Senin, 21 September 2009

LULUSAN PhD- Jadi Sopir


Lulusan PhD Stanford Itu, Kini Jadi Sopir
Sunday, 13 September 2009 10:46tullah.com
Diunduh dari: www.hidayahtullah.com


Kisah ini dapat menjadi teladan bagi kita bahwa gelar, titel, dan apapun embel-embel dibelakang nama kita sebenarnya bukan apa2..kita tidak dituntut memiliki gelar tapi tidak memiliki nilai plus yaitu manfaat bagi orang lain siapapun mereka, kita lihat person bangsa ini yang masih sibuk menguber gelar akademis tapi tidak ada perubahan pada kemajuan walau pun itu ada kemajuan itu lambat dan sering timbul konflik interest,karena yang mereka pelajari hanya ilmu dimeja kuliah tapi bukan ilmu kehidupan yang benar-benar realita yang sebenarnya dibutuhkan buat negeri ini atau tujuan hanya untk mengejar materi saja (karir, pangkat jabatan,status, harta kedudukan) , di sini orang masih demam gelar (S1, S2, S3) karena didukung lembaga pendidikan yang sengaja menciptakan gelar dengan kelulusan serba Instan tapa harus bersusah payah (tanpa proses belajar sebenarnya), banyak dari mereka lupa tugas yang harus diemban dibalik gelar tersebut. Maka penulis meniru kata-kata yang ada di media iklan TV "Tanya Ken Napa?"..coba kita simak kisah ini yang kami ambil dari sumber yang dapat dipercaya,yang semoga dapat menjadi pelajaran dan pemikiran kita semuanya.bahwa ternyata komitmen, integritas, dan kejujuran diatas segala-galanya, bukan hanya kemauan mengejar materi yang tidak akan ada habisnya dan kata kunci adalah Change (perubahan) yang dapat memutar balikkan kenyataan yang ada selama ini.

Kehidupan akan ada pasang surut dan perubahan (Change) yang selalu melesat terus seiring dengan kepintaran manusia dalam memenuhi kebutuhanya dengan dukungan manajemen yang mengikuti teknologi, selera pasar, trend, sosial kultural, perkembangan ke ilmuan, cara berpikir dan sebagainya.Tidak ada manusia di bumi ini yang sanggup tetap bertahan dengan prinsipnya sendiri jika tidak mampu merubah pola pikirnya (mind set)maka dia akan kelihatan seperti Dinosaurus yang kuat,besar, ganas tapi akhirnya hilang (punah) dari peredaran, oleh karena itu paradigma lama harus disesuaikan dengan perubahan yang ada dengan tetap memegang teguh nilai Agama dan moralitas, karena adanya filter akan membuat kita kuat di tengah perubahan dunia ini yang cenderung sekular dan orientasi pada bisnis semata..mari kita simak kisah ini semoga bermanfaat terima kasih.


Ia telah menghabiskan 16 tahun sebagai peneliti di Institute of Molecular and Cell Biology (IMCB). Tapi akhirnya, nasib menjadikannya seorang sopir

Hidayatullah.com—Cai Mingjie tak pernah berpikir sebelumnya jika kehidupannya berbalik 180%. Maklum, pria berkacamata ini sebelumnya adalah seorang ilmuwan dengan reputasi bagus. Pendidikan terakhir PhD bidang biokimia diselesaikan dari universitas ternama, Stanford University.

Namun pria yang pernah menjadi kepala peneliti bidang genetika sel di IMCB ini pergi meninggalkan institusi bergengsi itu dan memilih menjadi sopir taksi.

"Saya dipaksa keluar dari pekerjaan riset di saat karir saya berada di puncak, dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain dengan alasan yang hanya bisa saya katakan sebagai "keunikan dari Singapura," ujarnya dalam sebuah situs blog miliknya.

“Akibatnya, saya mengemudi taksi untuk membuat hidup dan menulis kisah kehidupan nyata ini hanya untuk membuat pekerjaan yang membosankan sedikit lebih menarik. Saya berharap bahwa kisah-kisah yang menarik untuk Anda juga, " ujar Dr. Cai.

Berita mengenai Dr. Cai ini sangat mengejutkan masyarakat Singapura, sebuah negara yang tingkat kemajuan pendidikan dianggap tinggi dan tidak diragukan lagi.

Seorang pekerja kerah putih yang sangat terkejut mengatakan, sebelumnya ia sangat yakin bahwa gelar setingkat doktoral dan pengalaman segudang merupakan jaminan untuk memiliki pekerjaan yang mapan dan kesuksesan abadi.

"Jika ia akhirnya harus menjadi sopir taksi, maka kesempatan apa yang dimiliki orang-orang biasa seperti kami ini?" tanyanya.
Saya pernah bertemu dengan sejumlah sopir taksi yang memiliki kualifikasi tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini, termasuk mereka yang dulunya adalah manajer dan insinyur.

Seorang sopir yang ceria, suatu hari mengejutkan saya karena memberikan penjelasan lengkap mengenai saham apa yang sebaiknya dibeli dan mana yang harus dihindari. Ternyata ia dulunya seorang pialang saham.

"Pada masa seperti sekarang ini, mungkin hanya bisnis taksi yang masih aktif menerima pegawai di Singapura, kata Dr. Cai.
Bagi saya, perubahan hidup Dr. Cai itu membawa Singapura ke dalam babak baru.

"Saya mungkin satu-satunya sopir taksi dengan gelar PhD dari Stanford dan memiliki pengalaman yang diakui dibidang sains..." tulis Dr. Cai dalam blog nya.

Gelar Doktoral

Kisahnya Dr. Cai ini segera menyebar di dunia maya. Kebanyakan orang Singapura menyatakan penghargaan mereka atas kemampuannya beradaptasi begitu cepat dengan kehidupan barunya. Dua orang pemuda Singapura menanyakan nomor taksinya, berkata bahwa mereka akan sangat senang sekali jika bisa berkeliling dengan taksinya dan berbincang-bincang.

