Rabu, 28 Oktober 2009

Mental Block



Oleh : EKO BAYU AJI

Keberadaan kita sebagai manusia kerap kali menghadapi dilema-dilema yang dapat menghambat dalam pencapaian tujuan, kendala-kendala ini sebagian besar disebabkan akibat adanya penghambat mental (mental block)yang sudah terekam di otak kita sekian waktu dan terakumulasi secara lama.
Misalkan saja;rasa minder yang berlebihan dalam bekerja karena merasa tidak mampu akibat kurang gaul, berasal dari lingkungan kumuh, merasa tidak mampu karena metode pendidikan di rumah yang salah atau disekolah yang kerap membebani bahkan murid hanya diajari belajar tanpa mengerti konsep dan hanya berhafal...contoh 3 x 1 artinya apa? mereka pada bingung apa 3 nya satu kali apa 1 nya tiga kali, coba minum obat dokter 3 x 1 pasti jawabanya 1 obat diminum dalam sehari 3 kali minum ..nah..???

Anak hanya diajari menghafal,menghitung tapi tanpa memahami belajar tanpa memahami metode yang tepat dan beban tugas yang berat disekolah yang berakibat tidak mampunya siswa bersinergi dengan lingkungan sosial dan bakan dengan alam sekitarnya...akibatnya yaa banyak anak yang tidak tahu tujuannya mau kemana setelah study..akibatnya banyak sarjana yang menganggur..lho kok bisa?? lah pendidikannya kadang bukan apa yang menjadi minat dan hasrat dia akibatnya banyak bingung "How to Start" pasca kelulusan.

Mental Block yang salah diperparah dengan metode pendidikan yang mengukur aspek prestasi dari nilai yang dapat nilai 100 yaa genius yang 40 yaa IQ nya jongkok ... padahal ini yang menjadi trauma anak didik.. contoh; banyak siswa trauma dengan pelajaran matematika karena cara pengajaran yang salah dan ditunjang motivasi nilai rendah akan membuat siswa tidak betah,takut,kalut akhirnya jadi membenci matematika ..lah inilah mental Block yang menjadi penghambat.

Dalam bekerja mental block yang salahpun akan berakibat kita menjadi terbayang dengan pengalaman buruk yang berakibat pada traumatis yang menjadikan kita malas berubah,malas bergerak. Padahal kita ini mampu dan punya power yang tak terbatas.Kita dilahirkan jadi Pemenang itu yang kita harus yakinkan, kelahiran kita contoh kemenangan sebuah sperma membuahi ovum, disinilah Kuasa Tuhan.

Kita hilangkan mental block ini dengan menanamkan keyakinan bahwa kita ini mampu, dan melakukan terapi dibawah pakar yang berkompeten dibidangnya.Yang terpenting terus pupuk sifat positif, rasa positif luar dan dalam..dan terus berkerja tanpa menyerah sambil terus belajar dan terus berbenah disana sini.
Semua orang memiliki mental block yang jika tidak segera dicarikan solusi akan menjadikan kita tidak maju dan berkembang yang pasti akan merugikan diri kita sendiri.

Dan pesan saya yang terpenting adalah Belajar memang tidak ada ruginya untuk menghilangkan mental block yang ada pada diri kita masing-masing.Baik dengan cara spiritual (agamis) maupun ilmiah yang harus terpadu dalam diri kita.

Minggu, 25 Oktober 2009

Bekerja Dari Hati



OLEH: EKO BAYU AJI

Bekerja sebenarnya adalah salah satu cara untuk mewujudkan kemakmuran baik secara individu dan kluarga berbangsa dan bernegara.
Dus bekerja akan semakin bermakna jika kerjakan dengan rasa rela, dari hati, dan penuh penjiwaan (pikiran bawah sadar) selain untuk memenuhi sandang pangan, jabatan dan materi (pikiran sadar).

Dewasa ini banyak didengungkan motivasi finansial yang membuat sebagian orang kepingin instan dalam hidupnya sehingga bekerja by pas serba instan asal duit dapat ..setelah duit dapat pertanyaannya terus untuk apa? hati gelisah pelampiasan gak karuan karena cara instan akan melahirkan perbuatan yang instan pula (bermewah dalam hidup. cari uang dari cara yang tidak dibenarkan, and so on)

Bekerja dengan hati berbeda kita liat aja misalkan seorang perawat di Rumah sakit dengan gaji yang cukup dia dengan penghayatan karena bekerja dari hasrat dalam hati akhirnya mampu melayani dengan sopan dan memuaskan beda perawat yang kerjanya karena rutinitas kerja..demikian juga pegawai atau karyawan yang bekerja dari inner power pasti cara kerjanya akan berbeda dengan kawan-kawannya yang karena rutinitas, jabatan , atau materi...pasti orang lain bisa menilainya.

Dengan penjiwaan tersebut manusia seenarnya mengurangi beban stress dan beban jiwanya, walau secara materi kalah dengan yang instan tapi hidupnya lebih apik, elok dan banyak orang yang menghargai tindakannya yang penuh dedikasi dan komitmen.

