas akan menjadi navigasi yang akan mengarahkan kehidupan kita.

Ahli Biologi di bidang kelautan mempunyai masalah yang krusial khususnya ketika ingin mengamati kehidupan spesies laut pada malam hari. Berenang di kegelapan malam membuat para penyelam sering kali kebingungan menentukan mana arah yang menghadap ke atas karena di mana-mana yang ada hanya kegelapan. Sering kali jika lampu kurang cukup terang, mereka bukannya berenang mendekati permukaan tetapi malah menyelam ke arah kedalaman . hal yang serupa berlaku sama dengan integritas kita dalam mengejar cita-cita hidup. Tanpa integritas, bukan hanya seorang manusia kehilangan jati diri tetapi sebuah bangsa besar pun dapat hancur. Tembok Cina yang megah dan kokoh didirikan pada zamannya untuk melindungi bangsa Cina dari serangan Barbar. Namun, sangat menyedihkan, tembok nan kokoh itu pun mampu didobrak oleh musuh bukan dengan menggunakan kekuatan senjata api tetapi dengan menyogok penjaga gerbang tenbok itu. Negara Indonesia yang kaya akan hutan dan hasil alam, bukan terkenal dengan kekayaan alamnya melainkan popularitas yang muncul adalah korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela. Tanpa integritas yang tinggi niscaya sebuah bangsa tidak bias maju dan sukses.

Kehidupan ini dapat diandaikan sebagai sebuah kapal raksasa yang sedang mengarungi lautan luas dan ganas. Sebuah kapal raksasa, tidak pernah takut dan gentar berada di tengah badai yang dahsyat atau pekatnya malam selama tidak ada air yang masuk ke kapal itu. Namun, jika ada sedikit kebocoran pada tubuh kapal yang disebabkan oleh satu orang saja, maka itu berarti tinggal menunggu waktu, kapal yang besar akan karam ke dasar laut. Begitu pula dalkam kehidupan ini, jika ada satu saja perilaku kita yang bertentangan dengan nilai-nilai integritas, dunia akan mencerca seluruh kehidupan kita, walaupun kesalahan itu hanya dilakukan satu kali dan tidak sebanding dan sebanyak dengan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan sebelumnya.

Juara sejati adalah seseorang yang berusaha menonjolkan sisi baiknya dan berusaha membuang sisi buruk dalam hidupnya. Mengapa kitab suci agama, Al-Quran mampu bertahan selama berabad-abad lamanya walau peradaban sudah sedemikian maju, jawabannya adalah karena yang diajarkan adalah kebenaran. Walau berbagai kendala menghadang ketika kita ingin mengaplikasikan kebenaran dalam hidup, kita tetap merasakan pentingnya kebenaran hakiki. Karakter manusia mengikuti hal tersebut. Yang penting bukanlah seberapa lama kita hidup, tapi bagaimana kita hidup. Akhirnya, kita harus ”melakukan hal-hal yang benar” dengan cara yang benar (right things) bukan ”membenarkan segala hal” (things right). Mungkin dalam bertindak secara benar, kita tidak mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan apa yang kita inginkan, namun bukan berarti kita harus berhenti untuk melakukan kebenaran.