"Banyak (pelajaran) yang bisa ia berikan kepada saya," kata seseorang.

Lainnya bertanya, mengapa ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan mengajar, mengingat pengalaman ilmiahnya yang begitu mengagumkan.

Keluarnya ia dari pekerjaan lama sebenarnya lebih disebabkan karena alasan pribadi (ia dituduh membuat kekacauan oleh para pemimpin penelitian), dan bukan karena lesunya proyek bidang bioteknologi di Singapura, yang masih bisa bertahan di masa krisis ini.

Kasusnya iitu menjadikan kelemahan umum di bidang R and D (research and development) Singapura mendapat sorotan.

"Kondisi ekonomi yang buruk artinya tidak banyak perusahaan yang mampu membayar ilmuwan profesional," kata seorang peselancar dunia maya. "Gelar akademik tidak banyak membantu--sejarah membuktikan banyak orang yang bergelar PhD berburu mencari pekerjaan."

Sementara citra sopir taksi menjadi terdongkrak tinggi, tidak demikian keadaannya dengan proyek biomedika Singapura, khususnya upaya mereka untuk menumbuhkan bibit talenta peneliti baru di dalam negeri.

"Semakin banyak orang Singapura yang menjauh dari karir di bidang sains," kata seorang blogger.

Seseorang menulis, "Menurut saya, gelar PhD tidak berguna, terutama di Singapura. Itu hanya selembar sertifikat, tidak lebih."
Lainnya menambahkan, "Di Amerika Serikat keadaannya lebih parah. Banyak yang datang ke sini untuk mencari pekerjaan."

"Saya tidak ingin anak saya bertahun-tahun sekolah akhirnya hanya menjadi sopir taksi," kata seornag ibu rumah tangga yang memiliki putri remaja.

Kasus yang menimpa warga negara Singapura, yang menjalani penelitian PhD-nya di Universitas Stanford dengan subyek penelitian seputar protein pengembang itu, sebenarnya tidak unik.

Ilmuwan peneliti Amerika, Douglas Prasher, yang berhasil mengisolasi gen yang bisa menghasilkan protein bersinar hijau--dan baru saja gagal meraih penghargaan Nobel 2008, menghadapi situasi yang sama.

Prasher pindah dari sebuah lembaga penelitian ke lembaga lain ketika dana penelitiannya habis. Pada akhirnya ia berhenti menggeluti sains, dan beralih menjadi sopir antar-jemput di Alabama.

"Meskipun demikian, ia tetap rendah hati dan bahagia dan kelihatan senang dengan pekerjaan mengendarai minivan-nya," kata seorang peselancar internet.

Dengan berubahnya pasar dunia kerja yang tersedia, dan semakin banyaknya pemilik usaha yang menginginkan beberapa pekerjaan bisa dilakukan oleh satu orang dengan kontrak kerja yang singkat, maka semakin banyak orang Singapura yang mengejar gelar yang berbeda. Misalnya akuntansi dengan hukum atau komputer dengan bisnis.

Sebagian orang mulai menghindari gelar pascasarjana atau bidang-bidang ilmu khusus. Mereka lebih memilih bidang keilmuan yang lebih umum atau lintas sektor.

"Pengalaman adalah raja," itulah semboyannya sekarang. Dan orang-orang berbondong-bondong mencari tempat magang tanpa bayaran.
"Di masa datang, yang dibutuhkan adalah para lulusan dengan keterampilan yang beragam dan karir yang fleksibel, orang-orang yang bisa menyesuaikan diri dengan berbagai pekerjaan yang berbeda," kata seorang pengusaha.
Selama beberapa tahun terakhir, di mana globalisasi semakin dalam, ada ketidaksinkronan antara apa yang dipelajari oleh orang Singapura di universitas dengan karir yang dijalaninya.

Singapura mengikuti tren di dunia maju, di mana bisnis-bisnis lama bisa hilang sekejap dalam satu malam, kemudian muncul bisnis yang baru, yang menjadi masalah bagi mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri.

Saya mengenal seorang pemuda, insinyur sipil dari universitas terkemuka di Amerika, yang menelantarkan dunia konstruksi untuk menggeluti dunia mengajar.

Seorang insinyur lainnya yang saya temui, mengurus kedai kopi ayahnya yang sangat menguntungkan. Lainnya, pengacara yang kemudian menjadi musisi atau jurnalis, dan lain sebagainya.

Kasus di mana orang-orang melakukan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan mereka, semakin hari semakin banyak. Sehingga para pewawancara yang menanyai calon pegawai tidak lagi bertanya, "Mengapa seorang ilmuwan berpengalaman seperti Anda mau bekerja sebagai pegawai tingkat rendah?"

Di masa lampau orangtua pusing memikirkan bidang studi apa yang harus ditempuh oleh anaknya, akuntansi atau hukum atau teknik, bidang-bidang yang menjanjikan kesuksesan. Dan mereka akan menentukan satu bidang, dan terus mengejar dan menggelutinya hingga menjadi profesi.
Seorang dokter akan bekerja menjadi dokter, seorang ahli biologi akan bekerja di laboratorium, dan pengacara akan sibuk berdebat di pengadilan.

Dr Cai adalah pria kelahiran China yang kemudian menjadi warga negara Singapura, setelah memperoleh PhD dalam bidang biologi molekuler dari Universitas Stanford tahun 1990. Dia bergabung IMCB dua tahun kemudian dan bekerja sebagai kepala peneliti di bidang genetika sel sampai kepergiannya.