Kembali lagi semua adalah pilihan kita mau memilih jalan yang mana..asal jangan lupa kerjakan semua dari hati terdalam niscaya ada Unlimitted Power yang dahsyat yang kita miliki dan walau tidak terlihat hasilnya sekarang pasti penerus atau waktu akan tahu hasil kerja anda..selain itu Tuhan juga akan mereward perbuatan kita dengan menjadi manusia yang berbudi luhur dan dihargai siapapun selebihnya adalah wewenang Sang Maha (jika kita sebagai makhluk beragama)

Semuanya pasti melalui proses dan dengan proses yang baik niscaya hasilnya akan berbeda.Karena segala sesuatu tidak hanya diukur dari materi, percuma aja materi berlimpah jika hati kering dan tidak bermakna---diujung karier kita nanti di dunia (kematian) akan sedih jika pahatan prestasi kita cuma mengumpulkan harta tanpa ada manfaat bagi orang lain,atau mengejar jabatan tanpa ada niat untuk kebaikan, pasti diujung hidup kita terutama dimasa tua akan ada penyesalan dan tinggal penyesalan.Untuk itu mari kita bangkit dan berproses dengan baik.

Bekerja dengan hati akan menjadikan kita orang yang berbudi dan bermoral sehinggi politics office dngan intrik menjatuhkan kawan sendiri, menyalahi peraturan ataupun menguntungkan diri sendiri akan dapat diminimalisir sehingga biaya pelatihan akan dapat dikurangi dan hasilnya lebih kongkret dan aplicable dan bukan rekayasa.

Wassalaam wr.wb

Sabtu, 10 Oktober 2009

SIAPA TAKUT MEMBELI RUMAH TIPE KECIL?

Cara Menyiasati Pengembangan Rumah Tumbuh

Oleh Franhky Wijaya Dipl Ing

[ opini ]

Banyak yang beranggapan membeli rumah kecil itu tanggung . Nanti juga dirombak kalau bayi sudah besar atau keponakan Ibu ikut tinggal di rumah. Masalahnya, bagi yang berpenghasilan pas-pasan tidak mungkin memaksakan diri membeli rumah besar. Pilihannya rumah tipe kecil yang harga bangunannya tidak terlalu mahal. Bagaimana mengutak-atiknya agar tetap mampu menampung perkembangan kebutuhan? Rumah tumbuh adalah salah satu alternatifnya.



Defnisi

Rumah tumbuh adalah pengembangan rumah induk secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan faktor finansial. Rumah tipe kecil yang banyak ditawarkan developer sangat baik dijadikan rumah induk. Dikatakan rumah induk karena secara umum kebutuhan ruang seperti kamar tidur, ruang keluarga, dapur serta kamar mandi sudah tersedia walau ukurannya masih kecil.

Pengembangan lanjutan baru dilakukan jika ada rezeki berlebih dan ada kebutuhan penambahan ruangan. Karena itu penting memperhatikan setiap detail bangunan karena hal itu banyak kaitannya dengan biaya.



Ketersediaan lahan

Sebaiknya beli rumah tipe kecil dengan lahan cukup luas, sehingga pengembangan bisa dilakukan tanpa mengganggu rumah induk. Biasanya developer menyediakan lahan belakang untuk dikembangkan sendiri. Selama tidak banyak mengubah tampak bangunan, developer tidak keberatan.

Selanjutnya, tentukan apakah pengembangan ke arah horizontal atau vertikal. Bila lahan memungkinkan, pilih ke arah horizontal dengan memanfaatkan taman belakang atau taman samping sebagai dasar pengembangan desain selanjutnya. Dengan cara itu tampak bangunan tidak banyak berubah.

Sering terjadi taman belakang yang sudah disediakan kurang dimanfaatkan secara optimal sehingga ruang-ruang yang terbentuk juga tidak optimal. Sementara taman depan biasanya sudah tidak bisa dikembangkan lagi karena sudah mentok dengan garis sempadan bangunan (GSB).

Kaveling rumah tipe kecil tentu saja tidak sama dengan kaveling rumah tipe besar. Ruang keluarga berukuran 3 x 3 tentu tidak sama dengan ruangan 10 x 10, tapi selama fungsinya sama-sama tercukupi tidak masalah. Bahkan ruangan yang kecil memungkinkan kita membuat desain yang lebih kompak melalui pengaturan perabot dan warna ruangan.



Konstruksi bangunan

Pengembangan secara horizontal tidak terlalu memberatkan konstruksi bangunan yang telah ada. Sebaliknya pengembangan vertikal perlu diketahui dulu seberapa jauh konstruksi rumah induk dapat ditingkatkan. Tanyakan pada ahli-ahli struktur atau pihak developer. Dengan perencanaan yang matang, kita dapat mengetahui konstruksi mana saja yang dapat dipertahankan atau harus dibongkar untuk penambahan ruangan.

Juga bagian mana saja yang sudah dipersiapkan bila ada penambahan lantai. Semakin banyak bagian yang dipersiapkan di awal, makin sedikit pengeluaran untuk pengembangan tahap selanjutnya.



Rancangan akhir

Walaupun rumah tumbuh, bukan berarti rumah induk dapat senantiasa dikembangkan. Jangan hanya memikirkan pengembangannya untuk jangka waktu pendek dan hanya optimal saat itu saja. Tapi, pikirkan sejak awal bagaimana selanjutnya? Kita tidak ingin ruangan di rumah seperti susunan gerbong kereta atau susunan rumah burung, bukan?

