Minggu, 26 April 2009


BAGAIMANA MENGHINDARI KRISIS KEUANGAN INTERNASIONAL

oleh Leland B. Yeager

Diringkaskan dari:
"How to Avoid International Financial Crises"
CATO Journal, Winter 1998

Polarisasi kebijakan nilai tukar mata uang.

Pada satu sisi ialah unifikasi moneter, dan pada sisi yang lain ialah nilai tukar mengambang murni. Kedua sisi polarisasi maupun semua kebijakan diantara kedua polarisasi itu mengandung keuntungan dan kerugian masing-masing. Namun adanya suatu kerugian dalam suatu sistim bukanlah berarti sistim itu sama sekali tidak berguna. Pelajaran dasar ilmu ekonomi adalah memilih mana yang memberikan lebih banyak keuntungan dibandingkan beban yang harus dibayar untuk kerugian atau keburukan dari pilihan itu.

Diantara kedua polarisasi kebijakan nilai tukar itu ada kebijakan-kebijakan yang merupakan kompromi, yang masing-masing bisa mempunyai suatu keunggulan pada suatu saat, tapi dengan sistim yang sama situasi dapat berubah menjadi sangat memburuk pada saat yang lain.

Diantara negara-negara yang ada unifikasi mata uang, tidak pernah ada masalah mengenai lalu lintas modal spekulatif dari negara yang satu kenegara yang lain.
Floating murni, adalah kebijakan yang tidak pernah menimbulkan krisis bagi otoritas yang berkepentingan karena nilai tukar bebas untuk bergerak sesukanya. Krisis yang dimaksud disini bukan berarti tidak ada, tetapi yang mengalami krisis adalah sektor ekonomi yang lain.

Fixed rate atau "Bretton Woods System" bermaksud untuk mendapatkan yang terbaik dari kedua sifat polarisasi, tetapi dalam banyak hal justru mendapatkan bagian yang terburuk dari keduanya. Sistim ini sangat terancam oleh spekulasi satu arah. Jika ada indikasi nilai tukar fixed sedang tergoncang untuk berubah maka dipastikan spekulator akan menyerang, dengan perhitungan bila benar terjadi perubahan ia akan untung besar sedangkan bila ternyata tidak terjadi perubahan kurs maka ia tidak rugi seberapa. Itulah sebabnya spekulasi besar-besaran seringkali dialami dan dilain pihak intervensi besar-besaran pun diupayakan untuk mempertahankan nilai kurs tetap tidak berubah.

Belakangan ini sebagai alternatif terhadap sistim kurs tetap berpola Bretton Woods, direkomendasikan pilihan yang bernama Currency Boards atau dewan mata uang. Sistim kerja dewan mata uang beroperasi mendekati pola unifikasi moneter dengan menetapkan nilai tukar mata uang domestik secara pasti pada tingkat tertentu terhadap satu atau sejumlah matauang luarnegeri. Tingkat nilai tukar dipertahankan dengan memiliki cadangan valuta asing sekurang-kurangnya 100% dari uang domestik (dalam arti sempit). Dewan mata uang tidak dapat kekurangan cadangan untuk mempertahankan tingkat nilai tukar itu.

Dengan cukup memiliki cadangan 100% tidak dari seluruh uang yang beredar, melainkan hanya sejumlah uang kertas dan koin yang diterbitkan oleh dewan itu sendiri, dewan menjamin penukaran kedalam valuta asing sesuai nilai tukar yang ditentukan. Berbeda dengan pegging pola Bretton Woods, pola ini pasti mampu bertahan, sepanjang dewan tetap bebas dari kewajiban campur tangan terhadap lembaga keuangan lainnya. Dalam hal ini bank-bank komersial masing-masing harus bekerja dengan prudent dan selalu harus bisa mendukung deposito dan uang giral yang dipegangnya untuk ditukarkan kedalam uang dasar (base money).

Apa yang terjadi bila, ternyata, bank-bank tidak bekerja dengan baik atau karena sesuatu hal mengalami musibah sehingga kena rush ? Jika dewan mata uang harus menolong dengan memberikan bantuan likuiditas, maka disitulah bisa terjadi dewan kekurangan cadangan terhadap kewajibannya sendiri. Matauang domestik akan menjadi sasaran serangan spekulasi terhadap kemungkinan devaluasi. Peristiwa serupa ini terjadi di Argentina 1995 dan di Hongkong 1997.

Satu pola kebijakan nilai tukar lainnya yaitu Managed floating dimana intervensi pihak yang berwenang tidak dimaksudkan untuk bertahan terhadap perubahan yang fundamental, tetapi hanya untuk menghilangkan fluktuasi akibat perbedaan supply dan demand jangka pendek atau goncangan spekulatif sesaat. Pola solusi yang memerlukan intervensi selalu dihantui oleh kekuasaan 'big-player', seperti dijelaskan dibawah ini. Kata-kata pengantar bahwa nilai tukar dibiarkan mengambang selama masih dalam band tertentu, pada akhirnya tidak lebih dari kata-kata pemanis saja.

Pola-pola kebijakan yang mengandung unsur kompromi, selalu memperlihatkan adanya masalah intervensi, yang kemudian ternyata satu intervensi memerlukan adanya intervensi lain terus-menerus. Begitu juga sebaliknya, jika intervensi dihilangkan, pembebasan secara partial akan berakibat timbulnya konsekwensi yang mempertanyakan apakah pengendalian yang masih berlangsung harus dihentikan atau pembebasannya dibatalkan.