Ia dihentikan dari di Institut Molekuler dan Biologi Sel (IMCB) di ASTAR Singapore, tempat di mana dia sudah bekerja selama 16 tahundan tak dapat menjamin pekerjaan lain sampai penghentiannya bulan Mei 2008. Menjelang November 2008, dia memutuskan menjadi seorang sopir taksi.
Kini, pria dengan seambrek kurikulum vitaes dan pengalaman universitas, lembaga pemerintah dan perusahaan menjadi sopir kendaraan Toyota Crown. “Pada saat seperti ini, bisnis taksi mungkin satu-satunya usaha di Singapura yang masih aktif merekrut orang, " katanya. [di/ts/www.hidayatullah.com]

Minggu, 20 September 2009

PIKIRKAN ANDA TELAH SAMPAI DISANA


April 16th, 2009
OLEH EKO JALU SANTOSO


“Agar dapat melesat secepat kilat meraih tujuan yang Anda dambakan, mulailah dengan merasakan dalam pikiran bahwa Anda telah sampai disana. Kemudian pertajam terus kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Anda, dimanapun, kapanpun dalam situasi apapun.”



Setiap orang tentunya sudah memiliki keinginan atau dambaan yang ingin dicapainya dalam kehidupan ini. Namun seringkali banyak diantaranya yang tidak berhasil meraih apa yang diinginkannya. Bagaimana agar kita dapat cepat berhasil mencapai tujuan kita ?



Salah satu caranya adalah dengan memulai memikirkan bahwa Anda telah sampai di tujuan yang Anda inginkan. Maka sebelum Anda berhasil meraih tujuan Anda, penting bagi Anda untuk dapat “melihat bahwa Anda sudah mendapakan tujuan itu dalam pikiran Anda.” Inilah yang disebut dengan kekuatan visualisasi.



Agar dapat memvisualisasikan tujuan Anda, penting bagi Anda untuk dapat mengetahui tujuan Anda yang jelas dan tajam sejernih kristal. Anda perlu mengetahui dengan berusaha menampilkan citra yang jelas dalam pikiran Anda tentang apa yang Anda inginkan. Maka buanglah berbagi hal yang tidak Anda inginkan dari pikiran Anda, sehingga Anda dapat fokus hanya pada tujuan yang Anda pikirkan.



Setelah dapat merasakan dalam pikiran bahwa Anda telah sampai di tujuan Anda, tidak kalah pentingnya adalah berusahalah mempertajam kemampuan Anda - khususnya kemampuan yang dapat mendorong tercapainya tujuan Anda tersebut -. Pertajam terus kemampuan Anda dimanapun, kapanpun dan dalam situasi apapun. Fokuslah terus pada tindakan-tindakan yang dapat mempercepat tercapainya tujuan Anda.

SEMOGA BERMANFAAT.



Salam Sukses Mulia,

Eko Jalu Santoso | Founder Motivasi Indonesia & Majelis Al-Ihsan Indonesia

Penulis Buku THE WISDOM OF BUSINESS, Elex Media Komputindo.

KEMENANGAN SEJATI


Kemenangan sejati bukan diukur dengan kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan dinilai dari bagaimana kita mampu memberdayakan potensi yang kita miliki, untuk mencapai prestasi terbaik melampaui standar yang kita tetapkan.”

Kisah tentang seekor belalang dan seekor anjing dibawah ini adalah awal yang tepat untuk menjadi kendaraan pemahaman kita dalam memulai tulisan ini. Dikisahkan dalam sebuah perjalanan, seekor belalang bertemu dengan seekor anjing yang sombong. Anjing ini menyombongkan diri kepada belalang kecil dengan mengatakan bahwa tidak ada satupun binatang yang mampu mengalahkan lompatannya di wilayah ini. Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati si belalang kecil ini. Kemudian belalang kecil ini berani menantang si anjing, bahwa dia bisa mengalahkan lompatan si anjing dengan syarat standar ukuran kemenangannya sesuai dengan standar yang ditetapkannya.



“Apakah kamu berani melayani tantangan saya ?”, demikian kata si belalang. “Kita berlomba melompat di tempat setinggi-tingginya dan pemenangnya diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, melainkan dinilai dari berapa kali tinggi lompatan yang dilakukan dibanding tinggi tubuhnya”.



Anjing menerima tantangan belalang ini. Kemudian Anjing mendapatkan kesempatan mencoba melompat yang pertama. Hasilnya, ia ternyata berhasil melompat setinggi 2 meter atau sekitar sepuluh kali tinggi tubuhnya. Berikutnya giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi seperempat dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Siapakah pemenangnya dalam perlombaan ini ? Tentu saja pemenangnya adalah si belalang kecil. Ia mampu melompat setinggi 40 kali dari tinggi tubuhnya dibandingkan si anjing yang hanya 10 kali dari tinggi tubuhnya.



Sahabat, pada dasarnya dalam kehidupan ini setiap orang bisa menjadi pemenang, kalau ukuran kemenangannya dinilai berdasarkan standar potensi yang dimilikinya. Kemenangan sejati sesungguhnya dinilai dari seberapa besar usaha yang telah kita lakukan berdasarkan potensi yang kita miliki untuk mencapai prestasi yang terbaik. Demikian juga dalam pekerjaan, hidup dan bisnis, Anda dan saya memiliki potensi masing-masing yang dapat ditingkatkan untuk mencapai prestasi kemenangan tertinggi sesuai standar yang kita tetapkan. Ukuran keberhasilan tidak selalu membandingkan dengan orang lain, melainkan dapat dinilai dari seberapa besar potensi yang telah kita miliki untuk mencapai prestasi terbaik kita. Maka membandingkan ukuran keberhasilan diri kita dengan pencapain kesuksesan orang lain adalah tidak bijaksana.



Kemenangan sejati sesungguhnya adalah bagaimana kita telah memberdayakan potensi kemampuan kita untuk meraih prestasi yang lebih baik dalam berbagai bidang kehidupan, seperti dalam kesehatan, kekayaan hati, kekayaan spiritual, kekayaan materi, keberhasilan prestasi kerja dan prestasi bisnis, dalam hal kemajuan dalam kehidupan keluarga, maupun memberikan konstribusi kebaikan bagi sesama dan kehidupan.