Mesti ada perencanaan yang matang, ruangan mana yang akan ditambah kalau ada penambahan anggota keluarga. Dan sebaiknya kita juga tahu rancangan akhir dari rumah itu. Bagaimanapun lahan kecil punya batas maksimum. Kalau kita membangun rumah melebihi batas maksimumnya, tentu ruangannya juga tidak akan optimal.

Pemilihan material dan warna

Rumah tumbuh sebaiknya mempunyai nuansa yang sama dan terpadu dengan rumah induk. Supaya ruangan yang baru tidak terkesan tambalan, pilihan material dan warna bangunan sebaiknya sama atau mendekati rumah induk. Kecuali kita ingin menambahkan aksen-aksen warna di ruangan tertentu.



Sirkulasi udara dan pencahayaan

Ruangan yang baik dan sehat memiliki sirkulasi dan pencahayaan yang baik. Adanya jendela di setiap ruangan adalah wajib. Dengan perencanaan yang baik kita tahu kemana arah jendela setiap ruang ini menghadap. Apakah menghadap taman atau ke ruangan yang lain bila ada penambahan ruang.



Franhky Wijaya Dipl Ing

Senior arsitek pembangunan Kota Deltamas, Bekasi



Tahap 1

Pada tahap ini denah awal tidak begitu banyak berubah. Ruang makan yang digabung dengan ruang bersama terlihat agak sempit, dapat dipindahkan ke belakang dan berdekatan dengan dapur. Tidak perlu ada penambahan dinding supaya ada kesan ruangan menyatu dengan taman belakang. Penataan taman belakang perlu dilakukan, salah satunya dengan penempatan gazebo.

Tahap 2

Pada tahap ini kita melakukan penambahan ruang tidur di belakang dengan ukuran yang lebih besar. Supaya ruangan terkesan lebih luas, dapur dan ruang makan dapat disatukan. Untuk ruangan kecil hindari dinding pembatas yang banyak karena akan mempersempit ruangan.

Tahap 3

Pada tahap ini terjadi penambahan ruang untuk pembantu yang ditempatkan di bagian belakang. (kamar pembantu terletak di bagian atas, lihat denahnya di tahap 4)

Tahap 4

Pada tahap ini lantai dasar sudah tidak bisa dikembangkan lagi. Arah pengembangan terpaksa ke atas. Di lantai atas ditempatkan dua kamar tidur plus KM/WC. Sedangkan dapur + ruang makan dipindahkan ke bagian belakang untuk menampung anggota keluarga yang semakin membesar.

Nukilan - Kisah Teladan-Untuk Cermin Kita


Sumber:http://www.kickandy.com/corner/

Suatu hari, seorang teman lama menelepon saya. Dia menceritakan kisah yang membuat hati saya tersentak lalu tergerak. Cerita tentang istri almarhum mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Menurut teman saya, ketika Pak Hoegeng masih hidup, dia pernah berjanji suatu hari kelak, jika punya uang, dia akan mengajak istrinya ke Hawai, Amerika Serikat. Mengapa Hawai? Karena mereka berdua begitu mencintai lagu-lagu “irama lautan teduh”.

Hoegeng dan Merry Roeslani, sang istri, sejak muda memang sangat menyukai musik hawaian. Kecintaan pada jenis musik tersebut mendorong mereka menghidupkan kembali kelompok musik Hawaian Seniors yang dulu pernah dibentuk Hoegeng semasa remaja. Mereka bahkan tampil sebulan sekali di TVRI dan merupakan program yang sangat diminati pada tahun 1970-an.

Namun apa mau dikata. Sebelum janji itu bisa dipenuhi, sang jenderal yang jujur dan sederhana itu lebih dulu dipanggil Tuhan. Hoegeng pergi selama-lamanya tanpa sempat mengajak sang istri menginjak pasir Waikiki Beach di Hawai yang terkenal itu. Hoegeng juga tak pernah sempat mengajak Merry melihat penari hula-hula asli di pulau tersebut. Karena itu, saya bisa membayangkan betapa sedih hati Ibu Merry.

Bagi Anda yang mungkin lupa, selama menjadi Kapolri, Pak Hoegeng setiap akhir bulan tampil bermain musik bersama Hawaian Seniors membawakan lagu-lagu irama lautan teduh. Duet Hoegeng dan Merry sanggup menyihir penonton televisi pada tahun 1970-an.

Bahkan penampilannya di TVRI waktu itu terus berlanjut walau Pak Hoegeng sudah pensiun. Hingga pada 1978, Hawaian Seniors “dicekal” tidak boleh tampil di TVRI oleh penguasa Orde Baru. Tidak pernah jelas mengapa. Alasan “resminya” karena acara tersebut dinilai tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Tetapi diduga pencekalan itu berkaitan dengan keikutsertaan Pak Hoegeng menandatangani “Petisi 50” yang berisi kritikan keras terhadap Pak Harto.

Pencekalan terjadi setelah Pak Hoegeng, Ibu Merry, dan Hawaian Seniors sepuluh tahun tampil menghibur di TVRI. Waktu yang cukup lama. Tetapi, percaya atau tidak, selama itu pula belum pernah sekalipun Ibu Mery menginjakkan kakinya di pasir Waikiki Beach yang terkenal itu. Padahal, sebagai Kapolri, Pak Hoegeng sudah pernah tiga kali bertugas ke Amerika dan sempat mampir di Hawai.