Perpindahan modal:

Ada macam-macam sifat dan pengaruh perpindahan modal dalam berbagai pola kebijakan nilai tukar. Pelarian modal spekulatif bisa berasal dari masuknya modal yang semula bukan bersifat spekulatif.

Dalam kebijakan nilai tukar tetap, termasuk sistim dewan mata uang, surplus neraca pembayaran yang diakibatkan pemasukan modal asing cenderung mengekspansi jumlah uang beredar domestik dan menimbulkan inflasi.
Pergerakan modal dinegara-negara dengan unifikasi moneter tidak menambahkan jumlah uang beredar dinegara tujuan.

Dinegara dengan nilai tukar mengambang, perpindahan modal cenderung terhambat oleh ketidak pastian nilai tukar, dan perubahan nilai tukar itu sendiri akan menurunkan hasrat penanaman modal. Nilai tukar yang fluktuatif terhadap aliran modal berpengaruh kepada semua transaksi dan bukan hanya terhadap perpindahan modal itu saja. Dan nilai tukar yang mengambang itu merugikan sektor-sektor ekonomi tertentu pada setiap kali terjadi perubahan.

Sekali lagi tidak ada sistim yang memiliki banyak kebaikan dan tidak ada keburukannya. Kebijakan nilai tukar tetap menghilangkan fluktuasi nilai tukar dengan jalan membebaskan naik atau turunnya jumlah uang beredar domestik, dan juga dengan berakibat timbulnya ketidak pastian pegging kurs akan bertahan sampai kapan.
Unifikasi moneter mengorbankan sifat quasi-fleksibilitas dalam harga-harga dan upah regional, serta juga menghilangkan kegunaan kebijakan moneter yang bisa disetel mengikuti kondisi lokal.

Pemain kelas berat (Big Players):

Pemain kelas berat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang bisa memainkan pengaruh terhadap pasar sementara ia sendiri kebal terhadap perubahan laba atau rugi. Dalam konteks ini mereka adalah pemerintah, bank sentral, dan organisasi internasional. Para pemain kelas berat ini yang menentukan tingkat nilai tukar dan kebijakan intervensi. Begitu pula perubahan kebijakan ekonomi yang banyak berpengaruh kepada berbagai pihak. Mereka menjadi titik pandang para rent-seeker.

IMF adalah juga 'Big player' dalam memutuskan apakah akan mendukung mata uang yang sedang diserang atau menyediakan dana pinjaman. Kebijakan IMF diingini atau tidak, menjadi panutan bagi penilaian terhadap suatu negara, dan kredit yang ia berikan menjadi "penglaris" yang akan diikuti pemberi pinjaman lainnya.

Krisis Keuangan dan Teori Moneter

Teori moneter atau 'ketidakseimbangan moneter' singkatnya menjelaskan bahwa peristiwa booming perekonomian yang menimbulkan inflasi atau kelesuan bisnis yang menjadikan resesi, adalah akibat dari keadaan jumlah uang beredar didalam suatu negara, yaitu masing-masing dalam keadaan berlebihan atau kekurangan, dibandingkan jumlah uang yang diinginkan masyarakat pada tingkat harga-harga dan upah yang berlaku. Teori moneter menggambarkan masalah kompleks yang tidak dapat dihindarkan dan ancaman perlunya dilakukan penyesuaian terhadap satuan nilai sebagai akibat ketidakseimbangan supply dan demand suatu matauang pada satuan nilai yang lama.

Krisis Asia menunjukkan analogi permasalahan perbankan dan perusahaan yang memiliki pinjaman sangat besar dalam valuta asing. Depresiasi matauang lokal berarti melonjaknya kewajiban pembayaran hutang. Permintaan valas untuk membayar hutang bersifat inelastis, dan dengan demikian suatu depresiasi akan membawa depresiasi lebih lanjut kedalam lingkaran setan. Baik debitur, kreditur maupun mitra dagangnya semua turut menderita.

Dalam konteks internasional persoalan menjadi semakin kompleks karena keterlibatan dua atau lebih mata uang. Perubahan nilai tukar mata uang yang dipegged secara kurang mantap, ataupun hanya prospek perubahan, mengacaukan fungsi uang sebagai alat pembayaran. Begitu pula fluktuasi nilai tukar mengambang yang dikaitkan dengan inflasi. Semua itu digambarkan dalam krisis keuangan internasional ini, bahwa seharusnya mata uang yang stabil adalah vital bagi koordinasi perekonomian, kalkulasi dan perencanaan bisnis.

Kesimpulan

Kesimpulan yang diambil oleh Yeager dalam artikel ini mengungkapkan suatu pemahaman yang menekankan bukan kepada bagaimana menyusun kebijakan nilai tukar tetapi kepada apa yang dinamakan matauang itu sendiri.

Pengaturan kebijakan nilai tukar menyebabkan sukar untuk memastikan nilai dari mata uang itu sendiri, karena hal ini banyak tergantung dari kebijaksanaan bank sentral, dimana bank sentral sendiri mendapat serangan bertubi-tubi dari dalam maupun luar negeri.

Reformasi mendasar disarankan untuk mengatasi ketergantungan itu. Bentuk reformasi ini adalah dengan melepaskan kebijakan menerbitkan uang dari tangan pemerintah (!)