Marilah kita bertanya kedalam diri kita sendiri:
- Apakah hari ini saya sudah melakukan sesuatu yang lebih baik dibandingkan hari kemarin ?
- Apakah bulan ini saya sudah meraih prestasi lebih baik dibandingkan bulan lalu ?
- Apakah tahun ini sudah meraih prestasi lebih meningkat dibandingkan tahun lalu ?

Tentu saja ukurannya jangan hanya dinilai dari pencapain materi dunaiwi semata, melainkan dapat dinilai dari peningkatan kekayaan spiritual dalam diri kita. Ukurannya bisa, Apakah sudah lebih bijaksana, apakah sudah lebih meningkat dalam kehidupan spiritual, dalam kehidupan karier dan pekerjaan, dalam kehidupan bisnis, dalam pergaulan dan kemasyarakatan ? Apakah sudah meningkat dalam memberikan konstribusi dan manfaat kepada orang lain, dalam memberikan bantuan dan manfaat kebaikan bagi orang lain ? Dan tentu saja masih banyak lagi standar ukuran sesuai dengan potensi yang kita miliki.


Dalam pandangan Anthony Robbins seringkali diosebutkan dengan “Constant Action Never Ending Improvement”, sedangkan saya pribadi lebih senang menyebutkannya dengan “continues learning and never ending improvement.” Itulah prinsip memberdayakan potensi untuk meraih keberhasilan sejati.


Dari pada membanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain, lebih baik memulai melakukan evaluasi kedalam diri, kemudian melakukan perubahan-perubahan dari dalam diri kita sendiri. Menyusun kembali langkah-langkah pengembangan diri kita kedepan dengan prinsip “ continues learning and never ending improvement.” Bagaimana agar kedepan kita menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih kaya hati, memiliki sikap empti, lebih banyak memberikan kontribusi kebaikan, mampu lebih meningkatkan prestasi kerja, meningkatkan kualitas kehidupan spiritual dalam diri dan lain sebagainya. SEMOGA BERMANFAAT.



Eko Jalu Santoso | Founder Motivasi Indonesia | Penulis Buku “HEART REVOLUTION: REVOLUSI HATI NURANI” dan “THE WISDOM OF BUSINESS”, Elex Media Komputindo.

Jumat, 29 Mei 2009

INVESTASI NILAI-NILAI LUHUR


Sumber: Eko jalu santoso

Ketika Anda mendengar sebuah berita tentang seseorang yang tega melakukan tindakan pemerasan, penipuan atau korupsi untuk memeprkaya diri sendiri yang merugikan orang lain dan mereka tanpa merasa bersalah, apa yang ada dalam benak Anda ? Ketika Anda membaca sebuah berita tentang seseorang yang tega melakukan tindak kekerasan, merampok harta orang lain atau bahkan melakukan pembunuhan yang sadis, tanpa merasa dirinya bersalah, apa yang ada dalam pikiran Anda ?



Mendengar berbagai berita dan kejadian yang melanggar norma-norma kehidupan, tentu kita semua merasa sangat Prihatin. Semakin banyaknya kasus korupsi, pemerasan, perampokan dan tindakan kekerasan bahkan pembunuhan, tentu membuat kita semua merasa Prihatin. Sepertinya dengan mudahnya, nilai-nilai luhur dan norma-norma kehidupan dilanggar, tanpa merasa bersalah.



Ketika menyaksikan ada orang yang tega melakukan tindakan yang menyimpang norma kehidupan dan tanpa merasa bersalah, menurut saya setidaknya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah mereka ini sudah mematikan mekanisme kerja rasa bersalah dalam dirinya. Mereka ini sudah mematikan “urat perasaan salahnya, sehingga sudah tidak ada perasan bersalah atau perasaan malu untuk melakukan tindakan kejahatan atau tindakan yang melanggar norma-norma kehidupan.



Kemungkinan kedua adalah mereka memang tidak memiliki tabungan investasi nilai-nilai luhur yang bersumber dari dalam hati yang ditanamkan sejak kecil. Artinya mereka ini miskin hati nuraninya atau tertutub hati nuraninya, karena tidak terbiasa ditanamkan nilai-nilai luhur ini dalam dirinya. Akibatnya mekanisme kerja hati nuraninya tidak mampu lagi menjadi kontrol bagi dirinya.



Mekasisme nurani bila selalu ditumbuhkan dalam diri sejak kecil, maka ketika seseorang akan bertindak menyimpang dari nilai-nilai luhur, ia akan bergerak bagaikan gelombang yang cepat-cepat mengirimkan sinyal berupa peringatan dini ke dalam diri seseorang. Mekanisme nurani ini selalu mengirimkan sinyal berupa tindakan kearah positif dan kebenaran. Mereka yang selalu menabung atau berinvestasi pada nilai-nilai luhur dalam dirinya, maka sinyalnya semakin kuat dan semakin mudah mengarahkan tindakan pada hal-hal positif. Ketika akan melakukan berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini dalam hati nurani, mekanisme hati nurani akan dengan cepat memberikan sinyal bahwa tindakan itu salah dan menyadarkan seseorang pada kebenaran.



Dalam kehidupan sehari-hari biasakanlah untuk selalu berinvestasi pada kebaikan dan nilai-nilai luhur sesuai dengan suara hati nurani. Anda dapat membiasakannya dengan selalu mendekatkan diri pada Allah, bergaul dengan orang-orang yang positif, senang berbagi keramahan, berbagi kebaikan, berbagi kasih sayang dan menumbuhkan rasa empati untuk menolong orang lain. Anda dapat memperbanyak tabungan investasi nilai-nilai luhur ini setiap saat.