Ibu Merry tidak pernah ikut karena Pak Hoegeng memiliki prinsip yang sangat teguh: selama melakukan perjalanan dinas, istri dan anak-anak tidak boleh ikut “numpang” fasilitas kantor “Dia tidak pernah mengijinkan saya dan anak-anak memanfaatkan kesempatan menggunakan fasilitas dinas,” ungkap Ibu Mery. “Sementara untuk beli tiket dengan uang sendiri kami tidak mampu.”

Ironis memang. Sulit dipercaya ada orang sejujur Pak Hoegeng di negeri ini. Tak heran jika kemudian muncul idiom: Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang jujur. Polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Begitu jujurnya sampai ketika meninggal tak banyak harta benda yang dia tinggalkan untuk keluarganya. Bahkan setelah 32 tahun mengabdi di kepolisian, uang pensiun yang diterima Pak Hoegeng cuma Rp 10 ribu.

Kawan saya menilai kisah tentang Ibu Mery tersebut layak diangkat di Kick Andy. Agar banyak pihak terbuka matanya bahwa di negeri ini ada sebuah ironi. Ironi kehidupan seorang pejabat yang jujur dan seorang istri yang tabah.

Setelah mendengar kisah tentang Pak Hoegeng dan Ibu Merry, ada “panggilan” yang begitu kuat di dalam dada. Panggilan untuk mewujudkan mimpi Ibu Merry. Mimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Pantai Waikiki. Dalam usianya yang sudah di atas 80 tahun, mungkin ini permintaan terakhir yang akan dikenangnya sebelum Tuhan memanggilnya.

Tapi, jujur saja, saya sempat ragu apakah bisa mewujudkan mimpi tersebut. Terutama ketika mendengar cerita bahwa sudah dua kali Ibu Merry ditolak ketika mengajukan visa ke kedutaan besar Amerika Serikat. Tak ada penjelasan mengapa permohonannya ditolak. Sejak penolakan yang kedua, Ibu Merry sudah mengubur dalam-dalam impiannya untuk bisa melihat Hawai.

Saya mencoba menghubungi pihak kedutaan Amerika dan menjelaskan keinginan saya untuk membantu Ibu Merry guna mendapatkan visa. Saya berusaha menjelaskan siapa Pak Hoegeng dan kisah tentang mimpi Ibu Merry untuk bisa menginjakkan kaki di pulau yang selama ini hanya dikenalnya melalui gambar dan cerita-cerita orang.

Pihak kedutaan Amerika mengatakan tidak berjanji dapat mengabulkan permintaan saya itu. Mereka menegaskan adanya peraturan keras dari pemerintah Amerika yang tidak pandang bulu. Saya katakan kepada mereka saya bisa memahami dan tidak akan memaksa. Saya hanya ingin menyenangkan hati seorang wanita luar biasa yang selama hidupnya banyak mengalami kepahitan hidup. Apa salahnya di ujung hidupnya, sekali ini, dia dapat mereguk kebahagiaan. Apalagi ada kemungkinan ini adalah “last wish” atau permintaan terakhirnya.

Akhirnya, kisah tentang Pak Hoegeng, Hawaian Senior, dan Ibu Merry saya angkat di Kick Andy. Pada bagian akhir acara, kepada Ibu Merry saya tanyakan tentang apa keinginannya yang belum terwujud. Dengan suara pelan, sembari menghela nafasnya, Ibu Merry bercerita tentang kerinduannya untuk bisa ke Hawai. Kerinduan yang sudah dikuburnya.

Dua kali visanya ditolak dan keuangan yang terbatas, membuatnya pasrah. Dia juga harus mengubur impiannya untuk bertemu dengan sahabatnya Mukiana, perempuan asal Hawai, yang sangat dirindukannya. Sudah tiga puluh tahun lamanya mereka tidak berjumpa. Mukiana pernah tinggal di Indonesia selama enam tahun dan bersama-sama menari dan bernyanyi di acara Hawaian Seniors.

Di ujung acara Kick Andy saya menyambungkan hubungan telepon antara Keala Mohikana dan Ibu Merry. Tampak Ibu Merry terkejut mendapat sambungan langsung dengan sahabat yang dirindukannya itu. Ibu Merry lalu menanyakan kapan Keala Mohikana bisa ke Jakarta. Tapi, pada pertengahan pembicaraan, tiba-tiba Keana Mohikana muncul dari balik panggung. Ibu Merry tertegun seakan tak percaya. Sahabatnya itu kini berada tepat di depannya. Kedua wanita tua itu lalu saling berpelukan melepas rindu.

Belum sempat Ibu Merry meredakan rasa harunya, tiba-tiba Aditya, putra Ibu Merry, mengeluarkan visa dari kantongnya. Tuhan maha besar. Kedutaan Amerika kali ini meloloskan Ibu Merry dan juga Aditya untuk masuk wilayah Amerika. Mereka berdua mendapat visa!