Pihak yang menerbitkan uang ialah penerbit-penerbit mata uang dan deposito, yang masing-masing bertanggung jawab untuk mematuhi komitmen yang ia berikan.

Masing-masing penerbit dalam menerima deposito dan menerbitkan mata uang, wajib memperhitungkan kemungkinan terjadinya arus bolak-balik pemasukan dan pengeluaran dana, ia harus memperhatikan sepenuhnya bukan hanya portofolio aktiva tetapi juga bagaimana ia mengatur kelancaran kewajiban-kewajiban moneternya.

(Diskusi lebih detail, lihat: Yeager, L.B. (1997) The Fluttering Veil; Essays on Monetary Disequilibrium (337-425). Edited by G.Selgin. Indianapolis, Ind.; Liberty Fund.)

Minggu, 22 Maret 2009

Orang kaya Versi majalah Forbes



Yang tersungkur dan tertawa dari versi Forbes
oleh : Algooth


Majalah prestisius Forbes kembali merilis data para hartawan. Hasil survei dan pesan dari penerbitan yang didirikan Bertie Charles Forbes ini gamblang. Hampir semua hartawan bernasib serupa. Likuiditas mengering karena krisis global.

Secara keseluruhan, orang-orang terkaya di dunia mengalami pengurangan harta. Tahun ini, para taipan dunia itu memiliki tingkat rata-rata kekayaan bersih sekitar US$3 miliar, atau terjadi penurunan 23% dibandingkan dengan tahun lalu.

Sekarang dunia memiliki 793 miliarder, turun dari jumlah tahun lalu yang mencapai 1.125 orang. Forbers menghitung kekayaan orang-orang tersebut berdasarkan harga saham di bursa. Bagi miliarder yang perusahaannya tidak diperdagangkan di lantai bursa, kekayaan mereka dinilai dengan membandingkan dengan perusahaan publik serupa.

Penurunan jumlah kekayaan terbesar dialami dua hartawan yang berasal dari Asia.

Pengusaha realestat raksasa Ramesh Chandra asal India tidak lagi menyandang gelar miliarder. Keluarga Tsai dari Cathay Financial Holdings, Taiwan, yang memiliki kekayaan bersama keempat saudaranya senilai US$3,3 miliar juga tidak lagi masuk daftar.

Orang yang kini kembali berada di posisi puncak daftar orang terkaya di dunia, Bill Gates, kehilangan pundi-pundi US$18 miliar. Kekayaan bersihnya sekarang mencapai US$40 miliar.

Peringkat orang terkaya kedua dipegang oleh Warren Buffet yang tahun lalu bertengger di posisi puncak, dengan harta US$37 miliar.

Jumlah kekayaan Buffet berkurang sebesar US$25 miliar saat saham Berkshire Hathaway terjatuh hampir 50% dalam kurun 12 bulan terakhir.

Raksasa telekomunikasi Meksiko Carlos Slim Helu tergelincir satu peringkat dan sekarang berada pada peringkat ketiga dengan US$35 miliar alias US$25 miliar 'lebih miskin' dibandingkan dengan tahun lalu.

Asia Pasifik menyumbangkan 130 miliarder dalam daftar tersebut, jauh berkurang dibandingkan dengan jumlah tahun lalu sebanyak 211 orang.

Dari 130 nama tersebut, tujuh orang di antaranya adalah pendatang baru. Jumlah kekayaan bersih dari para miliarder Asia tersebut juga mengalami penurunan, bahkan mencapai 55%, menjadi US$357 miliar dari US$804 miliar.

Dari para miliarder dari Asia Pasifik tersebut, 28 orang berasal dari China, 24 orang dari India, 19 orang dari Hong Kong, 17 orang dari Jepang, 10 orang dari Australia, dan enam dari Malaysia.

Indonesia dan Taiwan menyumbangkan lima orang dalam daftar tersebut diikuti Korsel dengan empat miliarder, Selandia Baru dan Thailand masing-masing tiga orang. Selanjutnya Kazakhstan, Filipina dan Singapura masing-masing dua orang.

Sosok terkaya di Asia dan merupakan orang terkaya nomor 7 di dunia adalah miliarder asal India Mukesh Ambani, pemimpin Reliance Industries. Kekayaan bersihnya mengalami penurunan dari US$23,5 miliar menjadi US$19,5 miliar.

Meski merosot, kekayaan Ambani masih lebih tinggi dari harta sosok terkaya tahun lalu untuk Asia, Lakshmi Mittal, 58. Kekayaan Mittal, pengusaha baja yang menempati urutan 8, merosot dari US$25,7 miliar menjadi US$19,3 miliar.

Anjloknya harta orang-orang terkaya tersebut tak lepas dari krisis global yang ikut menekan harga saham di lantai bursa hingga lebih dari separuh. Secara hiperbolis kini para hartawan itu makin miskin

Hal serupa dialami para hartawan Indonesia yang mesti mengetatkan ikat pinggang disebabkan oleh anjloknya harga komoditas dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

5 WNI yang masuk jajaran orang terkaya dunia versi Forbes
Peringkat 430 R Budi Hartono US$1,7 miliar
Peringkat 430 Michael Hartono US$1,7 miliar
Peringkat 450 Sukanto Tanoto US$1,6 miliar
Peringkat 522 Martua Sitorus US$1,4 miliar
Peringkat 701 Peter Sondakh US$1 miliar

Generasi Djarum

Indonesia jelas tak ada apa-apanya dengan para pebisnis Asia lainnya. Posisi hartawan Merah Putih bahkan terpuruk ke urutan 400-an. Generasi kedua Djarum, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono kini menempati peringkat ke-430, masing-masing memiliki harta US$1,7 miliar.