Meningkatkan nilia-nilai luhur dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dalam keadaan apa saja. Ketika sedang bekerja, sedang belajar, sedang menjalankan usaha atau dalam berbagai kehidupan sehari-hari lainnya. Berusahalah menggunakan suara hati nurani sebagai pengawas perilaku dan sikap Anda dalam kehidupan. Berusaha melakukan dialog batin untuk mempertanyakan, mengkonfirmasi, mengingatkan atau kemudian menimbulkan kesadaran akan rasa bersalah, kesadaran akan rasa malu akan tindakan menyimpang dalam kehidupan. Semakin sering Anda melakukan investasi nilai-nilai luhur ini, maka semakin banyak tabungan investasi dalam diri Anda dan hasilnya sinyal peringatan dini tentang nilai-nilai kebaikan dan kebenaran akan semakin kuat. Suara hati akan semakin kuat memberikan bisikan pada diri kita. SEMOGA BERMANFAAT.



Salam Sukses Mulia,

Eko Jalu Santoso | Founder Motivasi Indonesia & Majelis Al-Ihsan Indonesia

Penulis Buku THE WIISDOM OF BUSINESS, Elex Media Komputindo.

Minggu, 24 Mei 2009

Bedah Rumah


Membawa Ruang Luar ke Dalam Hunian

[Bedah Rumah
]
sumber : majalah housing estate

Hunian mengacu pada konsep modern tropis. Sementara tatanan interiornya didesain dengan membawa ruang luar ke dalam.

Memanfaatkan lahan terbatas dengan memaksimalkan kesatuan antara ruang dalam dan ruang luar, adalah solusi desain yang ingin dihadirkan dalam hunian ini. Lahannya seluas 16 x 8 m2 dengan bangunan dua lantai seluas 151 m2. Rumah tipe Vanda di perumahan The Orchid Bintaro, Pondok Aren-Tangerang, ini mulai dipasarkan PT Grahacipta Asia, kolaborasi konsultan arsitektur ternama PT Grahacipta Hadiprana dan developer PT Lentera Griya Asia, sejak Maret 2007 seharga Rp700 jutaan.

Hunian mengacu pada konsep modern tropis. Tampilan eksteriornya dibalut dinding warna abu-abu dan kaca-kaca transparan berukuran besar tanpa bingkai (frameless). “Untuk menguatkan kesan modern,” kata Budi S Soenarto, Associate PT Grahacipta Hadiprana. Sementara sentuhan tropisnya terlihat dari penggunaan bentuk atap segitiga pelana serta material kusen dan pintu yang tetap memakai unsur kayu.

Interior

Tatanan interiornya didesain dengan membawa ruang luar ke dalam. Banyak ditempatkan bukaan berupa pintu lipat dan jendela model kaca mati berbahan kaca transparan, sehingga meski secara fisik lahannya terbatas, secara visual terasa luas.

Kesatuan ruang dalam dan ruang luar bisa dilihat pada area ruang tamu seluas 2,5 x 3 m yang terasa lapang dan diselingi suara gemericik air yang menyejukkan. Pasalnya, di salah satu sisinya ditambahkan kolam kecil memanjang berukuran lebar satu meter dan panjang 2,5 meter yang mengalirkan air dari dalam ke luar bangunan.

Untuk mengimbangi keberadaan kaca mati di ruang tamu, bagian kolam hanya dibatasi dengan rangka besi vertikal yang disusun jarang, sehingga sekaligus berfungsi mengalirkan udara segar. Atapnya terbuat dari polikarbonat yang transparan untuk memasukkan cahaya siang ke dalam rumah.

Keterbukaan juga terasa pada area ruang keluarga dan ruang makan yang terhubung langsung dengan taman belakang secara leluasa. Dibuatkan pintu lipat yang bisa dibuka-tutup dan kaca mati model frameless.

Lighting

Keistimewaan desain rumah ini juga didukung oleh penataan cahaya (lighting) yang diciptakan mulai dari fasad hingga interiornya. Pencahayaan pada teras dihadirkan dengan sistem indirect lighting yang dipancarkan dari balik plafon. Sementara ruang-ruang di dalamnya menggunakan lampu downlight yang terbenam di atas plafon. Jika akan menempatkan sebuah artwork atau lukisan, juga sudah disiapkan titik-titik lampu untuk spot lighting.

Fleksibel

Pemenuhan kebutuhan ruang dalam hunian ini diasumsikan untuk keluarga muda dengan dua sampai tiga anak. Tipe standar terdiri dari satu ruang kamar utama di lantai bawah, serta dua kamar anak dan satu kamar pembantu di lantai atas.

Namun, ruang-ruang juga bisa bertumbuh secara fleksibel. Misalnya, bagian void yakni ruang kosong yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas secara menerus dapat ditutup untuk dijadikan kamar tambahan.

Pengelompokan antara ruang utama dan ruang servis adalah untuk memberi kenyamanan bagi penghuni rumah. Dapur berada di bagian depan kemudian kamar pembantu, tempat mencuci dan menjemur pakaian berada di lantai atasnya.

Jika ingin meluaskan area dapur, tangga servis bisa dihilangkan, sehingga tangga utama dipakai juga untuk keperluan servis. Penambahan jalur sirkulasi di lantai atas menuju ruang servis juga dimungkinkan dengan membuka bagian dindingnya.

Sementara taman di bagian belakang dirancang agar bersih dari area servis, sehingga benar-benar bisa dinikmati dan dimiliki oleh seluruh penghuni rumah.

Hemat energi

Isu lingkungan juga menjadi perhatian dalam desain hunian ini. Salah satunya, penghematan penggunaan kayu dengan mengurangi pemasangan kusen jendela. Tampilan kaca yang dibiarkan tanpa bingkai (frameless) ini juga bisa meluaskan pandangan ke luar bangunan.