Selesai sampai di situ? Belum. Kepada Ibu Mery, saya serahkan sebuah amplop. Isinya kemudian dibaca oleh Ibu Merry: tiket pulang pergi Jakarta-Hawai-Jakarta. Maka sempurnalah perjuangan saya, teman saya, dan Aditya untuk memberikan “hadiah” paling indah dalam hidup Ibu Merry, yakni kesempatan pergi ke Hawai.

Sejumlah penonton di studio tak kuasa menahan haru. Mereka menitikan air mata. Apalagi saat Aditya menunjukkan visa dan kemudian Ibu Merry menerima tiket ke Hawai yang dipersembahkan Surya Paloh, pemilik Metro TV.

Seusai rekaman Kick Andy, semalaman saya tidak bisa tidur. Hati rasanya bahagia sekali. Semua upaya dan jerih payah terbayar sudah. Kalau melihat ke belakang, rasanya semua itu tidak mungkin terjadi. Mulai dari upaya teman saya mendatangkan Mukiana ke Jakarta, usaha untuk mendapatkan visa yang sudah dua kali ditolak, sampai tiket ke Hawai pemberian Surya Paloh, semua berjalan tanpa hambatan. Tuhan maha besar.

Senin, 21 September 2009

LULUSAN PhD- Jadi Sopir


Lulusan PhD Stanford Itu, Kini Jadi Sopir
Sunday, 13 September 2009 10:46tullah.com
Diunduh dari: www.hidayahtullah.com


Kisah ini dapat menjadi teladan bagi kita bahwa gelar, titel, dan apapun embel-embel dibelakang nama kita sebenarnya bukan apa2..kita tidak dituntut memiliki gelar tapi tidak memiliki nilai plus yaitu manfaat bagi orang lain siapapun mereka, kita lihat person bangsa ini yang masih sibuk menguber gelar akademis tapi tidak ada perubahan pada kemajuan walau pun itu ada kemajuan itu lambat dan sering timbul konflik interest,karena yang mereka pelajari hanya ilmu dimeja kuliah tapi bukan ilmu kehidupan yang benar-benar realita yang sebenarnya dibutuhkan buat negeri ini atau tujuan hanya untk mengejar materi saja (karir, pangkat jabatan,status, harta kedudukan) , di sini orang masih demam gelar (S1, S2, S3) karena didukung lembaga pendidikan yang sengaja menciptakan gelar dengan kelulusan serba Instan tapa harus bersusah payah (tanpa proses belajar sebenarnya), banyak dari mereka lupa tugas yang harus diemban dibalik gelar tersebut. Maka penulis meniru kata-kata yang ada di media iklan TV "Tanya Ken Napa?"..coba kita simak kisah ini yang kami ambil dari sumber yang dapat dipercaya,yang semoga dapat menjadi pelajaran dan pemikiran kita semuanya.bahwa ternyata komitmen, integritas, dan kejujuran diatas segala-galanya, bukan hanya kemauan mengejar materi yang tidak akan ada habisnya dan kata kunci adalah Change (perubahan) yang dapat memutar balikkan kenyataan yang ada selama ini.

Kehidupan akan ada pasang surut dan perubahan (Change) yang selalu melesat terus seiring dengan kepintaran manusia dalam memenuhi kebutuhanya dengan dukungan manajemen yang mengikuti teknologi, selera pasar, trend, sosial kultural, perkembangan ke ilmuan, cara berpikir dan sebagainya.Tidak ada manusia di bumi ini yang sanggup tetap bertahan dengan prinsipnya sendiri jika tidak mampu merubah pola pikirnya (mind set)maka dia akan kelihatan seperti Dinosaurus yang kuat,besar, ganas tapi akhirnya hilang (punah) dari peredaran, oleh karena itu paradigma lama harus disesuaikan dengan perubahan yang ada dengan tetap memegang teguh nilai Agama dan moralitas, karena adanya filter akan membuat kita kuat di tengah perubahan dunia ini yang cenderung sekular dan orientasi pada bisnis semata..mari kita simak kisah ini semoga bermanfaat terima kasih.


Ia telah menghabiskan 16 tahun sebagai peneliti di Institute of Molecular and Cell Biology (IMCB). Tapi akhirnya, nasib menjadikannya seorang sopir

Hidayatullah.com—Cai Mingjie tak pernah berpikir sebelumnya jika kehidupannya berbalik 180%. Maklum, pria berkacamata ini sebelumnya adalah seorang ilmuwan dengan reputasi bagus. Pendidikan terakhir PhD bidang biokimia diselesaikan dari universitas ternama, Stanford University.

Namun pria yang pernah menjadi kepala peneliti bidang genetika sel di IMCB ini pergi meninggalkan institusi bergengsi itu dan memilih menjadi sopir taksi.

"Saya dipaksa keluar dari pekerjaan riset di saat karir saya berada di puncak, dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain dengan alasan yang hanya bisa saya katakan sebagai "keunikan dari Singapura," ujarnya dalam sebuah situs blog miliknya.

“Akibatnya, saya mengemudi taksi untuk membuat hidup dan menulis kisah kehidupan nyata ini hanya untuk membuat pekerjaan yang membosankan sedikit lebih menarik. Saya berharap bahwa kisah-kisah yang menarik untuk Anda juga, " ujar Dr. Cai.

Berita mengenai Dr. Cai ini sangat mengejutkan masyarakat Singapura, sebuah negara yang tingkat kemajuan pendidikan dianggap tinggi dan tidak diragukan lagi.