Padahal, 2 tahun lalu, Forbes mencatat Michael memiliki US$3,08 miliar, sedangkan Robert sebanyak US$3,14 miliar. Jelas ini tantangan besar bagi generasi ketiga Djarum yaitu Martin B Hartono.

Robert berusia 68 tahun dan memiliki tiga orang anak. Michael, kakak kandung Robert, kini berusia 69 tahun dengan empat orang anak. Kedua generasi orang kaya asal Kudus, Jawa Tengah, ini sangat low profile.

Mereka jarang muncul di depan publik, meski bisnis kelompok Djarum menggurita mulai dari bisnis inti rokok, bank, hingga properti. Kebesaran bisnis mereka juga terlihat dari dunia olahraga seperti bulu tangkis dan kompetisi sepak bola (Liga Djarum).

Kini dinasti Djarum punya peluang kembali melejit. Perkawinan Martin dengan Grace L Katuari, anak dari Eddy William Katuari dari kelompok usaha Wings Group. Tahun lalu, Eddy Katuari memiliki kekayaan senilai US$1,04 miliar.

Kejutan kurang menyenangkan juga dialami Sukanto Tanoto, bos Raja Garuda Mas International. Sukanto kini ada di peringkat ke-450 dengan harta US$1,6 miliar.

Menurut catatan Forbes, pendapatan pria dengan nama asli Tan Kang Hoo yang mengawali bisnisnya sebagai pengusaha onderdil mobil di Medan terus anjlok.

Bos April Pulp & Paper dan Asian Agri sempat memiliki kekayaan US$4,7 miliar pada 2007 dan terus turun hingga hanya US$2 miliar pada akhir 2008.

Nasib serupa dialami bos Rajawali Group yang eksis sejak 1984. Kekayaan Peter Sondakh juga tergerus cukup banyak. Hanya dalam tempo 2 tahun, hartanya yang semula mencapai US$1,45 miliar kini hanya US$1 miliar.

Ayah tiga orang anak itu bergerak dalam bisnis di bidang telekomunikasi, barang-barang konsumen, ritel, dan sektor transportasi setelah melepas sahamnya di Semen Gresik.

Namun, tak semua hartawan bersedih. Masih ada taipan dalam negeri yang berkipas-kipas sambil tersenyum karena pundi-pundinya makin mengembung. Salah satunya Martua Sitorus alias Thio Seng Hap.

Martua nangkring di peringkat 522 dengan kekayaan US$1,4 miliar. Akhir tahun lalu, harta bos Wilmar International Ltd, hasil kongsi dengan taipan Kuok Khoon Hong sejak 1991 itu, baru sekitar US$475 juta.

Berdasarkan riset yang dilakukan perusahaan konsultan Belanda Profundo, Wilmar International Ltd yang berkedudukan di Virgin Islands, Inggris, itu memiliki saham di Archer Daniels Midland Company.

Cakar bisnis Wilmar tertanam di perusahaan pengolah hasil pertanian terkemuka di China, bisnis alat-alat kesehatan milik Ezyhealth, bisnis minyak sawit di puluhan tempat di Tanah Air bahkan disebut sebagai produsen inti sawit terbesar di Indonesia. (algooth.putranto@bisnis.co.id)

Nilai sebuah Integritas


Nilai Sebuah Integritas
Oleh : USEP SAEFUROHMAN, S.Pd.
(Master Class SDIT Bina Muda)



Inti dari keinginan sebagian besar manusia lebih banyak ditunjukkan untuk memuaskan diri sendiri daripada menolong sesama manusia. Banyak hal, dalam kasus berbeda yang menunjukkan tingkat kejujuran yang rendah, seenaknya sendiri mengambil milik dan merampas hak orang lain, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, sikut kanan sikut kiri, tendang depan-tendang belakang, tidak peduli dengan kepentingan orang lain asalkan tujuan pribadinya tercapai.

Bahkan, dalam beberapa kasus, menggunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri adalah hal lazim yang dilakukan oleh banyak orang. Di beberapa surat kabar sering kita membaca berita tentang oknum penegak hukum yang memainkan “celah” hukum untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Pada kesempatan yang lain, sering juga kita baca kasus tentang aparat pemerintah yang berindak memeras rakyat jelata, para wakil rakyat bertindak asusila. Atau di tempat lain, di sebuah perusahaan Departemen milik pemerintah yang masih sepi pada saat jam kantor sudah mulai, dan sudah sepi kembali sebelum jam istirahat siang dimulai. Padahal, mereka digaji untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan taat pada peraturan.

Ironis memang. Namun, itulah realitas hidup. Bahwa sesungguhnya, nilai sebuah integritas sangatlah mahal, karena sesungguhnya ia adalah pancaran keagungan Tuhan yang keluar dari hati nurani terdalam manusia. Sebagai manusia, selayaknya kita mencari cara dan kesempatan agar pancaran itu dapat bersinar terang dalam hidup kita, sehingga nilai-nilai integritas dapat menjadi warna dalam perjalanan hidup kita menuju gerbang keberhasilan yang kita inginkan. Untaian kalimat yang diungkapkan Sayyid Qutub cukup mengingatkan kita, “Barangsiapa yang hidup untuk dirinya sendiri, maka ia hidup sebagai manusia kecil, dan akan matai sebagai manusia kecil. Barangsiapa yang hidupnya untuk orang lain, maka ia hidup sebagai manusia besar, dan tidak akan pernah mati selamanya”.