Karena terdapat banyak bukaan, penerangan di siang hari cukup didapat dari masuknya cahaya siang ke dalam rumah. Jadi, tidak perlu menyalakan lampu. Di samping itu sirkulasi udara juga sangat diperhatikan. Pada area kamar mandi misalnya, selalu diselipkan bukaan berupa jendela kaca buram yang bisa mengalirkan udara ke luar, sehingga tidak memerlukan alat mekanik penghisap udara. Halimatussadiyah

Perabot Untuk Ruang Terbatas

Ruang tamu kecil ini sengaja tidak diisi penuh dengan furnitur. Cukup dua buah kursi dan satu buah meja. Sebagai tambahan dibuatkan bangku panjang dari kayu seperti bench yang bisa dimanfaatkan juga sebagai meja.

Lemari pakaian dengan daun pintu dari kaca cermin dapat berfungsi ganda. Disamping dapat dimanfaatkan untuk bercermin juga membuat ruangan berkesan luas.

Tempat untuk meletakkan satu set televisi tidak selalu berupa credenza yang menempel di atas lantai. Ide membuat meja berlaci dengan lapisan atas meja (top table) dari bahan marmer berwarna putih ini, layak ditiru. Posisinya menggantung di atas lantai dan hanya menempel di dinding. Tampilan perabot ini berkesan ringan dan efeknya terhadap ruangan terasa luas.

Homogeneous

Penutup lantai pada ruang tamu dan ruang keluarga rumah ini memakai homogeneous tile atau disebut juga granite tile. Karakter dan tampilan material ini seperti batu alam. Kekuatannya terhadap beban lebih baik dari keramik biasa. Ukurannya besar-besar. Misalnya, 60 x 60 cm dan bisa dipasang tanpa nat ataupun dengan nat yang sangat kecil, sehingga memberi efek ruang terlihat lapang. Untuk area servis dan kamar mandi, tetap menggunakan keramik biasa berukuran 30 x 30 m2 dan 33 x 33 m2.

Parket

Seluruh lantai kamar dalam hunian dilapisi bahan parket berwarna cokelat tua dengan motif kayu yang halus. Material parket lebih hangat saat dipijak dibanding lantai keramik yang dingin. Karena berbahan dasar kayu, ada yang terbuat dari kayu solid dan ada juga yang terbuat dari particle board.

Kayu kelapa imitasi

Tampilan kusen dan pintu dalam rumah ini sekilas ekspresinya seperti kayu kelapa. Bertekstur garis-garis kasar memanjang dan warnanya sangat alami. Padahal, hanya terbuat dari kayu kamper yang dikerjakan khusus. Caranya, sebelum dipelitur, kayu digaruk dengan sikat kawat. Pori-pori kayu dibiarkan terlihat terbuka lalu dilapisi dengan politur bening. Selain tampak menawan, kusen dan kayu kelapa imitasi ini juga memberi sentuhan rumah bergaya resor.

Plafon gipsum

Plafon ditutup dengan menggunakan material gipsum polos. Dibandingkan dengan eternit ataupun triplek, pemasangan gipsum lebih mudah dan fleksibel untuk dibentuk. Penopang yang dibutuhkan adalah rangka kayu atau besi hollow dengan modul 60 x 60 cm atau bisa dibesarkan hingga 1 x 1 m agar lebih hemat. Sambungan gipsum pada plafon bisa terlihat lebih mulus dan datar (flat) dibanding eternit atau triplek. Supaya terlihat modern dan stylish, bagian tepi plafon dipasangi kanal U sebagai pengganti lis dekoratif sehingga plafon terlihat terpisah dengan dinding atasnya.

Batu andesit

Fasad rumah diperkaya dengan tampilan susunan batu alam andesit berbentuk bidang persegi panjang yang ditata maju-mundur. Sementara lantainya dipasangi batu alam dengan aksen koral sikat sebagai bingkai (border).

Panel dinding

Untuk memberi kesan yang menyatu antara ruang keluarga dan ruang makan, salah satu sisi dindingnya dilapisi panel dinding dari bahan multipleks berwarna kuning kecokelatan. Masing-masing dinding dihadirkan dengan komposisi bidang panel yang berbeda. Tidak hanya berbentuk persegi empat tapi juga ada yang aksen bidang panel yang berbentuk bundar.

Aplikasi panel pada dinding menggunakan rangka dari kayu atau besi hollow yang disesuaikan dengan ketebalan dan bentuk-bentuk yang diinginkan.

Genteng beton

Bentuk atap miring selain cocok dengan iklim tropis, ruang di bawahnya bisa dimanfaatkan untuk gudang. Rangka atap dengan bentang yang pendek pada bangunan ini cukup ditunjang dengan sopi-sopi, yakni dinding penopang pada ujung-ujung atap. Jadi, hanya membutuhkan pemasangan struktur kuda-kuda pada bagian tengah atap saja. Langkah ini ternyata dapat mengurangi biaya yang signifikan. Sedangkan material penutup atapnya memakai jenis genteng beton datar.

Sabtu, 23 Mei 2009

CARA BERTAHAN DAN FLEKSIBILITAS


Cara Bertahan dan Fleksibilitas
SUMBER:WWW.SEPUTARINDONESIA.COM
OLEH: RHENALD kHASALI, ph.D
Sunday, 17 May 2009

KRISIS finansial yang saat ini melanda pasar global berpengaruh langsung pada performa dunia bisnis di Indonesia.Banyak pelaku bisnis dipaksa merevisi target awalnya setelah melihat begitu besar pengaruh krisis global ini terhadap berbagai sektor perekonomian.


Di lain pihak, krisis juga merupakan waktu yang tepat bagi perusahaan untuk mengevaluasi manajemen bisnis. Sebuah perusahaan mau tak mau harus mengukur kembali kekuatan sebenarnya serta melihat titik lemahnya. Jika sebuah perusahaan mampu melihat plus-minus kekuatan yang dimiliki, terbuka kemungkinan melewati krisis. Proses mengenali kekuatan berdampak positif pada perencanaan bisnis.Tentu saja,upaya yang dilakukan bertujuan menjaga core bisnisnya tetap bernapas.