Seorang pekerja kerah putih yang sangat terkejut mengatakan, sebelumnya ia sangat yakin bahwa gelar setingkat doktoral dan pengalaman segudang merupakan jaminan untuk memiliki pekerjaan yang mapan dan kesuksesan abadi.

"Jika ia akhirnya harus menjadi sopir taksi, maka kesempatan apa yang dimiliki orang-orang biasa seperti kami ini?" tanyanya.
Saya pernah bertemu dengan sejumlah sopir taksi yang memiliki kualifikasi tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini, termasuk mereka yang dulunya adalah manajer dan insinyur.

Seorang sopir yang ceria, suatu hari mengejutkan saya karena memberikan penjelasan lengkap mengenai saham apa yang sebaiknya dibeli dan mana yang harus dihindari. Ternyata ia dulunya seorang pialang saham.

"Pada masa seperti sekarang ini, mungkin hanya bisnis taksi yang masih aktif menerima pegawai di Singapura, kata Dr. Cai.
Bagi saya, perubahan hidup Dr. Cai itu membawa Singapura ke dalam babak baru.

"Saya mungkin satu-satunya sopir taksi dengan gelar PhD dari Stanford dan memiliki pengalaman yang diakui dibidang sains..." tulis Dr. Cai dalam blog nya.

Gelar Doktoral

Kisahnya Dr. Cai ini segera menyebar di dunia maya. Kebanyakan orang Singapura menyatakan penghargaan mereka atas kemampuannya beradaptasi begitu cepat dengan kehidupan barunya. Dua orang pemuda Singapura menanyakan nomor taksinya, berkata bahwa mereka akan sangat senang sekali jika bisa berkeliling dengan taksinya dan berbincang-bincang.

"Banyak (pelajaran) yang bisa ia berikan kepada saya," kata seseorang.

Lainnya bertanya, mengapa ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan mengajar, mengingat pengalaman ilmiahnya yang begitu mengagumkan.

Keluarnya ia dari pekerjaan lama sebenarnya lebih disebabkan karena alasan pribadi (ia dituduh membuat kekacauan oleh para pemimpin penelitian), dan bukan karena lesunya proyek bidang bioteknologi di Singapura, yang masih bisa bertahan di masa krisis ini.

Kasusnya iitu menjadikan kelemahan umum di bidang R and D (research and development) Singapura mendapat sorotan.

"Kondisi ekonomi yang buruk artinya tidak banyak perusahaan yang mampu membayar ilmuwan profesional," kata seorang peselancar dunia maya. "Gelar akademik tidak banyak membantu--sejarah membuktikan banyak orang yang bergelar PhD berburu mencari pekerjaan."

Sementara citra sopir taksi menjadi terdongkrak tinggi, tidak demikian keadaannya dengan proyek biomedika Singapura, khususnya upaya mereka untuk menumbuhkan bibit talenta peneliti baru di dalam negeri.

"Semakin banyak orang Singapura yang menjauh dari karir di bidang sains," kata seorang blogger.

Seseorang menulis, "Menurut saya, gelar PhD tidak berguna, terutama di Singapura. Itu hanya selembar sertifikat, tidak lebih."
Lainnya menambahkan, "Di Amerika Serikat keadaannya lebih parah. Banyak yang datang ke sini untuk mencari pekerjaan."

"Saya tidak ingin anak saya bertahun-tahun sekolah akhirnya hanya menjadi sopir taksi," kata seornag ibu rumah tangga yang memiliki putri remaja.

Kasus yang menimpa warga negara Singapura, yang menjalani penelitian PhD-nya di Universitas Stanford dengan subyek penelitian seputar protein pengembang itu, sebenarnya tidak unik.

Ilmuwan peneliti Amerika, Douglas Prasher, yang berhasil mengisolasi gen yang bisa menghasilkan protein bersinar hijau--dan baru saja gagal meraih penghargaan Nobel 2008, menghadapi situasi yang sama.

Prasher pindah dari sebuah lembaga penelitian ke lembaga lain ketika dana penelitiannya habis. Pada akhirnya ia berhenti menggeluti sains, dan beralih menjadi sopir antar-jemput di Alabama.

"Meskipun demikian, ia tetap rendah hati dan bahagia dan kelihatan senang dengan pekerjaan mengendarai minivan-nya," kata seorang peselancar internet.

Dengan berubahnya pasar dunia kerja yang tersedia, dan semakin banyaknya pemilik usaha yang menginginkan beberapa pekerjaan bisa dilakukan oleh satu orang dengan kontrak kerja yang singkat, maka semakin banyak orang Singapura yang mengejar gelar yang berbeda. Misalnya akuntansi dengan hukum atau komputer dengan bisnis.

Sebagian orang mulai menghindari gelar pascasarjana atau bidang-bidang ilmu khusus. Mereka lebih memilih bidang keilmuan yang lebih umum atau lintas sektor.

"Pengalaman adalah raja," itulah semboyannya sekarang. Dan orang-orang berbondong-bondong mencari tempat magang tanpa bayaran.
"Di masa datang, yang dibutuhkan adalah para lulusan dengan keterampilan yang beragam dan karir yang fleksibel, orang-orang yang bisa menyesuaikan diri dengan berbagai pekerjaan yang berbeda," kata seorang pengusaha.
Selama beberapa tahun terakhir, di mana globalisasi semakin dalam, ada ketidaksinkronan antara apa yang dipelajari oleh orang Singapura di universitas dengan karir yang dijalaninya.