Integritas adalah nilai (value) dari kehidupan manusia sesungguhnya. Tanpa integritas, kesuksesan hidup hanyalah sebuah fatamorgana kepentingan pribadi yang tidak bernilai bagi lingkungan dan kemanusiaan. Orang-orang yang berjuang mewujudkan cita-cita hudup tanpa dikendalikan oleh nilai-nilai integritas akan menjadi para pemangsa yang rakus, curang, munafik, dan tidak mengenal belas kasihan. Pada akhirnya ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan hidupnya. Setiap saat, kita selalu berhadapan pada dua pilihan yang sulit dalam hidup, yaitu antara “apa yang ingin kita lakukan” dan “apa yang harus kita lakukan”. Integritaslah yang menjadi wasit untuk menetapkan norma-norma tentang siapa diri kita sebenarnya. Tepat sekali apa yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi, “Happiness is when what You think, what You say, and what You do are in harmony.” (Kebahagiaan adalah ketika apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan berada dalam satu jalan yang harmonis). Orang-orang yang memiliki integritas akan menjadi manusia yang “utuh”, sesuai antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Integritas akan menjadi sistem norma dalam hidup kita dan integritas akan menjadi navigasi yang akan mengarahkan kehidupan kita.

Ahli Biologi di bidang kelautan mempunyai masalah yang krusial khususnya ketika ingin mengamati kehidupan spesies laut pada malam hari. Berenang di kegelapan malam membuat para penyelam sering kali kebingungan menentukan mana arah yang menghadap ke atas karena di mana-mana yang ada hanya kegelapan. Sering kali jika lampu kurang cukup terang, mereka bukannya berenang mendekati permukaan tetapi malah menyelam ke arah kedalaman . hal yang serupa berlaku sama dengan integritas kita dalam mengejar cita-cita hidup. Tanpa integritas, bukan hanya seorang manusia kehilangan jati diri tetapi sebuah bangsa besar pun dapat hancur. Tembok Cina yang megah dan kokoh didirikan pada zamannya untuk melindungi bangsa Cina dari serangan Barbar. Namun, sangat menyedihkan, tembok nan kokoh itu pun mampu didobrak oleh musuh bukan dengan menggunakan kekuatan senjata api tetapi dengan menyogok penjaga gerbang tenbok itu. Negara Indonesia yang kaya akan hutan dan hasil alam, bukan terkenal dengan kekayaan alamnya melainkan popularitas yang muncul adalah korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela. Tanpa integritas yang tinggi niscaya sebuah bangsa tidak bias maju dan sukses.

Kehidupan ini dapat diandaikan sebagai sebuah kapal raksasa yang sedang mengarungi lautan luas dan ganas. Sebuah kapal raksasa, tidak pernah takut dan gentar berada di tengah badai yang dahsyat atau pekatnya malam selama tidak ada air yang masuk ke kapal itu. Namun, jika ada sedikit kebocoran pada tubuh kapal yang disebabkan oleh satu orang saja, maka itu berarti tinggal menunggu waktu, kapal yang besar akan karam ke dasar laut. Begitu pula dalkam kehidupan ini, jika ada satu saja perilaku kita yang bertentangan dengan nilai-nilai integritas, dunia akan mencerca seluruh kehidupan kita, walaupun kesalahan itu hanya dilakukan satu kali dan tidak sebanding dan sebanyak dengan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan sebelumnya.

Juara sejati adalah seseorang yang berusaha menonjolkan sisi baiknya dan berusaha membuang sisi buruk dalam hidupnya. Mengapa kitab suci agama, Al-Quran mampu bertahan selama berabad-abad lamanya walau peradaban sudah sedemikian maju, jawabannya adalah karena yang diajarkan adalah kebenaran. Walau berbagai kendala menghadang ketika kita ingin mengaplikasikan kebenaran dalam hidup, kita tetap merasakan pentingnya kebenaran hakiki. Karakter manusia mengikuti hal tersebut. Yang penting bukanlah seberapa lama kita hidup, tapi bagaimana kita hidup. Akhirnya, kita harus ”melakukan hal-hal yang benar” dengan cara yang benar (right things) bukan ”membenarkan segala hal” (things right). Mungkin dalam bertindak secara benar, kita tidak mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan apa yang kita inginkan, namun bukan berarti kita harus berhenti untuk melakukan kebenaran.

Jumat, 20 Februari 2009

BELAJAR DARI PENIPUAN INVESTASI "BUBLE"


Saudara,
Coba renungkan karena ingin return yang tinggi banyak sekali produk investasi derivatif yang membuat orang tidak bisa berlogika DAN KEBLIGER ,karena mengejar return dan margin yang tinggi, akhirnya banyak perusahaan investasi "Pepesan Kosong", Investor ketipu..dan baru sadar dari mana perusahaan membayar return bunga yang tinggi logika sudah kalah dengan nafsu memperkaya diri dan keinginan yang melayang kemana?
Coba kita simak berita ini,semoga jadi pelajaran bagi saya sendiri dan Saudara semua DAN TERNYATA KEPINGIN KAYA INSTAN UDAH MENTAL MANUSIA "MODERN"?