Pakar manajemen Renald Kasali menyebutkan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan perusahaan agar bisa bertahan dan tumbuh di saat krisis.Pertama,perusahaan harus memiliki seorang pemimpin yang bagus. Sepak terjang seorang pemimpin merupakan kunci perusahaan agar bisa bertahan. Jika kebijakan yang dikeluarkan bagus, sangat mungkin mempermudah perusahaan melewati krisis. Renald menyebutkan, masih banyak perusahaan di Indonesia yang sistem regenerasi kepemimpinannya jelek, terutama di beberapa badan usaha milik negara (BUMN).

Hal ini terjadi karena terkadang dalam proses regenerasi direksi maupun komisaris, lebih banyak digunakan pendekatan politis dibandingkan profesional. Kedua,perusahaan harus mampu beradaptasi dalam berbagai keadaan, baik itu dalam keadaan krisis atau kondisi perekonomian normal.” Kemampuan beradaptasi dalam segala keadaan ini yang menentukan sebuah perusahaan apakah mampu bertahan dan tumbuh di saat krisis,”ungkap Rhenald. Ketiga, strategi inovasi dan efisiensi. Artinya dalam kondisi pasar yang tidak stabil, perusahaan harus mampu memotong berbagai anggaran yang dianggap tidak produktif.

Selain itu, diperlukannya penerapan manajemen keuangan konservatif yang didukung sumber daya manusia berpemikiran ke depan. Pengelolaan keuangan konservatif artinya perusahaan harus menyimpan jumlah dana tertentu guna mengantisipasi situasi yang tidak diperkirakan. Untuk itu, dana yang ada bukan hanya dihabiskan untuk fixed asset seperti tanah, bangunan hingga kendaraan, tetapi sebaiknya sebagian dana tersebut ditabung untuk mengantisipasi pasar. ”Utang itu memang per-lu untuk menjalankan roda bisnis,tetapi cashsendiri harus dijaga secara konservatif dan disiplin,”ungkapnya.

Sementara itu, pakar manajemen Universitas Indonesia Alberto Hanani mengungkapkan, perusahaan harus selalu memperhatikan aliran kas (cash flow) yang mereka miliki. Sebab, ketika krisis, perbankan maupun lembaga keuangan akan menjaga likuiditasnya seketat mungkin. Segunung prasyarat serta bunga tinggi menjadi syarat yang harus dipenuhi untuk mencairkan kredit. Hal ini mengakibatkan likuiditas di pasar akan semakin ketat. Keadaan ini cukup bisa dimaklumi.

Pasalnya institusi keuangan adalah institusi yang juga biasanya paling terpukul dengan kondisi financial meltdown di era krisis. Maka, jalan yang paling rasional adalah dengan melakukan pengawasan secara ketat aliran dana kas yang mereka lalui.Jangan sampai dana cadangan hanya digunakan untuk proses-proses yang kurang produktif. Alberto mengingatkan perusahaan harus selalu mengevaluasi fundamental finansial perusahaan. Kas yang dimiliki perusahaan adalah segalanya mengingat kredit maupun pinjaman dipastikan akan semakin langka.

Ditambah lagi sebagian perusahaan juga kehilangan pasarnya karena masyarakat di saat krisis cenderung mengerem belanja.”Jadi perusahaan dengan kas besar akan berpeluang lebih besar,”ungkapnya. Perusahaan juga harus mampu memberi keyakinan kepada pasar bahwa usaha yang dijalankan bisa bertahan.Hal ini dimaksudkan untuk merangsang kepercayaan pasar pada komoditas yang mereka tawarkan. Langkah ini bisa ditempuh dengan tetap menjaga strategi promosi meski sedang dibayangi krisis.

Selain itu, perusahaan juga perlu mengevaluasi keuntungan kompetitif perusahaan dan negosiasi dengan pihak berkepentingan seperti penyuplai dan konsumen serta pihak internal perusahaan. Langkah ini bisa dilakukan dengan menerapkan tarif baru yang lebih kompetitif hingga memperkecil skala penjualannya. ”Kita tidak boleh terlambat melakukan restrukturisasi dan membangun negosiasi ulang kontrak-kontrak,” lanjutnya.

Krisis memang menuntut perusahaan bisa sefleksibel mungkin melakukan terobosan-terobosan bisnis.Mereka dipaksa harus mampu meretas jalan baru guna menambah kepastian bisnisnya tetap berjalan di saat krisis.Namun tidak tertutup kemungkinan, dengan jalan baru tersebut,pihak perusahaan bisa menyulap dari sebuah kesulitan menjadi sebuah kesempatan. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

Gumun- Bangsa Pemalas


gumun in Kolom Budaya Emha Ainun Najib / Suara Merdeka
December 14, 2006 · 9 Comments


Kita Bukan Bangsa Pemalas

source: suara merdeka, Kamis, 16 Oktober 2003

ORANG yang gumunan sering mengatakan, satu orang Jepang kualitas dan tenaganya sama dengan 5 orang Indonesia. Sementara satu orang Korea sama dengan 3 orang Jepang. Jadi 15 orang Indonesia baru bisa menandingi satu orang Korea. Yang dibandingkan adalah stamina dan etos kerjanya, keuletan dan kerajinannya, kadar profesionalitas dan manajerialnya.

Tentu itu berangkat dari kenyataan industri dan perekonomian Korea yang semakin menguasai dunia. Padahal negaranya kecil, tak punya kekayaan alam, laki-lakinya jarang yang ganteng dan perempuannya tak ada yang mampu menandingi kecantikan artis-artis kita.

Memang sesudah sampai awal tahun 80-an Korsel kacau kepribadian kebangsaannya, sesudah ditandangi oleh pemerintahan militer yang bersikap sangat memacu kerja keras rakyatnya, yang menempelengi koruptor dan para pemalas. Akhirnya bangkitlah bangsa Korea, dan sekarang langit bumi mengaguminya.