Singapura mengikuti tren di dunia maju, di mana bisnis-bisnis lama bisa hilang sekejap dalam satu malam, kemudian muncul bisnis yang baru, yang menjadi masalah bagi mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri.

Saya mengenal seorang pemuda, insinyur sipil dari universitas terkemuka di Amerika, yang menelantarkan dunia konstruksi untuk menggeluti dunia mengajar.

Seorang insinyur lainnya yang saya temui, mengurus kedai kopi ayahnya yang sangat menguntungkan. Lainnya, pengacara yang kemudian menjadi musisi atau jurnalis, dan lain sebagainya.

Kasus di mana orang-orang melakukan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan mereka, semakin hari semakin banyak. Sehingga para pewawancara yang menanyai calon pegawai tidak lagi bertanya, "Mengapa seorang ilmuwan berpengalaman seperti Anda mau bekerja sebagai pegawai tingkat rendah?"

Di masa lampau orangtua pusing memikirkan bidang studi apa yang harus ditempuh oleh anaknya, akuntansi atau hukum atau teknik, bidang-bidang yang menjanjikan kesuksesan. Dan mereka akan menentukan satu bidang, dan terus mengejar dan menggelutinya hingga menjadi profesi.
Seorang dokter akan bekerja menjadi dokter, seorang ahli biologi akan bekerja di laboratorium, dan pengacara akan sibuk berdebat di pengadilan.

Dr Cai adalah pria kelahiran China yang kemudian menjadi warga negara Singapura, setelah memperoleh PhD dalam bidang biologi molekuler dari Universitas Stanford tahun 1990. Dia bergabung IMCB dua tahun kemudian dan bekerja sebagai kepala peneliti di bidang genetika sel sampai kepergiannya.

Ia dihentikan dari di Institut Molekuler dan Biologi Sel (IMCB) di ASTAR Singapore, tempat di mana dia sudah bekerja selama 16 tahundan tak dapat menjamin pekerjaan lain sampai penghentiannya bulan Mei 2008. Menjelang November 2008, dia memutuskan menjadi seorang sopir taksi.
Kini, pria dengan seambrek kurikulum vitaes dan pengalaman universitas, lembaga pemerintah dan perusahaan menjadi sopir kendaraan Toyota Crown. “Pada saat seperti ini, bisnis taksi mungkin satu-satunya usaha di Singapura yang masih aktif merekrut orang, " katanya. [di/ts/www.hidayatullah.com]

Minggu, 20 September 2009

PIKIRKAN ANDA TELAH SAMPAI DISANA


April 16th, 2009
OLEH EKO JALU SANTOSO


“Agar dapat melesat secepat kilat meraih tujuan yang Anda dambakan, mulailah dengan merasakan dalam pikiran bahwa Anda telah sampai disana. Kemudian pertajam terus kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Anda, dimanapun, kapanpun dalam situasi apapun.”



Setiap orang tentunya sudah memiliki keinginan atau dambaan yang ingin dicapainya dalam kehidupan ini. Namun seringkali banyak diantaranya yang tidak berhasil meraih apa yang diinginkannya. Bagaimana agar kita dapat cepat berhasil mencapai tujuan kita ?



Salah satu caranya adalah dengan memulai memikirkan bahwa Anda telah sampai di tujuan yang Anda inginkan. Maka sebelum Anda berhasil meraih tujuan Anda, penting bagi Anda untuk dapat “melihat bahwa Anda sudah mendapakan tujuan itu dalam pikiran Anda.” Inilah yang disebut dengan kekuatan visualisasi.



Agar dapat memvisualisasikan tujuan Anda, penting bagi Anda untuk dapat mengetahui tujuan Anda yang jelas dan tajam sejernih kristal. Anda perlu mengetahui dengan berusaha menampilkan citra yang jelas dalam pikiran Anda tentang apa yang Anda inginkan. Maka buanglah berbagi hal yang tidak Anda inginkan dari pikiran Anda, sehingga Anda dapat fokus hanya pada tujuan yang Anda pikirkan.



Setelah dapat merasakan dalam pikiran bahwa Anda telah sampai di tujuan Anda, tidak kalah pentingnya adalah berusahalah mempertajam kemampuan Anda - khususnya kemampuan yang dapat mendorong tercapainya tujuan Anda tersebut -. Pertajam terus kemampuan Anda dimanapun, kapanpun dan dalam situasi apapun. Fokuslah terus pada tindakan-tindakan yang dapat mempercepat tercapainya tujuan Anda.

SEMOGA BERMANFAAT.



Salam Sukses Mulia,

Eko Jalu Santoso | Founder Motivasi Indonesia & Majelis Al-Ihsan Indonesia

Penulis Buku THE WISDOM OF BUSINESS, Elex Media Komputindo.

KEMENANGAN SEJATI


Kemenangan sejati bukan diukur dengan kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan dinilai dari bagaimana kita mampu memberdayakan potensi yang kita miliki, untuk mencapai prestasi terbaik melampaui standar yang kita tetapkan.”