PANAMA, KAMISInvestor Amerika Latin dua kali menjadi korban penipuan investasi di pasar modal Amerika Serikat (AS). Banyak di antara mereka terseret penipuan Bernard L Madoff senilai 50 miliar dollar AS. Kini, penipuan R Allen Stanford yang merugikan nasabah 8 miliar dollar AS lagi-lagi menghanguskan duit pemodal Amerika Latin.

Sewaktu kasus Madoff meledak, banyak investor Argentina menjadi korban. Osvaldo Prato, pengacara para investor, mengungkapkan, para kliennya kehilangan 400 juta dollar AS akibat terseret Madoff.

Investor menaruh dana tersebut lewat Banco Santander SA, bank terbesar di Argentina. Bank asal Spanyol ini jadi salah satu korban penipuan Madoff dan kehilangan 2 miliar dollar AS. Korban-korban lain asal Kolombia, Ekuador, Brasil, dan Meksiko juga bernasib sama.

Yang terbaru, investor asal Venezuela giliran merugi gara-gara penipuan yang dilakukan Stanford. Investor asal Venezuela, baik ritel maupun institusi, menempatkan dana sebanyak 3 miliar dollar AS di bank milik Stanford.

Pemerintah turun tangan

Hingga kini, Securities and Exchange Commision (SEC), pengawas pasar modal di Amerika Serikat (AS), masih memeriksa Stanford International Bank karena terlibat penipuan investasi 8 miliar dollar AS itu. "Saya tak percaya ini terjadi, apalagi pelakunya bank yang menyandang nama Stanford," tutur Celia Daniel Metta, investor asal Venezuela.

Pemerintah negara-negara Amerika Latin akhirnya menyadari, banyak rakyat mereka yang terseret penipuan investasi. Mereka pun langsung bertindak. Di Kolombia dan Ekuador, otoritas pengawas keuangan menghentikan aktivitas semua kantor afiliasi Stanford.

Di Venezuela, Menteri Keuangan Ali Rodriguez menjamin akan melindungi nasabah. Pemerintah Venezuela bahkan berniat membantu menyuntikkan dana bagi salah satu cabang Stanford Bank akibat nasabah menarik besar-besaran dana simpanannya (rush).

Pemerintah Panama bahkan langsung mengambil alih Stanford Bank setelah terjadi rush di bank itu. Tujuannya guna melindungi aset nasabah.

Belum jelas berapa total nilai kerugian investor Amerika Latin gara-gara dua penipuan tersebut. Namun, banyak yang meyakini jumlahnya sangat besar. Sebab, hampir semua investor Amerika Latin lebih senang berinvestasi di AS.

Alasannya, berbagai mata uang Amerika Latin terus terdevaluasi, dan banyak bank yang kolaps. "Itu membuat investor tidak percaya dengan pasar modal lokal," kata Alberto Ramos, Ekonom Goldman Sachs Group. (Harris Hadinata/ Kontan)

Selasa, 17 Februari 2009

KEBUTUHAN PENILAIAN PROPERTI DI PAJAK


Peran Penilai Properti Di era Modernisasi Perpajakan

Oleh : Eko Bayu Aji, SE, MT
Ilmu penilaian sebagai ilmu yang bersifat menaksir Nilai properti adalah memiliki cara yang berbeda dengan penilaian dengan metode Akuntasi.
Diera Modernisasi peran Tenaga Penilai memiliki peran yang sebenarnya bisa mengoptimalkan potensi perpajakan.

Sebagai Contoh Kasus:
1. Dalam pembayaran PPN baik yang dibayar kontraktor ataupun Kegiatan membangun sendiri sebenarnya tenaga Penilai dapat menaksir kewajaran Pembayarannya jika dirasa terdapat data yang tidak dilampirkan wajib pajak. Penilai dapat mengetahu Nilai Bangunan yang wajar maupun Nilai Pasar Wajar Properti berdasarkan metode Penilaian semisal Metode Data pasar, Metode Biaya, Metode Pendapatan, maupun Metode Investasi

2. Dalam potensi Pph perhitungan aset (pasiva) peran tenaga penilai dapat digunakan pula untuk mengetahui besarnya kewajaran Nilai Asset yang dilaporkan wajib pajak.

3. Dalam penentuan besaran harga perolehan untuk BPHTB dan Pph final jual beli properti sebenarnya Penilai dapat dioptimalkan dalam penentuan Nilai perolehan yang wajar yang dilaporkan wajib pajak yang selama ini luput dari perhatian aparat pajak.

4. Penilaian Obyek perkebunan semisal kebun Sawit seorang Penilai akan dapat mengetahui kewajaran aset perusahaan sehingga aparat DJP dapat mengoptimalkan dalam penentuan besaran pajaknya

5. Menilai Aset yang layak pada perusahaan peran tenaga appraisal adalah sangat signifikan jika benar-benar dimanfaatkan dalam proses perhitungan potensi perpajakan sehingga angka yang dihasilkan akan mencerminkan Nilai yang Wajar.

6. Penentuan Nilai properti adalah khas jadi membutuhkan advice seorang Appraisal bagi tenaga auditor di Direktorat Jenderal Pajak jika ingin Potensi Penerimaannya terangkat optimal.