Tetapi kalau kesimpulan itu mengandung tuduhan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pemalas, sangat suka mencuri, tak mau jalan kecuali jalan pintas, main bola sambil duduk tapi ingin menang 5-0 dan kalau kemasukan gol marah-marah – itu salah besar!

Bangsa Indonesia bukan bangsa pemalas. Kita adalah bangsa yang memang tidak perlu rajin, tidak membutuhkan keuletan, tidak mau ngoyo, cukup ikut sidang-sidang kemudian bisa bikin supermarket, dll. Kita bangsa yang kaya raya sejak dari sononya, sehingga cukup mengisi kehidupan dengan joget dan tidur saja, tidak perlu repot-repot seperti bangsa-bangsa lain. Sedemikian adil makmur aman sejahteranya negara kita, sehingga kita tidak membutuhkan pemerintahan yang baik.

Demi membantah pendapat di atas, saya nekat terbang ke Korea. Mohon maaf minggu kemarin saya absen menulis karena itu. Tapi karena di negeri ginseng itu saya tidak tahu jalan, maka 12 hari baru bisa pulang kembali ke tanah air. Apalagi orang Korea sangat benci kepada Amerika Serikat, sehingga mereka sangat gengsi untuk memakai bahasa Inggris. Jadi semua informasi, petunjuk-petunjuk di jalan dan di mana saja hampir 99% memakai bahasa dan tulisan Korea.

Dulu mereka benci Jepang karena sebagaimana kita Indonesia, mereka juga dijajah Jepang, rakyatnya diperbudak, kerajaannya dibakar habis – sampai akhirnya di kemudian hari mereka mengimpor kayu dari Kalimantan untuk bikin bangunan kraton yang dimirip-miripkan dengan aslinya.

Korea merdeka dari Jepang dua hari sebelum kita, yakni 15 Agustus 1945. Sekarang di zaman modern mereka punya sasaran kebencian yang lebih besar, yaitu Amerika Serikat – meskipun tentu saja hati rakyat mereka tidak tercermin oleh sikap pemerintah mereka. Namanya juga pemerintah, tentu agak aneh kalau sepak terjangnya mirip dengan kelakuan rakyatnya.

Saya jadi enthung thilang-thileng di Encheon, Seoul, Busan, sampai ke pinggiran Suwon, Ansan dll. Mana gedung-gedungnya tinggi-tinggi amat. Belum lagi kereta bawah tanahnya silang sengkarut berlapis-lapis mengiris-iris bertingkat-tingkat ke bawah permukaan bumi. Keluar dari subway saja saya pasti bingung, apalagi setiap subway di bawah tanah itu ada lapisan-lapisan pasar yang masing-masing se-kecamatan luasnya. Huruf latin tak ada 5% jumlahnya.

Lebih celaka lagi karena kebanyakan orang Korea tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara kemampuan bahasa saya juga sangat awam. Kalau ke Mesir, Arab, Jordan, Syria atau Israel, saya selalu mengaku kepada orang-orang di sana bahwa saya lebih mampu berbahasa Inggris dibanding bahasa Arab.

Sementara kalau saya ke London, Ann Arbor, atau ke Perth, saya selalu memamerkan bahwa memang bahasa Inggris saya sangat buruk – tapi kan bahasa Arab saya sangat OK.

Padahal orang Korea sangat jarang tidur. Jam 11 malam saya ketemu anak-anak SMP pulang sekolah. Jam 1 dinihari mahasiswa-mahasiswi pulang kuliah. Mulai jam 2 pagi Pasar Dong Daimun, Nam Daimun atau mall Doota justru sedang ramai-ramainya. Karena kita negara sejahtera maka Jakarta macet sore-sore kita sudah cemas, padahal di Seoul jam 3 pagi di sana – sini traffic jam.

Begitu banyak orang, tapi saya tak bisa omong apa-apa. Ada satu dua kata Korea saya tahu, tapi hilang maknanya karena setiap kata ditambah “see” atau “ee”. Sampai akhirnya saya ngedumel sendiri dan menyanyikan lagu Indonesia berjudul “Asek”. Bunyinya: “Asekuntum mawar meraaah, o o o….”

Alhasil saya kebingungan. Tak tahu utara selatan. Karena di luar Indonesia orang ngertinya kanan kiri depan belakang atas bawah. Barat timur sudah lenyap. Karena Tuhan sendiri berfirman bahwa la syarqiyyah wa la ghorbiyyah.. Tak timur, tak barat.

Untung saya ditolong oleh seorang direktur utama sebuah perusahaan pembuat alat-alat Security System dan software komputer, terutama Internet Multimedia Phone.

Sebagai orang udik saya terbengong-bengong di tepi jalan, sampai akhirnya dihampiri oleh beliaunya itu. Seorang Sajang, alias juragan perusahaan besar – meskipun tak sebesar Samsung, SK, LG atau Honde (Hyundai) – yang barusan pimpinannya bunuh diri terjun dari gedung tinggi gara-gara rahasia keuangan ekstra perusahaannya yang terkait dengan Korea Utara.

Tapi Pak Sajang ini kelakuannya sungguh aneh. Saya didatangi, dikasih rokok, diajak makan, bahkan dia membawa wajan sendiri untuk keperluan penggorengan makan kami. Saya dikursus bagaimana menggunakan sumpit. Kemudian beliau mengajak saya keliling melihat-lihat kantor-kantor dan pabriknya. Saya dibikin terkagum-kagum dipameri kunci atau gembok pintu yang detektor pembukanya menggunakan sidik jari. Kalau sidik jari kita belum terdaftar, nggak bisa buka pintu. Kemudian bahkan ada gembok yang berdasarkan sinar mata kita. Meskipun nama saya Ainun, artinya mata – tetap saja pintu itu tak bergeming meskipun saya pelototi habis-habisan sampai mengerahkan ilmu kebatinan Kaliwungu, Banten, Tulungagung dll.