Kisah tentang seekor belalang dan seekor anjing dibawah ini adalah awal yang tepat untuk menjadi kendaraan pemahaman kita dalam memulai tulisan ini. Dikisahkan dalam sebuah perjalanan, seekor belalang bertemu dengan seekor anjing yang sombong. Anjing ini menyombongkan diri kepada belalang kecil dengan mengatakan bahwa tidak ada satupun binatang yang mampu mengalahkan lompatannya di wilayah ini. Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati si belalang kecil ini. Kemudian belalang kecil ini berani menantang si anjing, bahwa dia bisa mengalahkan lompatan si anjing dengan syarat standar ukuran kemenangannya sesuai dengan standar yang ditetapkannya.



“Apakah kamu berani melayani tantangan saya ?”, demikian kata si belalang. “Kita berlomba melompat di tempat setinggi-tingginya dan pemenangnya diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, melainkan dinilai dari berapa kali tinggi lompatan yang dilakukan dibanding tinggi tubuhnya”.



Anjing menerima tantangan belalang ini. Kemudian Anjing mendapatkan kesempatan mencoba melompat yang pertama. Hasilnya, ia ternyata berhasil melompat setinggi 2 meter atau sekitar sepuluh kali tinggi tubuhnya. Berikutnya giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi seperempat dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Siapakah pemenangnya dalam perlombaan ini ? Tentu saja pemenangnya adalah si belalang kecil. Ia mampu melompat setinggi 40 kali dari tinggi tubuhnya dibandingkan si anjing yang hanya 10 kali dari tinggi tubuhnya.



Sahabat, pada dasarnya dalam kehidupan ini setiap orang bisa menjadi pemenang, kalau ukuran kemenangannya dinilai berdasarkan standar potensi yang dimilikinya. Kemenangan sejati sesungguhnya dinilai dari seberapa besar usaha yang telah kita lakukan berdasarkan potensi yang kita miliki untuk mencapai prestasi yang terbaik. Demikian juga dalam pekerjaan, hidup dan bisnis, Anda dan saya memiliki potensi masing-masing yang dapat ditingkatkan untuk mencapai prestasi kemenangan tertinggi sesuai standar yang kita tetapkan. Ukuran keberhasilan tidak selalu membandingkan dengan orang lain, melainkan dapat dinilai dari seberapa besar potensi yang telah kita miliki untuk mencapai prestasi terbaik kita. Maka membandingkan ukuran keberhasilan diri kita dengan pencapain kesuksesan orang lain adalah tidak bijaksana.



Kemenangan sejati sesungguhnya adalah bagaimana kita telah memberdayakan potensi kemampuan kita untuk meraih prestasi yang lebih baik dalam berbagai bidang kehidupan, seperti dalam kesehatan, kekayaan hati, kekayaan spiritual, kekayaan materi, keberhasilan prestasi kerja dan prestasi bisnis, dalam hal kemajuan dalam kehidupan keluarga, maupun memberikan konstribusi kebaikan bagi sesama dan kehidupan.



Marilah kita bertanya kedalam diri kita sendiri:
- Apakah hari ini saya sudah melakukan sesuatu yang lebih baik dibandingkan hari kemarin ?
- Apakah bulan ini saya sudah meraih prestasi lebih baik dibandingkan bulan lalu ?
- Apakah tahun ini sudah meraih prestasi lebih meningkat dibandingkan tahun lalu ?

Tentu saja ukurannya jangan hanya dinilai dari pencapain materi dunaiwi semata, melainkan dapat dinilai dari peningkatan kekayaan spiritual dalam diri kita. Ukurannya bisa, Apakah sudah lebih bijaksana, apakah sudah lebih meningkat dalam kehidupan spiritual, dalam kehidupan karier dan pekerjaan, dalam kehidupan bisnis, dalam pergaulan dan kemasyarakatan ? Apakah sudah meningkat dalam memberikan konstribusi dan manfaat kepada orang lain, dalam memberikan bantuan dan manfaat kebaikan bagi orang lain ? Dan tentu saja masih banyak lagi standar ukuran sesuai dengan potensi yang kita miliki.


Dalam pandangan Anthony Robbins seringkali diosebutkan dengan “Constant Action Never Ending Improvement”, sedangkan saya pribadi lebih senang menyebutkannya dengan “continues learning and never ending improvement.” Itulah prinsip memberdayakan potensi untuk meraih keberhasilan sejati.


Dari pada membanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain, lebih baik memulai melakukan evaluasi kedalam diri, kemudian melakukan perubahan-perubahan dari dalam diri kita sendiri. Menyusun kembali langkah-langkah pengembangan diri kita kedepan dengan prinsip “ continues learning and never ending improvement.” Bagaimana agar kedepan kita menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih kaya hati, memiliki sikap empti, lebih banyak memberikan kontribusi kebaikan, mampu lebih meningkatkan prestasi kerja, meningkatkan kualitas kehidupan spiritual dalam diri dan lain sebagainya. SEMOGA BERMANFAAT.



Eko Jalu Santoso | Founder Motivasi Indonesia | Penulis Buku “HEART REVOLUTION: REVOLUSI HATI NURANI” dan “THE WISDOM OF BUSINESS”, Elex Media Komputindo.