Bagaimana menurut anda?" Awasi Pajaknya Optimalkan Ketetapannya"

Minggu, 08 Februari 2009

JABATAN TINGGI EQ RENDAH


JABATAN TINGGI EQ RENDAH

TIDAK semua mereka yang memiliki jabatan dan titel kesarjanaan tinggi memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Istilah kecerdasan emosional adakalanya disebut EI (emotional intelligence), EQ (emotional quotient), dan kecerdasan sosial.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengendalikan emosinya saat
menghadapi situasi yang menyenangkan maupun menyakitkan. Mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tandjung adalah contoh orang yang memiliki kecerdasan emosionaltinggi, mampu mengendalikan emosinya dalam berkomunikasi.

Ketika membaca berita mengenai kekisruhan dalam rapat antara DPR dan Kejaksaan
Agung belum lama ini, pikiran saya terdorong mengingat kembali teori Daniel Goleman
seputar EQ untuk menganalisa perilaku pejabat tinggi dan politisi di pentas publik.
Berdasar riset panjang, Goleman menyimpulkan, kecerdasan intelektual bukan faktor
dominan dalam keberhasilan seseorang, terutama dalam dunia bisnis maupun sosial.
Menurut Goleman, banyak sarjana yang cerdas dan saat kuliah selalu menjadi bintang
kelas, namun ketika masuk dunia kerja menjadi anak buah teman sekelasnya yang
prestasi akademiknya pas-pasan.

Lalu, apa kunci keberhasilan hidup?

Menurut dia, lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional, yaitu aspek-aspek yang berkait dengan kepribadian, yang di dalamnya setidaknya ada empat unsur pokok.

Pertama, kemampuan seseorang memahami dan memotivasi potensi dirinya. Kedua, memiliki rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Ketiga, senang bahkan mendorong melihat anak buah sukses, tanpa dirinya merasa terancam. Keempat, asertif, yaitu terampil menyampaikan pikiran dan perasaan dengan baik, lugas, dan jelas tanpa harus membuat orang lain tersinggung.

Untuk mengukur apakah seorang pimpinan memiliki kecerdasan emosional tinggi, jangan
diukur dengan titel kesarjanaan dan kepangkatannya, tetapi tanyakan pada mereka yang
selalu berhubungan dengannya, entah itu sopir, satpam, pembantu rumah tangga, anak
buah, keluarga, maupun teman. Dari merekalah akan terpantul citra kepribadian seorang
pemimpin, terutama di saat-saat seseorang terkondisikan untuk marah.

Seberapa tinggi EQ seseorang mudah terlihat saat kritis, ketika suasananya tidak menguntungkan, bahkan dalam posisi terancam. Dengan tolok ukur ini kita mendapat
kesan banyak pejabat tinggi yang EQ-nya rendah meski titel akademisnya tinggi,
termasuk dalam penguasaan ilmu agama. Cirinya, pertama, jika bicara cenderung
menyakiti dan menyalahkan pihak lain sehingga persoalan pokok tergeser oleh
pertengkaran ego pribadi. Yang terjadi kemudian persoalan tidak selesai, bahkan
bertambah.

Kedua, rendahnya motivasi kinerja anak buah untuk meraih prestasi karena tida mendapat dorongan dan apresiasi dari atasan. Pimpinan dengan EQ tinggi akan mampu memotivasi diri, lalu beresonansi pada orang-orang di sekelilingnya, terutama anak buahnya. Berdasarkan pengalaman memberi pelatihan di lingkungan birokrasi pemerintahan maupun BUMN, ditemukan indikator kuat, hanya sedikit pemimpin yang mampu memberi motivasi kerja pada anak buahnya. Banyak pemimpin menjadi sasaran caci maki anak buah sehingga potensi dan dedikasi anak buah tidak optimal untuk memajukan perusahaan.

BEGITU rendahnya EQ sebagian pejabat tinggi kita, tidak mengherankan jika
produktivitas rendah, bahkan banyak terjadi kebocoran anggaran. Menjelang akhir tahun,yang menjadi agenda utama adalah bagaimana menghabiskan anggaran dan membuat
laporan keuangan agar tampak mulus meski hasil kinerjanya minus. Situasi ini dipertegashasil penelitian TII yang menyatakan perilaku korupsi birokrasi dan bisnis di Jakartasudah amat parah. Orang bukannya dipacu untuk meraih prestasi kerja, tetapi dibuatpusing dan sibuk mengenal serta memberi servis pada orang-orang yang dekat denganpengambil keputusan.

Banyak mahasiswa dan sarjana terkesan idealis saat di kampus, tetapi terhanyut begitu
menjadi birokrat. Rasanya perlu dipikirkan adanya pekan orientasi sarjana sebelum
wisuda. Isinya, memberi peringatan disertai data akurat bahwa setelah wisuda mereka
akan memasuki dunia baru yang penuh ranjau dan lingkungan kerja serta sosial yang
telah terkontaminasi virus korupsi dan manipulasi. Ini merupakan tugas akhir almamater,memberi peringatan dan tanggung jawab moral pada putra-putrinya agar memilikikomitmen untuk hidup terhormat, mengejar karier dengan panduan skill dan
suara hati.PARA psikolog mengatakan, rasa sukses dan bahagia akan diraih jika seseorang bisamenggabungkan setidaknya tiga kecerdasan, yaitu intelektual, emosional, dan spiritual.

1. IQ - KECERDASAN INTELEKTUAL.
Kecerdasan intelektual (IQ) berkait dengan keterampilan seseorang menghadapi
persoalan teknikal dan intelektual. Jika pendidikan kita mengabaikan aspek keunggulan
IQ, sulit bagi Indonesia untuk bersaing dalam bidang sains dan teknologi pada persaingan
global. Kini kita sudah merasakan betapa tertinggalnya kita dalam pendidikan sains.
Pemerintah pun kurang melakukan penjaringan siswa berbakat untuk difasilitasi agar
3. SQ - KECERDASAN SPIRITUAL.
Tidak kalah penting, kecerdasan spiritual (SQ) yang berkait dengan masalah makna,
motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual-teknikal,
EQ meratakan jalan membangun relasi sosial, SQ mempertanyakan apakah makna, tujuan,
dan filsafat hidup seseorang.

Menurut Ian Marshall dan Danah Zohar, penulis buku SQ, The Ultimate Intelligence,
tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberi ketenangan dan kebahagiaan hidup.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, berbagai pakar psikologi dan manajemen di
Barat mulai menyadari betapa vitalnya aspek spiritualitas dalam karier seseorang, meski dalam menyampaikannya terkesan hati-hati. Yang fenomenal, tak kurang dari Stephen R Covey meluncurkan buku The 7th Habit (2004), padahal selama ini dia sudah menjadi ikon dari teori manajemen kelas dunia The Seven Habits. Rupanya Covey sampai pada kesimpulan, kecerdasan intelektualitas dan emosionalitas tanpa bersumber spiritualitas akan kehabisan energi dan berbelok arah.

Di Indonesia, krisis kepercayaan terhadap intelektualitas kian menguat saat bangsa yang secara ekonomi amat kaya ini dikenal sebagai sarang koruptor dan miskin, padahal
hampir semua yang menjadi menteri maupun birokrat memiliki latar belakang pendidikan
tinggi. Asumsi bahwa kesarjanaan dan intelektualitas akan mengantar masyarakat yang
damai dan bermoral digugat Donald B Caine dalam buku: Batas Nalar, Rasionalitas dan
Perilaku Manusia yang sedang dibicarakan banyak orang. Mengapa bangsa Jerman yang
dikenal paling maju pendidikannya dan melahirkan banyak pemikir kelas dunia pernah
dan bisa berbuat amat kejam? Pertanyaan serupa bisa dialamatkan kepada Inggris,
Amerika Serikat, dan Israel.

KEMBALI pada soal EQ. Teori ini valid untuk melihat perilaku dan gaya kepemimpinan
seseorang dalam kelompok terbatas. Dalam wilayah sosial dan politik, terlalu banyak
variabel yang tidak cukup dianalisis dengan teori EQ.
Namun satu hal pasti, kita mengharapkan negeri ini diurus oleh mereka yang cerdas
secara intelektual, emosional, dan spiritual. Yaitu mereka yang kualitas akademisnya baik, mampu berkomunikasi sosial secara simpatik, inspiring dan motivating, serta memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai spiritual sebagai panduan hidup. Jika ketiga kualitas ini tidak terpenuhi, sebaiknya minggir saja atau bangsa ini akan kian hancur oleh perilaku pemimpinnya sendiri.*
(Penulis: Komaruddin Hidayat Direktur Program Pascasarjana UIN Jakarta/Pembina

Rabu, 04 Februari 2009

Renovasi RUMAH


Biarkan Rumah Anda Membiayai Renovasi
Dari : www.housing-estate.com

Tak perlu menguras kocek untuk membiayai renovasi rumah. Biarkan rumah Anda menutup sebagian besar biayanya.

Kalau Anda punya simpanan memadai dan bukan pebisnis, merenovasi rumah dengan mengagunkan rumah itu sendiri mungkin tidak menarik. Mending pakai uang sendiri. Biayanya jelas jauh Iebih murah. Toh, ditaruh di bank uang itu juga tidak beranak karena bunga deposito begitu murah. Sementara kalau pinjam duit bank, spread bunganya begitu jauh.

Bayangkan, deposito hanya dihargai 5,5 persen. Sebaliknya kalau minta kredit dikenai bunga rata-rata 13,5 persen. Jadi, spread-nya 8 persen. Padahal, spread bunga simpanan dengan bunga kredit yang wajar untuk ukuran Indonesia tidak Iebih dari 5 persen. Itu pun sudah ketinggian. naiau oegitu KeenaKan uanKbanknya karena terus kita susui agar bisa hidup.

Lain cerita bila Anda berprofesi sebagai pebisnis atau memiliki usaha sampingan. Memakai duit sendiri untuk merenovasi rumah jelas sayang, karena kalau dipakai usaha mungkin bisa menghasilkan pengembalian atau yield di atas 20 persen. Bukankah tetap Iebih tinggi ketimbang bunga kredit? Jadi, kalau Anda termasuk kategori ini dan mau merenovasi rumah, pinjam duit bank.

Untuk itu jangan biarkan rumah Anda "tidur". Bukan zamannya lagi menjadikan rumah hanya sebagai hunian. Berdayakan rumah itu untuk memenuhi berbagai keperluan, termasuk merenovasi rumah. Di negaranegara maju sudah jamak orang meIakukannya. Yang bisa diagunkan bukan hanya rumah yang sudah bebas kredit, tapi juga rumah yang masih dalam masa KPR.